
Untuk mempertahankan tahtanya sebagai produsen kamera dengan pangsa pasar terbesar, Canon meluncurkan EOS 550D untuk menggantikan posisi EOS 500D. Sebagai DSLR kelas menengah, yang berada satu kelas di atas DSLR entry level, kamera tersebut ditawarkan dengan harga yang kompetitif. Apalagi, saat dilihat dari spesifikasinya, fitur yang ditawarkan EOS 550D hampir mirip dengan EOS 7D. Padahal, harga EOS 7D hampir dua kalinya. Akan tetapi, kedua kamera tersebut memiliki konsep pengoperasian yang jauh berbeda karena keduanya bermain di kelas yang berbeda pula.
Dibandingkan dengan pendahulunya, desain bodi EOS 550D tidak banyak mengalami perubahan. Canon hanya menambahkan tombol baru untuk perekam video sebagai satu-satunya perubahan pada desain bodi. Rupanya, Canon lebih menitikberatkan pada sisi dalam kamera sehingga kamera baru tersebut dapat bersaing dengan para kompetitor di kelasnya. Read the rest of this entry »

Saat ini, camcorder yang membanjiri pasar adalah camcorder yang mampu merekam video Full HD dengan resolusi 1920×1080. Rekaman dengan resolusi sebesar itu tentunya membutuhkan media penyimpanan yang sangat besar. Camcorder dengan media dvd tentunya tidak dapat merekam Full HD dengan durasi yang lama, sedangkan camcorder dengan media harddisk masih rentan dan tergolong berat. Oleh karena itu, keputusan Canon untuk fokus pada teknologi flash memory sangatlah tepat. Karena teknologi flash memory sekarang sudah jauh lebih maju, sehingga sudah dapat menampung kapasitas sampai dengan puluhan gigabyte, yang artinya bisa untuk merekam Full HD selama berjam-jam. Read the rest of this entry »

Lensa ultrazoom dengan zoom belasan kali dan tele panjang sudah banyak tersedia. Karena itu, Tokina mencoba inovasi baru. Bukan lebih panjang, tapi lebih lebar. Pramanaya
Enam belas setengah seratus tiga lima milimeter. Itulah cara paling singkat untuk mendeskripsikan tipe lensa ini. Focal lengthnya terasa aneh karena bukan angka bulat. Namun terlepas dari itu, Tokina AT-X 16,5-135mm DX adalah lensa yang menarik. Read the rest of this entry »

Kami menyangka lensa makro dengan aperture f/2 hanya sebuah gimmick marketing. Ternyata, lensa Tamron ini merupakan salah satu lensa terbaik yang pernah kami coba. Pramanaya Tjokronegoro
Dua bidang fotografi yang banyak digemari akhir-akhir ini adalah portrait dan makro. Lensa terbaru dari Tamron, 60 mm f/2 Macro, menjanjikan memenuhi keduanya dalam satu lensa. Hampir semua lensa makro yang tersedia saat ini memiliki aperture maksimal f/2.8 atau lebih kecil. Karena itu, lensa ini memiliki keunggulan satu stop lebih cepat dari pesaingnya. Namun, ternyata lensa ini memberikan lebih banyak lagi. Read the rest of this entry »

Tidak banyak orang yang mengerti mengapa seseorang rela mengeluarkan banyak uang untuk sebuah kamera yang tidak memiliki autofokus seperti Leica M. Kami pun bertanya-tanya. Untuk mencari jawabnya, CFVd mencoba Leica M9. Pram Tjokronegoro
Kamera ini terasa berat di tangan. Bobotnya sebenarnya tidak terlalu berat, setara dengan DSLR kelas pemula. Namun, bentuk Leica M9 yang rata tanpa grip sama sekali mempersulit handling. Bentuk ini hampir tak diubah dari bentuk M6 25 tahun lalu untuk mempertahankan originalitas. Dan penggemar Leica begitu menyukainya sampai rela membelinya, meskipun harganya mahal.
Read the rest of this entry »

Mengikuti permintaan pasar, Olympus meluncurkan tipe kamera Micro Four-Thirds yang dilengkapi internal flash. Tetapi di luar perkiraan, ternyata kamera tersebut memiliki banyak feature profesional. Pramanaya
Rumor mengenai kamera Pen Digital yang dilengkapi flash sudah lama beredar di banyak situs. Menjelang peluncurannya, spesifikasi lebih detail mulai terkuak, yaitu bahwa tipe ini adalah seri baru untuk pengguna pemula. Banyak pengguna E-P1 dan E-P2 menyangka bahwa tipe terbaru ini akan “dikebiri” feature-featurenya karena harganya lebih terjangkau. Namun tak dinyana, kamera yang bernama E-PL1 ini memiliki nyaris semua feature pada E-P2 ditambah beberapa feature baru.
Read the rest of this entry »


EOS seri 1D sangat terkenal di kalangan foto jurnalis sport. Tetapi, 1D Mark III mengalami permasalahan pada autofokusnya. Bagaimana dengan penerusnya? Pramanaya
Kami masih ingat saat pertama kali mencoba EOS 1D Mark IV beberapa bulan lalu. Saat itu, CFVd mendapat preview kamera tersebut sebelum tanggal peluncurannya. Ada banyak pengembangan baru pada sistem autofokus dan sensor. Namun, kami cukup dibingungkan dengan feature perekaman videonya. Mengapa sebuah kamera profesional yang populer di kalangan foto jurnalis perlu feature movie? Pengguna kamera ini tentu merupakan fotografer profesional yang sudah bergelut lama di bidangnya. Kebanyakan dari mereka bahkan menolak dengan keras adanya feature video dalam kamera yang mereka gunakan. Read the rest of this entry »

Dalam hal kekuatan dan daya tahan, bodi Olympus MJU-Tough 6010 adalah yang terbaik. Kekuatan bodinya mampu melindungi kamera saat jatuh dari ketinggian 1,5 m. Namun yang paling penting, bodi kamera ini dirancang untuk pemotretan di situasi ekstrem. Anda dapat melakukan pemotretan di bawah air tanpa harus menggunakan water case lagi. Semua celah kamera sudah dilindungi dengan seal antiair dengan sangat baik. Namun, sebagai kamera saku, dimensi kamera ini terbilang cukup besar sehingga kurang nyaman saat disimpan ke dalam saku.
Dalam hal mekanisme pengoperasian, MJU-Tough 6010 dari Olympus mempertahankan konsep lama. Hampir semua parameter penting kamera memiliki tombol tersendiri. Walaupun terkesan sedikit kuno, konsep ini masih yang paling nyaman dan mudah digunakan. Tombol putar untuk mode pemotretan terasa lebih lazim untuk pengguna pemula. Menu untuk kompensasi pencahayaan, autofokus, flash, dan timer diatur lewat tombol Cross Menu. Sedangkan pengaturan ISO, white balance, metering, dan resolusi diatur lewat Function.
Read the rest of this entry »

Kalau hanya melihat bodinya, dimensi Kodak EasyShare M381 memang kurang menarik. Dibanding kamera digital saku yang banyak beredar saat ini, ukurannya terlalu besar. Dengan panjang lebih dari 10 cm dan tebal 2 cm, kamera ini tidak nyaman kalau disimpan ke dalam saku.
Daya tarik yang ditawarkan kamera ini terletak pada resolusi, lensa, dan layar LCD-nya. Dengan resolusi efektif 12,4 Megapixel, resolusi M381 sedikit di atas rata-rata. Lensanya ditawarkan dengan kemampuan 5x zoom optik. Cakupan lensa yang luas membuatnya cocok digunakan dalam perjalanan. Sayangnya, M381 tidak dilengkapi dengan sisi wide angle. Sedangkan layar LCD-nya sudah menggunakan standar 3,0 inci. Untuk menghemat konsumsi baterai, kecerahan LCD dapat diatur ke mode “Power Save”. Read the rest of this entry »

Casio EX-G1 adalah salah satu kompetitor dari MJU-Tough 6010. EXG1 juga dirancang untuk pemotretan di situasi ekstrem. Kamera ini juga dilengkapi dengan bodi yang kokoh dengan feature tahan air. Yang membedakannya dengan MJU-Tough 6010, EX-G1 memiliki dimensi yang jauh lebih tipis dan bobot yang lebih ringan. Karena itu, EX-G1 terasa nyaman saat disimpan ke dalam saku. Kamera ini juga memiliki tampilan yang cukup cantik. Sayangnya, lensanya tidak dilengkapi dengan proteksi yang memadai. Karena itu, Anda perlu lebih berhati-hati saat menyimpan kamera ini supaya optik bagian depannya tidak sampai tergores.
Casio menerapkan konsep pengoperasian yang lebih sederhana pada EX-G1. Parameter kamera yang dapat diatur sangat terbatas. Bahkan, fasilitas untuk mengatur white balance dan kompensasi pencahayaan yang biasa ditemukan pada kamera digital saku pun tidak tersedia. Parameter yang bisa diatur hanya sebatas resolusi, metering, flash, dan ISO. Bisa dikatakan, EX-G1 adalah kamera dengan konsep otomatis. Read the rest of this entry »