
Di jaman dahulu, setidaknya sebelum era digital dimulai, hobi meneropong bintang bisa dikatakan sebagai hobi yang mewah dan sulit dilakukan oleh kebanyakan orang. Memang ada tempat peneropongan bintang, namun hanya bisa dikunjungi oleh kalangan tertentu atau harus datang berupa rombongan. Namun kini setiap orang pun bisa menerawang luar angkasa.
Kini membeli teropong bintang dapat dilakukan oleh semua orang, karena harganya relatif lebih terjangkau daripada beberapa tahun lalu. Salah satunya adalah William Optics ZenithStar 66 SD APO yang datang ke meja Redaksi CFVd. Setelah kami mencobanya cukup intensif dan mempelajari teori-teori peneropongan bintang, kami akhirnya melihat bahwa peneropongan bintang kini bisa digabungkan dengan fotografi, sehingga lebih menyenangkan.
Ada perbedaan mendasar antara dunia fotografi dengan peneropongan bintang, dalam hal ini teleskopnya. Semua satuan yang berlaku di dunia fotografi, tidak bisa sepenuhnya diterapkan. Contohnya adalah dalam melihat aspek panjang fokal lensa. Tentunya kita sudah paham, bahwa di dunia fotografi, nilai jual sebuah lensa biasanya pertama kali dilihat dari panjang fokalnya. Namun di dunia peneropongan bintang, yang biasanya ditonjolkan oleh produsen adalah nilai kelebaran diafragmanya, yang justru sering dinyatakan dengan satuan milimeter. Berhubung teropong bintang tidak memiliki mekanisme diafragma yang besar bukaannya bisa diubah-ubah layaknya sebuah lensa kamera, maka satuan kecerahan lensa dinyatakan dengan secara langsung menyebutkan nilai kelebaran jalur cahaya di dalam teropong tersebut. Dalam hal ini, William Optics ZenithStar 66 SD APO memiliki lebar diafragma 66 mm. Angka ini bukanlah diameter mulut teropong, karena bila Anda ukur, diameter mulut teropong William Optics ZenithStar 66 SD APO adalah lebih dari 72 mm. Namun bila Anda menerawang ke dalam teropong tersebut, jalur cahaya di dalamnya menyempit, sehingga bisa jadi nilai tersebut diambil dari jalur cahaya yang ada di tengah-tengah grup optik penyusunnya. Read the rest of this entry »