
Begitu dinyalakan, kami langsung menyukainya dan sangat ingin menyebut Sony TX1 sebagai kamera terbaik untuk bertamasya karena berbagai kelebihannya. Namun, ada beberapa hal yang mengganjal. Pramanaya
Sesuai ciri khas seri T Sony lainnya, TX1 dilengkapi layar sentuh dan form factor yang sangat tipis. Menunya sangat intuitif dengan tampilan yang menarik dan tak sulit dipelajari. Memang, kami merasa sedikit jeda jika dibandingkan dengan seri T sebelumnya dan kamera layar sentuh merk lain. Namun, TX1 tetap sebuah kamera yang cukup nyaman dibawa dengan feature menawan. Read the rest of this entry »

Hitam: Salah satu art filter yang menarik adalah Grainy B&W
Olympus Pen E-P2 lebih dari sekedar penambahan electronic viewfinder. Ada beberapa feature yang ditambahkan sesuai masukan dari pengguna E-P1. Pramanaya
Banyak yang kami sukai dari produk Micro Four-Thirds pertama Olympus, E-P1. Kemudian Panasonic memperkenalkan GF1, kamera dengan form factor setara yang dilengkapi electronic viewfinder, dan kami juga menyukainya. E-P2 disebut-sebut sebagai perlawanan dari Olympus untuk Panasonic GF1 karena jarak peluncurannya relatif dekat dengan E-P1. Namun, jika diteliti lebih dalam ternyata E-P2 bukan hanya “E-P1 berviewfinder”. Ada penyempurnaan dari pendahulunya berupa beberapa feature kecil namun penting. Read the rest of this entry »
Canon PowerShot seri “S” yang legendaris kembali hadir. Kini, kamera ini membawa konsep pengendalian baru. Pram Tjokronegoro

Multifungsi: Anda dapat mengubah fungsi ring depan melalui tombol ini.
Canon PowerShot seri “S” dapat dikatakan sebagai Ixus yang serius. Kamera ini memiliki form factor langsing, tetapi memiliki fungsi-fungsi pro. S90, kamera seri “S” terbaru dari Canon ini dilengkapi de-ngan ring ganda multifungsi untuk mempercepat operasi pemotretan dan juga memiliki mode pemotretan manual. Read the rest of this entry »
Setelah memasuki era digital, media kaset DV kini kurang populer karena berbagai keterbatasan, sedangkan camcorder yang menggunakan harddisk sebagai tempat penyimpanan datanya masih sangat rentan jika digunakan dalam kondisi yang ekstrim. Camcorder yang menggunakan media flash memory kini menjadi salah satu pilihan utama, karena kapasitasnya yang semakin besar dan ketahanannya yang jauh lebih baik ketimbang media harddisk yang menggunakan piringan magnet.
Canon merupakan salah satu produsen yang fokus pada pengembangan camcorder berbasis flash memory. Sebelumnya Canon merilis HF20 yang menggunakan sensor CMOS 1/4 inci, begitu juga dengan HF21 yang menggunakan sensor yang sama, namun memiliki beberapa peningkatan. Read the rest of this entry »

Memang, nama Pentax mungkin bukanlah pilihan pertama bagi sebagian besar calon pembeli DSLR baru. Akan tetapi, tidak populer bukan berarti bahwa produk tersebut adalah produk yang tidak baik, bukan? Anda ingat Pentax K10D? Kamera tersebut berhasil merebut hati kami dan menjadi salah satu DSLR terbaik pada masanya.
Kali ini Pentax hadir dengan tawaran baru. Pentax K-7 adalah kamera DSLR semipro Pentax terbaru yang menjanjikan banyak perbaikan dibandingkan pendahulunya, K20D. Kami membawa kamera ini dalam sebuah perjalanan ke San Francisco, Amerika Serikat, untuk menguji kemampuannya.
Pentax K-7 hadir dengan sensor beresolusi sama dengan pendahulunya (14,6 MP), namun kini dilengkapi dengan teknologi 4-channel readout (sebelumnya hanya 2-channel). Feature ini menjanjikan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan pendahulunya. Untuk mendukung autofokusnya, Pentax menambahkan AF illuminator terintegrasi. Read the rest of this entry »
2010 akan menjadi tahun yang baik untuk Olympus karena hari ini, Rabu 3 Februari, produsen kamera terkemuka tersebut meluncurkan kamera Micro Four-Thirds (MFT) E-PL1. E-PL1 melengkapi jajaran kamera mirrorless seperti Olympus E-P2 dan Panasonic GF1. Kamera ini ditawarkan dengan harga mulai $599, tapi memiliki banyak feature profesional.

Di jaman dahulu, setidaknya sebelum era digital dimulai, hobi meneropong bintang bisa dikatakan sebagai hobi yang mewah dan sulit dilakukan oleh kebanyakan orang. Memang ada tempat peneropongan bintang, namun hanya bisa dikunjungi oleh kalangan tertentu atau harus datang berupa rombongan. Namun kini setiap orang pun bisa menerawang luar angkasa.
Kini membeli teropong bintang dapat dilakukan oleh semua orang, karena harganya relatif lebih terjangkau daripada beberapa tahun lalu. Salah satunya adalah William Optics ZenithStar 66 SD APO yang datang ke meja Redaksi CFVd. Setelah kami mencobanya cukup intensif dan mempelajari teori-teori peneropongan bintang, kami akhirnya melihat bahwa peneropongan bintang kini bisa digabungkan dengan fotografi, sehingga lebih menyenangkan.
Ada perbedaan mendasar antara dunia fotografi dengan peneropongan bintang, dalam hal ini teleskopnya. Semua satuan yang berlaku di dunia fotografi, tidak bisa sepenuhnya diterapkan. Contohnya adalah dalam melihat aspek panjang fokal lensa. Tentunya kita sudah paham, bahwa di dunia fotografi, nilai jual sebuah lensa biasanya pertama kali dilihat dari panjang fokalnya. Namun di dunia peneropongan bintang, yang biasanya ditonjolkan oleh produsen adalah nilai kelebaran diafragmanya, yang justru sering dinyatakan dengan satuan milimeter. Berhubung teropong bintang tidak memiliki mekanisme diafragma yang besar bukaannya bisa diubah-ubah layaknya sebuah lensa kamera, maka satuan kecerahan lensa dinyatakan dengan secara langsung menyebutkan nilai kelebaran jalur cahaya di dalam teropong tersebut. Dalam hal ini, William Optics ZenithStar 66 SD APO memiliki lebar diafragma 66 mm. Angka ini bukanlah diameter mulut teropong, karena bila Anda ukur, diameter mulut teropong William Optics ZenithStar 66 SD APO adalah lebih dari 72 mm. Namun bila Anda menerawang ke dalam teropong tersebut, jalur cahaya di dalamnya menyempit, sehingga bisa jadi nilai tersebut diambil dari jalur cahaya yang ada di tengah-tengah grup optik penyusunnya. Read the rest of this entry »
Siap merekam apapun, kapanpun
Popularitas perekam video berbasis hard disk kini meningkat secara signifikan. Hal ini dipicu oleh harga komponen hard disk itu sendiri yang semakin murah, sementara kapasitasnya terus membesar. Peter F
Perkembangan teknologi dari dunia komputer, ternyata berimbas positif bagi dunia perekam video. Ini terwujud lewat kapasitas media rekam yang semakin membesar, dan harganya pun semakin murah.

Mengapa hard disk?
Salah satu kendala media perekaman berbasis pita kaset atau DVD adalah durasi perekaman yang terbatas sehingga penggantian media rekam sering kali harus dilakukan bila perekaman berlangsung lama. Nah, perekam video berbasis hard disk menghilangkan semua batasan itu. Ada dua tipe camcorder JVC yang datang ke meja redaksi kami, yaitu JVC Everio MG-330HAG dengan kapasitas hard disk 30 GB dan JVC Everio MG-465BAS dengan kapasitas hard disk 60 GB. Dengan kemampuan perekaman antara 7 hingga 37 jam (tergantung format perekaman – varian 30 GB) dan antara 14 hingga 75 jam (tergantung format perekaman – varian 60 GB), maka satu-satunya pembatas durasi perekaman hanyalah tenaga baterai saja. Read the rest of this entry »
Reproduksi Warna: Saat dipakai di siang hari dengan intensitas cahaya matahari yang cukup, reproduksi warna yang dihasilkan oleh Optio S10 cukup bagus. Secara umum, Optio S10 lebih cocok untuk melakukan pemotretan outdoor.Bodinya memang mencerminkan kelas kamera digital yang stylish, ramping dan cantik. Materi aluminium untuk bodi menjadikan tampilan Pentax Optio S10 tampak lebih elegan dan bobotnya menjadi lebih ringan. Kamera ini cocok untuk dijadikan teman Anda melakukan traveling.
Reproduksi warna Optio S10 cukup bagus, khususnya saat dipakai memotret di siang hari. Ini bisa terjadi karena ukuran sensor kamera saku 10,1 megapixel ini sedikit lebih luas dibanding kamera lain di kelasnya, 1/1,8 inci. Namun, saat dipakai untuk memotret di tempat yang minim cahaya, noise-nya cukup berasa.
Sistem motor lensa pada Optio S10 sedikit berisik pada saat kamera dihidupkan. Optical zoom 3x sebenarnya cukup memadai. Namun, focal lenght terpendeknya yang 38 mm membuat kamera ini kurang cocok saat dipakai memotret dokumentasi di dalam ruangan. Cakupan gambarnya terlalu sempit. Kalau diperhatikan lebih teliti, di bagian yang kontrasnya tinggi, chromatic aberration lensa cukup terasa. Read the rest of this entry »
Cepat: Kerja sistem autofocus dan shutter lag DSC-T300 cukup cepat. Kamera ini bisa dipakai untuk memotret aksi dengan baik. Sayang, noise pada gambar mulai muncul di ISO 400.Sony DSC-T300 sangat cocok bagi Anda yang menginginkan kepraktisan. Walaupun lebih banyak menawarkan pengoperasian secara otomatis, feature dan teknologi yang ditawarkan tergolong mumpuni. Proses pemotretan bagi pemakai amatir bisa lebih gampang, tetapi hasilnya memuaskan. Sri Sadono
Tampilannya sebagai kamera stylish sa-ngat cantik. Hanya saja, sebagai kamera yang diklaim Sony sebagai kamera tipis, ukuran DSC-T300 masih terlalu besar dan sedikit terasa berat. Hal ini menjadi konsekuensi Sony karena pengoperasian DSC-T300 menggunakan menu touchscreen yang menuntut ukuran layar lebih besar. Menariknya, kerja LCD touchsreen 3,5 inci pada DSC-T300 sangat cepat. Menu-menu ditampilkan dengan jelas sehingga mudah digunakan oleh pemakai awam. Sayang, resolusi LCD-nya terlalu rendah.
Resolusi DSC-T300 yang 10.1 megapixel sudah lebih dari cukup. Dengan resolusi sebesar ini, kecepatan kamera saku ini me-ngagumkan. Untuk lensanya, saat dipakai di siang hari, ketajamannya menjanjikan. Akurasi warna yang dihasilkan termasuk baik.Pada situasi kontras chromatic abberation-nya tidak signifikan. Hal ini menunjukkan kualitas lensa Carl Zeiss yang dipakai oleh DSC-T300. Sayangnya, focal lenght terpendek lensa Sony DSC-T300 yang 33 mm kurang mendukung format 16:9+-nya. Saat dipakai untuk memotret landscape, cakupan lensanya kurang lebar. Dari segi kualitas gambar, kekurangan kamera ini adalah noise yang sudah muncul mulai di ISO 400. Read the rest of this entry »