
Lokasi dan objek yang sama sering kali dapat berubah total hanya karena kondisi cahaya yang berbeda. Sumber cahaya dari matahari memang hanya dapat kita pelajari tanpa mampu kita kendalikan. Sabar menunggu saat yang tepat adalah merupakan solusi terbaik. Donovan Dennis (FS)
Bagi mereka yang sering melakukan pemotretan di alam terbuka tentunya sangat mementingkan kualitas cahaya dan cuaca pada saat pemotretan. Hal ini berlaku pada setiap jenis pemotretan di udara terbuka, baik pemotretan landscape, perkotaan, atau portrait dengan menggunakan cahaya natural. Memotret saat cuaca cerah dengan sinar matahari yang berlimpah tentunya sangat nyaman. Akan tetapi, bila langit tak berawan dan matahari terik ,juga bisa memadamkan semangat memotret, terutama pada kondisi global warming seperti sekarang ini.
Banyak fotografer yang justru mendapatkan karya yang dramatis pada saat cuaca buruk dan cahaya matahari terbatas. Hal ini didukung pesatnya teknologi digital yang mampu menghasilkan gambar yang bersih pada ISO yang tinggi.Metode klasik dengan tripod juga masih dapat diandalkan demi mengatasi kondisi cahaya yang kurang.
Salah satu aspek yang sulit kita hindari adalah besarnya objek yang akan kita abadikan. Jika kita akan melakukan foto portrait pada orang, penggunaan reflektor akan berpengaruh besar untuk mengurangi kontras cahaya. Dilain pihak, pada saat kita memotret landscape dan panorama perkotaan, kita benar-benar bergantung kepada cahaya matahari.
Kebergantungan kita pada cahaya matahari sangat besar. Adanya awan kecil yang menudungi dapat membalik membuat suasana terbalik seketika. Pada saat memotret matahari terbenam, terlambat beberapa menit saja dapat mengubah nuansa warna warni yang begitu indah menjadi sekumpulan awan berwarna abu-abu gelap yang sama sekali tidak menarik. Sudah menjadi tugas fotografer untuk menelaah dan memprediksi setiap perubahan cahaya yang akan terjadi sepanjang pemotretan.
Contoh Konkrit dari Latihan
Foto-foto di artikel ini menunjukkan pengaruh cahaya terhadap objek tertentu dan efek sinar matahari dalam waktu yang berbeda setiap hari. Kunci keberhasilan terpenting adalah kesabaran, meskipun hal tersebut sering kali tidak mudah dilakukan, apalagi saat kita sedang mengikuti tur.
Sinar Matahari Langsung
Teori tentang “Golden Hour“ sering kali membuat fotografer menghindari pemotretan di tengah hari bolong. Walaupun melakukan pemotretan di siang hari, Anda tetap bisa mendapatkan foto yang baik jika dilakukan dengan cara yang tepat.
Trik Menghindari Refleksi


Jeda antara kedua foto tersebut hanya berkisar setengah menit. Dengan pemandangan yang mirip dengan nuansa Hawaii, fotografer dapat dengan mudah menentukan apakah pemandangan tersebut layak untuk ditunggu atau tidak. Perbedaan waktu yang cukup singkat itu membawa perbedaan yang jauh pada foto. Foto pertama terkesan suram dibandingkan dengan foto kedua yang cerah dan kental dengan suasana liburan. Suasana liburan tersebut diperkuat dengan warna-warna “hangat“ pada pencahayaan. Anda dapat memperkuat efek warna ini di Photoshop atau melalui RAW converter (kata kunci: white balance, color temperature). Fotografer travel telah menikmati efek dari tips menggunakan filter jenis ini sejak dulu dan masih tetap berlaku sampai sekarang.


Terlalu Ideal: Pada posisi matahari di belakang kamera, exposure dapat mudah ditentukan secara Auto (A) atau secara Program (P).

Eksposur yang Cermat
Patung singa ini memiliki warna abu abu gelap dan memiliki permukaan yang mengkilap sehingga menimbulkan pantulan cahaya yang keras. Usahakan agar tidak muncul warna putih putih tanpa detail. Kamera saat ini sudah banyak yang bisa menampilkan area yang over dan under pada layar LCDnya.
>> Seri 1 selesai. Nantikan “Berada pada Cahaya yang Tepat – Seri 2″
Sumber: CFVD 05/2010
Link: Artikel terbaru di CHIP Online
CHIP Online Team
Waw menarik sekali pak…
tapi kok nama global warming dibawa2, memang ada bedanya?