Thursday, 01 October 2009
Setelah sukses mengeluarkan prosesor quad core, AMD kembali ingin merebut pasar pengguna prosesor dual core. Bagaimanakah kinerja prosesor dual core terbaru AMD? oleh Dimas Galih windujati

AMD telah kembali ke pertaru ngan! Setidaknya, itulah yang dikatakan setiap orang yang sudah merasakan performa dari prosesor dengan proses pabrikasi 45 nm dari AMD ini. Prosesor tersebut merupakan Phenom II yang menggantikan pendahulunya, Phenom, yang gagal menarik perhatian karena performanya yang ternyata kurang memuaskan. AMD memulai penjualan Phenom II dari tipe prosesor yang memiliki empat core. Selang beberapa waktu, AMD kembali mengeluarkan prosesor yang memiliki tiga buah core (X3). Belakangan, AMD kembali menambah keluarga baru pada jajaran prosesornya. AMD mengeluarkan Phenom II X2 yang memiliki dua buah core pada prosesornya. Selain itu, AMD juga mengeluarkan Athlon II X2 yang sama-sama memiliki dua buah core, tetapi memiliki arsitektur yang berbeda dengan jajaran keluarga Phenom II. Tentunya, Athlon II X2 ini akan menggantikan prosesor Athlon 64 X2 yang lama.
Dua jenis prosesor dual core dari AMD ini cukup menarik. Selain kinerja yang ditawarkan sebuah prosesor dengan proses pabrikasi 45 nm, penghematan daya juga dapat dirasakan saat menggunakan prosesor ini. Tentunya, semakin kecil proses pabrikasi sebuah prosesor, semakin kecil pula daya yang dibutuhkan. Selain itu, harga juga menjadi sebuah poin yang menarik. Harga kedua prosesor ini tidak lebih dari 1,2 juta rupiah.
Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, AMD meluncurkan Phenom II mulai dari tipe empat core. Setelah proses produksi, tidak semua core yang ada pada prosesor ini berjalan dengan stabil. Saat sebuah core dianggap tidak dapat bekerja dengan baik, AMD mengunci core tersebut dan menjual prosesornya dengan sebutan X3 dan mengganti nama kodenya dengan Heka walaupun masih merupakan sebuah Deneb. Baru-baru ini AMD merilis Phenom II X2 yang diberi kode Calisto. Seperti Heka, prosesor ini memiliki dua buah core yang dinon-aktifkan dari total empat core. Apakah hanya core-nya saja yang di non-aktifkan? Ya! Bahkan pada Phenom II X2, pengguna masih mendapatkan fasilitas shared L3 cache sebesar 6 MB dan dukungan terhadap memori DDR3. Karena hanya dua prosesor yang bekerja, otomatis TDP yang hasilkan juga lebih rendah. Dengan begitu, AMD tidak akan menderita kerugian akibat memiliki prosesor yang tidak bekerja secara semestinya. Sayangnya, dengan strategi seperti ini, ketersediaan prosesor ini sangat tidak menjanjikan saat supply-nya sudah habis.
Thursday, 01 October 2009
AMD mencoba menghadirkan sebuah prosesor di kelas Ultra Thin mobile dengan nama Athlon Neo 64, apakah prosesor ini sanggup memberikan lebih dari pesaingnya

Pasar komputer portable atau lebih dikenal dengan notebook saat ini sudah sangat semakin maju. Hampir semua orang saat ini menginginkan mempunyai notebook, dengan Alasan mudah ditenteng, hemat daya, dan dapat digunakan dimana-mana. Pasar saat ini didominasi oleh kelas notebook yang notabene besar, berat dan rata-rata mempunyai tenaga yang tinggi, lalu netbook yang notebene ringan, kecil dan sayangnya kurang bertenaga. Berarti bila Anda renungkan ada kelas notebook yang terlewatkan, tapi sebenarnya tidak, hanya yang bermain di kelas notebook ringan, dimensi sedang, dan mempunyai tenaga yang lumayan baik sedikit sekali karena biasanya di kelas ini mempunyai harga yang mencengangkan dengan spesifikasi di bawah notebook tapi harganya diatas itu. Saat ini kelas itu mempunyai sebutan Ultra Thin Mobile dan mulai dilirik oleh beberapa produsen notebook tapi dengan produk dengan harga terjangkau. Advanced Micro Devices atau yang lebih dikenal dengan AMD mencoba meramu prosesor untuk kelas Ultra Thin Mobile dengan nama Athlon Neo 64. Prosesor Neo ini menggunakan arsitektur 65nm dan mempunyai speed 1.6GHz yang berjalan pada FSB 200MHz dengan L2 cache 512 dan memerlukan tegangan listrik 1 volt untuk menghidupkannya, sebenarnya spesifikasi tersebut kurang lebih sama dengan pesaingnya yang banyak digunakan pada netbook saat ini. Prosesor Neo ini dipasangkan dengan chipset AMD M690 dan graphics card ATI Mobility Radeon HD 3410 memori 512MB pada satu produk langsiran HP terbaru seri HP Pavillion dv2-1003AX.
Spesifikasi dan teknologi yang di usung oleh HP Pavillion dv2-1003AX membuat CHIP tertarik untuk mengetahui seberapa kuat notebook ini dalam menjalankan sebuah aplikasi atau bermain game.Tes yang akan dibebankankepada dv2 meliputi MobileMark 2007, Sysmark 2007, memutar film HD 720P dan 1080P dalam format H264, 3Dmark 2006, Game Quake4, dan Life4Dead. Tidak lupa CHIP mengucapkan banyak terima kasih kepada HP Indonesia karena bersedia untuk meminjamkan HP Pavillion dv2-1003AX.
Daya Tahan atau Kinerja
Anda dapat mendapatkan waktu hidup lebih lama lagi dengan menggunakan aplikasi ATI Powerplay yang terdapat pada driver ATI Catalis. Anda tinggal masuk ke dalam controller atau menu ATI lalu masuk ke dalam menu ATI Powerplay dan setting pada “Maximaze Battery Life” pada icon baterai, jangan lupa beri tanda centang pada “Enable PowerPlay” untuk mengaktifkan. Setting ini akan merubah clock GPU dan memori dari 222MHZ dan 247MHz menjadi 148MHz dan 198MHz. Sehingga pemakaian daya yang diperlukan oleh graphics menjadi lebih sedikit.
Settingan ini Ada baiknya hanya Anda gunakan pada settingan battery, untuk settingan dalam keadaan kabel power terpasang Anda dapat memilih “Maximize Performance”, sehingga Anda akan mendapatkan kinerja yang lebih. Bila Anda ingin menonton film HD atau game dalam mode battery maka settingan PowerPlay harus di disable terlebih dulu sehingga clock GPU menjadi normal , sehingga Anda dapat menonton film-film HD dan bermain game dengan mulus atau terpatah-patah. Tapi kompensasi dari hal tersebut adalah daya tahan baterai notebook akan menjadi lebih terkuras.


ATI Power Play Anda dapat melihat perbedaan dari settingan clock GPU dan memori. bagian atas adalah settingan pada maximize battery life dan bawah adalah settingan pada maximize performance. Bila Anda disable maka Anda harus mengorbankan daya tahan baterai.


Thursday, 01 October 2009
Bukan DVD player saja yang dapat memutar film dan musik. Apple iPhone pun bisa melakukannya, asalkan format file multimedia tepat. Agar formatnya sesuai, kini tersedia berbagai program pengonversi. Siapa yang terbaik, simak hasil pengujian CHIP kali ini.

Dulu, AV player di ruang keluarga biasanya didominasi oleh DVD player dengan format output tunggal MPEG. Sekarang, DVD player juga dilengkapi dengan kemampuan untuk memutar film AVI dan lagu MP3. Belakangan, konsumen yang tidak memiliki Blu-ray, tetapi ingin menikmati tayangan berkualitas High Definition, juga mulai melirik player yang mendukung format Matroska (MKV).
Selain itu, ada pula perangkat mobile yang dapat memutar video, seperti iPhone, PSP (PlayStation Portable), dan game console terbaru PlayStation 3. Player-player seperti ini hanya mendukung file-file MP4 dengan profile tertentu dengan resolusi, framerate, dan bitrate yang telah ditetapkan (lihat grafik/skema di halaman berikutnya).
Mungkin, hanya mereka yang tergolong pakar yang tidak bingung dengan berbagai ragam format multimedia ini. Konsumen atau pengguna yang ingin mengonversi sebuah film atau lagu agar dapat diputar pada player biasanya bergantung pada software khusus yang mengonversi sesuai standar format dan profile. CHIP telah menguji enam converter yang menjanjikan konversi film dan musik dengan mudah dan tepat (kompatibel).
Thursday, 01 October 2009
HOTCHIP – Memaksimalkan Transparency Tools di dalam
aplikasi CorelDraw untuk membuat ilustrasi vektor.

Hot Chip!
Dalam rangka menyambut ulang tahun majalah CHIP yang ke-12, kali ini saya akan menyajikan
tutorial yang sedikit berbeda. Perbedaannya, pada kesempatan ini saya akan memberikan beberapa tips dalam membuat ilustrasi dengan software yang sangat populer di dunia desain grafis khususnya vektor, yaitu CorelDraw. Sedikit mengenang masa lalu, awal mula saya belajar desain dan vektor adalah dengan CorelDraw. Jadi, mengapa edisi ini spesial? Karena saya membuat tutorial tentang CorelDraw ini setelah saya tidak menyentuh software ini selama tiga tahun. Singkat kata, melalui
tutorial ini, saya melakukan “reuni dengan cinta pertama” saya pada dunia desain dan vektor.
Salah satu keunggulan CorelDraw dibandingkan dengan software vektor lainnya adalah memiliki begitu banyak efek-efek vektor yang tidak ada duanya dan mudah digunakan. Pada tutorial kali ini saya hanya menggunakan Transparency Tools untuk membuat gradasi
pada ilustrasi. Tools ini pun merupakan salah satu alasan mengapa saya menyukai CorelDraw.

1.Siapkan lembar kerja yang akan kita gunakan. Buat satu lembar kerja berukuran A4. Pada tutorial kali ini, saya menggunakan CorelDraw X1. Namun, bagi Anda yang menggunakan versi lama, jangan khawatir, karena fungsi Transparency Tools ada di Corel versi mana pun.

2.Dengan “Bezier Tool”, buat sketsa ilustrasi. Sesuai tema bulan ini yaitu “Hot CHIP”, buat sketsa kasar yang merepresentasikan gesture dan layout ilustrasi. Bagi yang belum terbiasa, kontrol Bezier memang sedikit lebih susah
dibanding pen Adobe Illustrator. Namun, seiring waktu pasti Anda akan terbiasa.

3.Setelah mendapatkan bentuk yang diinginkan, berikan detail pada daerah muka. Sebenarnya, tutorial ini lebih menekankan pada bagaimana membuat karakter dengan
vektor namun dengan efek seperti digital painting.

4.Berikan skin tone pada muka. Gunakan warna skin tone tergantung selera. Di sini saya menggunakan skin tone dengan formula C : 0 M : 20 Y : 30 K : 0. Pada dasarnya, skin tone “cantik” adalah warna pink atau coklat kekuningan.
Sebelumnya, Intel telah menyediakan Core i7 965 Extreme Edition untuk para penggila overclocker yang memakai board X58. Akan tetapi, seiring dengan perbaikan dan pengembangannya, Intel menyuguhkan kembali prosesor ekstrim untuk X58. Mungkin Anda akan berpikir bahwa ini hanya prosesor Core i7 965 yang telah dinaikkan sedikit kecepatan standarnya. Pada kenyataannya, Core i7 975 ini adalah hasil perbaikan dari pendahulunya.
Stepping Baru
Menurut pihak Intel, CPU dengan stepping D0 yang baru ini (i965 menggunakan stepping C0/C1) sudah diperbaiki secara internal agar dapat mencapai kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan pendahulunya. Hal ini memang terbukti dalam pertandingan overclocking terdahulu (GOOC 2009) yang memakai Core i7 975. Dengan bantuan pendingin nitrogen cair, para peserta dapat mencapai kecepatan setidaknya 5,4 GHz. CPU dengan stepping D0 tertentu bahkan mampu mencapai 5 GHz (ditampilkan Intel di Computex) dengan pendingin udara berukuran besar.
Pengujian
Penasaran dengan hasil yang diperoleh dalam GOOC 2009, CHIP mencoba meng-overclock i975 yang hadir ke meja pengujian. Prosesor yang hadir ini memang merupakan tipe ES (engineering Sample). Jadi, seperti prosesor ES terdahulu, kinerjanya memang dapat dijadikan acuan. Akan tetapi, sering terjadi, prosesor serupa yang tersedia di pasaran bebas (non-ES) bisa mencapai kecepatan overclock yang lebih tinggi. Pendinginan yang digunakan CHIP dalam pengujian kali ini memang tidak ekstrim, hanya menggunakan HSF buatan Thermalright yang berukuran besar, dengan fan 12 cm 2000 RPM saja. Untuk mengendalikan panas yang dihasilkan prosesor, suhu ruang pengujian diturunkan hingga mencapai suhu kisaran 18-20°C. Sementara itu, komponen board X58 yang digunakan, dikipasi dengan dua fan 12 cm 1500 RPM.
Kecepatan 4 GHz dapat dicapai prosesor baru ini dengan sangat mudah. Akan tetapi, saat hendak meningkatkan ke 4,4 GHz dengan Hyper-threading (HT on), system yang digunakan mengalami kesulitan menyelesaikan benchmark dengan stabil. Peningkatan tegangan CPU,


Kesimpulan
Hasil Pengujian CHIP, meski cukup tinggi, memang tidak membuahkan hasil yang luar biasa. Akan tetapi, potensi i975 sudah terlihat nyata. Perbedaan sekitar 500 MHz antara kecepatan yang dapat diperoleh Core i7 965 dan Core i7 975 adalah peningkatan yang tergolong sangat baik. Seandainya CHIP menggunakan pendingin kelas ekstrim, kecepatan lebih tinggi seharusnya dapat dengan mudah dicapai dengan peningkatan tegangan pada CPU. Jika dipikirkan kembali, pendingin ekstrim (liquid cooling atau bahkan dry ice) memang sudah sewajarnya digunakan untuk mengamankan CPU ekstrim seharga kisaran US$ 1.000 ini saat proses overclock.

Tahun lalu, AMD/ATI mengeluarkan graphics card yang bermesinkan RV770. Kemudian graphics card tersebut dinamakan Radeon HD 4850. Saat dikeluarkannya HD 4850, ada sebuah kericuhan karena harga graphics card ini cukup menggemparkan semua pihak. Untuk sebuah graphics card dengan kinerja yang kencang, HD 4850 bisa dikatakan sangat terjangkau. karena dibanderol harga sekitar $200. Kemudian dengan chipset yang sama, ATI mengeluarkan Radeon HD 4870. ATI meningkatkan core clock dan memory clock serta menambah bandwidth memory-nya (mengganti DDR3 ke DDR5). Semua itu h dijual hanya US $100 lebih mahal dari HD 4850. Lalu beberapa bulan kemudian muncullah HD 4850 X2 dan HD 4870 X2. Setelah ini, terjadi sebuah jarak kinerja yang cukup besar, yang sudah diisi oleh pesaingnya, NVIDIA.
Bulan Januari lalu muncul kabar burung ATI akan mengeluarkan chipset RV790. Sekarang, chipset RV790 tersebut sudah dirilis dan diberi nama ATI Radeon HD 4890. Graphics card ini secara langsung ditujukan untuk berhadapan dengan NVIDIA GeForce GTX 260. Akan tetapi, ternyata NVIDIA mengeluarkan GeForce GeForce GTX 275 denganrentang harga yang sama dengan Radeon HD 4890, sehingga secara tidak langsung, rival graphics card ini adalah GeForce GTX 275. Graphics card HD 4890 sendiri terbagi menjadi dua jenis, yaitu versi standar dan overclocking. Sayang sekali, CHIP tidak berhasil mendapatkan versi HD 4890 terbaru yang memiliki core clock 1 GHz. Versi overclocking paling tinggi yang CHIP dapatkan memiliki core clock sebesar 960 MHz.
Pada tes perbandingan kali ini, sebanyak 11 merek graphics card ATI Radeon HD 4890 bertanding. Enam di antaranya merupakan versi overclocking. CHIP akan menunjukkan performa dari HD 4890 standar dan HD 4890 versi overclocking. Untuk pembandingnya, CHIP menghadirkan NVIDIA GeForce GTX275 yang memiliki tingkat harga yang sama. Oleh karena itu, sebelum membeli Radeon HD 4890, bacalah dulu artikel ini.

PlatFormn Pengujian
Processor:Intel Core i7 965
Motherboard:Gigabyte EX58-UD3R
Memory:2×2GB Kingston KHX
Hard Disk:WD Caviar SE 160 GB
Powersupply:CoolerMaster 1100 watt
Optical Drive:LiteOn DVDRW
Mouse:Genius
Keyboard:Genius
Monitor:Fujitsu LC
Tidak dipungkiri lagi bahwa sebuah media penyimpanan berbasis flash memori memiliki keterbatasan pada kecepatan dan kapasitas penyimpanannya. Tentunya, hal ini menjadi sebuah kendala bagi Anda yang membutuhkan media penyimpanan dengan kapasitas besar dengan mobilitas tinggi. Kita bisa saja ambil contoh seorang fotografer yang membutuhkan tempat untuk mem-backup semua hasil karyanya agar kartu memorinya dapat dipakai kembali. Cameraman yang sering menggunakan sebuah digital camcorder juga tentu sangat membutuhkan ruang kosong pada kartu memorinya agar dapat kembali mengambil gambar.
Contoh lainnya saat para penggemar video anime melakukan pertemuan, mereka selalu saling bertukar file. Semua itu akan sangat terbantu dengan hadirnya hard disk eksternal. Apapun kegiatan Anda dalam menggunakan komputer untuk mobilitas, hard disk eksternal juga sangat membantu dalam penyediaan kapasitas data Anda.
Sebuah hard disk internal 3.5 inchi tentu saja berat untuk dibawa. Selain itu, hard disk internal 2.5 inchi juga cukup merepotkan untuk dipasang pada sebuah notebook atau desktop karena Anda harus membongkar sebagian casing untuk memasangnya. Solusi terbaik masalah ini adalah membeli sebuah casing eksternal atau yang sering disebut dengan enclosure agar hard disk internal dapat dijadikan sebuah hard disk eksternal. Akan tetapi, jika Anda tidak mau direpotkan dengan membeli hard disk internal dan enclosure-nya. Beli saja sebuah hard disk eksternal yang cocok untuk dibawa pada kantong Anda atau yang berukuran kecil serta berbobot ringan agar tidak memberatkan tas Anda saat dibawa.
Sekarang, permasalahannya tentu saja tidak selesai sampai di situ. Berbagai macam merek menyediakan bermacam kinerja dan perlengkapan pada paket penjualannya. Berbagai macam merek tentu juga memiliki berbagai macam harga. Hal itu juga disebabkan berbagai macam keinginan para pelanggan terhadap sebuah hard disk eksternal. Pada artikel ini, CHIP akan membandingkan 20 hard disk eksternal, 10 buah hard disk berkapasitas 250 GB dan 10 buah lainnya berkapasitas 320 GB. Mengapa CHIP menguji kedua kapasitas tersebut? Harga adalah alasan utama CHIP melakukan pengujian pada kapasitas tersebut. Harga yang dimiliki oleh kedua kapasitas tersebut tentu lebih terjangkau daripada hard disk eksternal berkapasitas 500 GB yang rata-rata masih berada pada kisaran Rp. 1 juta ke atas.

Simulation: The Sims 3

Konfigurasi platform yang tidak ditujukan untuk game kelas berat membuat pilihan game yang dapat dimainkannya terbatas pada game casual dan ringan. The Sims 3 sebenarnya tergolong game yang cukup berat permintaan daya graphics dan memorinya. Mulanya, CHIP mencoba game ini dengan setting Medium dan resolusi 1024×768. Hasilnya, game memang dapat dimainkan, tetapi dengan kondisi yang buruk. Frame rate yang dihasilkan dapat mencapai di bawah 10 fps ketika berada di daerah yang ramai. Untuk memperbaikinya, CHIP menurunkan setting ke tingkat terendah. Tingkat frame rate yang dihasilkan lumayan membaik, tetapi sayangnya masih berada di bawah 20 fps ketika berada di tengah kota.
RTS: C&C Red Alert 3 Uprising

Game ini membebani platform tergantung dari keadaan di dalam permainan. Bila Anda masih berada di daerah dengan sedikit unit, maka bebannya lebih ringan. Namun, beban akan meningkat seiring jumlah unit yang berada di dalam satu layar. CHIP mencoba setting Medium dengan resolusi 800×600 (game ini tidak mengizinkan resolusi dinaikkan ke 1024×768 karena batasan spesifikasi platform). Game dimainkan dengan kurang nyaman dengan frame rate terendah mencapai di bawah 10 fps. Untuk memperbaiki hal tersebut, CHIP menurunkan setting ke Low dan menghasilkan frame rate lebih baik (15 fps). Supaya game lebih nyaman dimainkan, CHIP kembali menurunkan setting ke Very Low dan frame rate terendah yang dihasilkan mencapai 20 fps.
Kesimpulan
Thursday, 01 October 2009
Anda berencana membeli notebook, tetapi mempunyai dana yang terbatas? Tak perlu berkecil hati. Sebagai panduan, CHIP menguji 15 notebook dengan harga ekonomis. Jangan salah, meski ekonomis notebook-notebook tersebut tetap mempunyai ergonomi yang tinggi.
oleh bimanto

Kelas yang telupakan! Mungkin kalimat tersebut cocok untuk menggambarkan kelas notebook yang bertengger di kisaran harga sekitar US$ 700 ke bawah.Untuk tidak melupakan kelas notebook ini, CHIP mengundang beberapa merek notebook di kisaran harga tersebut. Akhirnya, datang sebanyak 15 notebook dari 9 merek yang banyak beredar di pasaran saat ini. Yang pertama datang ke CHIP Test Center adalah notebook dari MSI. Bukan hanya satu, MSI langsung mengirim empat notebook dengan berbagai tipe dan spesifikasi yang menarik. Disusul kemudian oleh produk BenQ dengan Joybook —dua notebook dengan casing dan spesifikasi yang menarik. Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya Acer datang juga dengan desain casing baru yang mencontoh desain dari Acer Timeline yang sedang ramai-ramainya di pasaran saat ini. Seperti tidak mau ketinggalan, merek Axioo pun ikut meramaikan tes perbandingan kali ini dengan mengirim dua produknya yang mempunyai dimensi berbeda —karenakan layar yang terpasang berbeda. Tiga merek tersebut adalah yang mengirim lebih dari satu produknya. Beberapa merek seperti Asus, Ion, Byon, SPC, dan Advan hanya mengirim satu wakilnya.
Seluruh tes yang dilakukan oleh CHIP berlangsung dengan lancar dan sengit. Setiap spesifikasi yang diusung setiap notebook hampir mempunyai prosesor yang sama. Perbedaan yang mendasar hanya pada pemakaian tipe seperti prosesor Intel Core 2 Duo, intel Dual Core, dan Intel ULV yang saat ini sedang ramai di pasaran.
Untuk kelengkapan, satu dengan lainnya tidak banyak berbeda. Hanya beberapa notebook yang melengkapi dirinya dengan port HDMI dan Firewire. Bonus lainnya sangat bervariasi, mulai dari memberikan asuransi, mouse optical, dan lain sebagainya.
Sebelum Anda membeli notebook, pastikan dahulu Anda membaca dengan seksama artikel ini untuk mendapatkan pilihan notebook yang sesuai dengan keperluan Anda. Selamat membaca!

Pada artikel ini, CHIP menguji kemampuan graphics card NVIDIA 275 GTX DDR3 896 MB untuk memainkan game yang tergolong rakus daya. Platform yang CHIP gunakan adalah prosesor Core 2 Duo 3,2 GHz dengan bantuan RAM 3.5 GB berbasis Windows Vista 32 Bit. Driver graphics yang digunakan adalah NVIDIA Forceware 186.18.
oleh David Novan
Action: overlord 2

Tampilan yang dipenuhi oleh detail, warna yang beragam, dan efek tampilan yang menawan membuat Overlord 2 cukup banyak memakan daya graphics. Untuk menjajal kemampuan graphics card ini, CHIP langsung mencoba setting tertinggi, yaitu resolusi 1920×1080 dan pengaturan grafik di High. Hasil yang didapatkan ternyata cukup baik, yaitu sekitar 40 fps. Kemudian, CHIP mencobanya pada keadaan yang lebih “meriah”. Ketika layar dipenuhi oleh aktivitas dan efek sihir yang berwarna-warni, frame rate hanya sedikit turun dan masih berada pada batas yang wajar. Bahkan, ketika cuaca mulai bersalju, tingkat frame rate yang dihasilkan oleh game ini masih terlihat stabil di 30 fps.
RTS: Demigod

Sebagai sebuah game Real-time Strategy, Demigod memiliki dua beban untuk card ini, yaitu detail tampilan yang tinggi dan banyaknya unit yang muncul di layar. Merasa yakin dengan kemampuan card ini, CHIP kembali mencoba setting tertinggi untuk menjalankan game ini. Resolusi permainan dipilih 1920×1080, setting grafik tertinggi, dan tingkat AA pada 8x. CHIP kemudian mengisi slot pemain hingga penuh dan meng-upgrade pasukan minion hingga tingkat tertinggi. Hasilnya, card ini mampu menghasilkan tingkat frame rate yang baik, yaitu sekitar 60 hingga 45 fps. Hasil frame rate tersebut tetap terjaga dengan stabil walaupun layar dipenuhi oleh unit dari kedua belah pihak.
Action: prototype

Prototype tergolong ke dalam game baru yang memiliki permintaan grafik yang tinggi. Game ini mampu menghasilkan tampilan sebuah kota yang detail dan lengkap dengan kehidupan di dalamnya. CHIP mencoba memainkannya pada setting tertinggi, yaitu resolusi 1920×1080, pengaturan grafik High, dan tingkat AA 4x. Hasil yang didapatkan masih tergolong baik. Game dapat berjalan dengan tingkat frame rate sekitar 32 fps ketika berada di tengah keramaian kota. Tingkat frame rate baru mulai mengalami penurunan hingga 28 fps ketika terjadi gempuran dan ledakan di sekitar karakter utama. Frame rate terendah mencapai 25 fps ketika CHIP bertempur melawan satu kota.