Logo CHIP.co.id

Robotika Semakin Diminati

Tantangan lainnya, Christianto menambahkan, masih banyak orang yang tertarik dengan robotika sebatas teori dan simulasinya. “Padahal yang dibutuhkan dalam dunia industri adalah aplikasi nyata,” tuturnya. Dalam hal robotika, Indonesia bisa dibilang masih tertinggal, termasuk dari Malaysia, Singapura, dan Thailand. “Mereka sudah memiliki industri yang menunjang pembelajaran robotika,” tutur Christianto. “Thailand bahkan sudah mampu mem­produksi robot untuk pembelajaran robotik secara luas. Bahkan tidak sedikit sekolah di Indonesia yang menggunakan produk robot bekas Thailand.”

Menurut Christianto, penggunaan robot dalam industri di Tanah Air juga belum bisa dikatakan luas. Pasalnya, inves­tasi yang diperlukan untuk menerapkan robot dalam industri juga tidak murah. Selain itu, diperlukan pula sumber daya manusia yang benar-benar menguasai bidang robotika.

Robot banyak digunakan dalam industri untuk melakukan tugas-tugas yang tidak dapat dilakukan oleh manusia. Di sini, robot banyak digunakan dalam industri otomotif, pengolahan kayu, dan elektronik.

Bagaimana peluang kerja bagi para lulusan sekolah robotika? Son berpendapat, para lulusan itu memiliki punya kesempatan kerja yang sangat besar, “Karena pada hakekatnya, kemampuan membuat robot bisa diaplikasikan pada banyak hal. Sebagai contoh, kemampuannya bisa dipakai untuk membuat palang pintu parkir otomatis, mesin pembuat kopi, dan vending machine. Mereka juga bisa berkarya di bidang computer network dan system engineers.” Menurutnya, seseorang yang mampu membuat robot sudah memiliki pola pikir yang logis serta ke­mampuan untuk bekerja keras dan bekerja sama. Itu adalah modal yang diperlukan tiap orang untuk sukses dalam bekerja. “Saya harap ‘demam’ robotika di Tanah Air terus dibangkitkan, demi tersedianya SDM tangguh dalam membangun bangsa,” katanya.

Christianto berpendapat sama, “Pada saat negeri ini memasuki era industri mandiri—yang dijalankan secara otomatis untuk tujuan produktivitas dan efisiensi—maka SDM yang memahami dan menguasai robotika akan sangat dicari.”
Mereka optimistis, di masa depan penggunaan robot dalam dunia industri akan semakin meningkat. Karena itu, SDM pun dituntut untuk memiliki kualitas yang lebih unggul.

DU 114: Robot Jagoan dari Bandung
Anak muda Indonesia mulai mengukir prestasi di bidang robotika. Beberapa bahkan keluar jadi jawara dalam kompetisi robot internasional.

robot5
Berbagai kontes robotika mulai sering digelar di Tanah Air. Sebut saja Kontes Robot Indonesia (KRI) dan Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) yang menyasar target peserta dari kalangan mahasiswa. Ada lagi Indonesian Robotic Olympiad (IRO), kontes robot untuk pelajar tingkat SD, SMP, dan SMU. Selain itu, robotika pun diperlombakan dalam ajang Indonesia ICT Award sejak tahun 2008.

Kontes robot rupanya mampu menarik perhatian dunia pendidikan terhadap robotika. Berawal dari me­ngikuti kontes-kontes robot tingkat regional dan nasional, para tim jawara dapat dikirim ke luar negeri untuk mewakili Indo­nesia dalam kontes robot di tingkat internasional. Salah satu tim yang rajin mengikuti kontes robotika adalah Tim Robotika Universitas Komputer Indonesia (Unikom), Bandung.

Pada 14 Juni lalu, tim ini mewakili ­Indonesia di ajang International Robo­games 2009 di San Francisco, AS. Robogames merupakan salah satu yang kompetisi robotika terbesar di dunia yang memperlombakan beragam kategori. Robo­games 2009 diikuti oleh 18 negara.

Dalam kompetisi itu, Tim Unikom Bandung—terdiri dari Stevanus Akbar ­Alexander, mahasiswa jurusan Teknik Komputer angkatan 2003, dan Rodi Hartono, mahasiswa jurusan Teknik Elektro angkatan 2005—terpilih menjadi Juara 1 dalam kategori Open Fire Fighting Autonomous. Dalam kategori itu, robot yang diikutsertakan harus bersifat autonomous, bisa bergerak dan mengambil keputusan sendiri tanpa dikendalikan remote control. Robot pun harus bisa mencari dan memadamkan api, yang dalam kompetisi disimulasikan oleh api lilin di sebuah ruangan seperti rumah yang terdiri dari lorong, dinding, pintu dan perabotan.

DU 114, robot ciptaan Stevanus dan Rodi menjadi yang tercepat dalam ­mencari dan memadamkan api tanpa ­menyentuh dinding sekalipun. Kedua mahasiswa ini membuat DU 114 dari bahan-bahan bekas mainan anak-anak yang dirancang menyerupai tank mini dan ditambahi dengan berbagai kontroler dan sensor.“Proses yang paling sulit adalah penerapan algoritmanya,” kata Stevanus. Proses pembuat­an algoritma ini, menurutnya, memakan 50% dari total waktu ­riset yang mereka perlukan. Asal Anda tahu, nama DU 114 diambil dari singkatan alamat kampus Unikom, Jl. Dipati Ukur No. 114, Bandung.

Sebelum mengikuti Robogames 2009,  sejak tahun 2006, Tim Robotika Unikom sudah rajin menjajal kemampuan dalam KRCI yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.

Selain membuat DU 114, Stevanus dan teman-temannya sudah pernah membuat beberapa robot lain. Antara lain Robot Tarantula 116 yang keluar menjadi Juara 1 dalam KRCI 2007 dan Robot NEXT 116 yang menjadi Juara 1 dalam KRCI Regional II (Jawa Barat) 2008. NEXT 116 merupakan robot berkaki pertama buatan Tim Robotika Unikom. Robot itu diikutsertakan dalam Robogames 2008, juga untuk kategori Fire Fighting Robot.

Restituta.arjanti@chip.co.id

Pages: 1 2 3 4


2,306 Views | Comments Off | Permalink
CHIP Team CHIP Team consist of individuals who enthusiastically writes about Information Technology articles. These individuals writes all kinds of articles from Hardware, Software, technology updates, and other technological related theme.

Share with others: Share

Comments are closed.