DIAGNOSIS: Diagnosis singkat menunjukkan, driver-nya telah aktual (terbaru). CHIP lalu meng-install sebuah monitor TFT standar dengan resolusi maksimal 1280×1.024. Oleh karena Windows telah memiliki drivernya, resolusi 1280×1.024 langsung tampil pada TFT. Asumsi CHIP, resolusinya akan menjadi normal (1280 x 1.024) setelah memasang kembali LCD.
Sayangnya, slider maksimum dalam “Settings” masih menunjukkan nilai 1024×768. Itu berarti masalahnya masih belum teratasi. Mengganti graphics card lain pun tidak mengatasinya.
SOLUSI: Monitor mengirimkan info resolusi yang salah ke graphics card. Kombinasi driver terbaru (NVIDIA atau AMD/ATI) dan Vista yang tidak menginkan campur tangan pengguna ini justru membawa masalah. Satu-satunya solusi adalah membatalkan update driver yang sebelumnya dilakukan. Ini berarti kembali ke driver graphic card lama dari Microsoft. Dengan trik sedikit “memaksa” ini masalahnya justru bisa diatasi.

Menghambat Driver Vista dari Microsoft mengebiri kemampuan graphics card untuk menampilkan resolusi aslinya (native)

Notebook, juga merupakan salah satu bentuk modernisasi yang mulai menjadi perangkat yang umum dalam kehidupan kita. Ide komputer portabel yang sebenarnya mulai dicetuskan pada era 80-an ini baru akhir-akhir ini dapat direalisasikan. Ini semua berkat kemajuan teknologi. Dahulu, komputer portabel memiliki ukuran yang tidak dapat dibilang portabel, atau setidaknya tidak nyaman untuk dibawa dalam perjalanan. Kinerja dan mobilitasnya pun dapat dibilang rendah. Portabilitas di sini adalah tingkat kemudahan sebuah komputer saat dibawa di perjalanan. Ini berarti semakin ringan dan kecil ukurannya, semakin tinggi nilainya. Sementara itu, mobilitas adalah daya tahan baterai sebuah notebook dalam konsumsinya ketika digunakan.
Namun sekarang, komputer portabel yang lebih umum disebut sebagai notebook tersebut sudah layak menyandang gelar komputer portabel sesungguhnya. Terlebih berkat kehadiran notebook-notebook kecil dengan ukuran layar 12”.
Ukuran layar pada sebuah notebook memang merupakan bahan pembahasan yang cukup serius. Hal ini disebabkan karena ukuran layar juga menentukan ukuran keseluruhan sebuah notebook. Dengan teori phytagoras sederhana, ukuran diagonal layar berpengaruh secara langsung terhadap ukuran panjang dan lebar sebuah notebook.
Selama ini, pengguna notebook cukup nyaman dengan notebook yang menggunakan layar 14”. Selain ukurannya masih dapat dibilang cukup portabel, kinerja yang ditawarkannya pun tidak terlalu berbeda dengan sebuah komputer dalam kondisi penggunaan kerja sehari-hari. Namun tampaknya, seiring dengan perkembangan jaman, pengguna notebook semakin menginginkan notebook menjadi lebih portabel dan memiliki kinerja yang semakin tinggi.

Para pakar menilai, batas “ajaib” dengan 100 Watt/cm2 kini sudah tercapai. Dengan mekanisme pendinginan yang canggih, sebuah chip bisa saja mencapai 300 Watt/cm2, tapi selanjutnya tidak banyak yang dapat dilakukan. Tidak lama lagi akan dibutuhkan daya 1.000 Watt untuk mencapai kinerja yang lebih tinggi – dan ini sudah pasti tidak mungkin dilakukan dengan cara biasa.
Selama 40 tahun terakhir, para pembuat prosesor menggunakan cara yang sama: Terus memperkecil struktur pada chip. Dengan demikian, kapasitas listrik-nya lebih rendah dan power-loss semakin berkurang. Untuk itu, para produsen masuk jauh ke dunia teknologi nano. Pada generasi prosesor terkini, sub-komponen transistor rata-rata hanya berukuran 65 nm – sekitar seperseribu dari diameter rambut manusia.
Miniaturisasi memang menyediakan tempat untuk lebih banyak transistor, tetapi bila semuanya memanas, seluruh panas yang dihasilkan tidak dapat diatasi. Jadi, hasil yang dicapai melalui miniaturisasi kembali nihil dengan penambahan jumlah transistor.


Dua kata yang saat ini sering didengar oleh CHIP adalah multiprocessor dan multigraphics. Mungkin sudah banyak di antara Anda yang tahu arti dari kedua kata tersebut, tetapi tidak ada salahnya CHIP memberitahukan garis besar arti dari kedua kata tersebut. Dalam kamus bahasa Indonesia, multi dapat berarti banyak atau lebih dari satu. Multiprocessor dan multigraphics berarti jumlah prosesor dan graphics card yang digunakan lebih dari satu.
Sebenarnya “multiprocessor” dan “multigraphics” bukan istilah baru. Nama itu sudah lama ada (bahkan sudah lama digunakan) oleh para professional IT. Namun, istilah tersebut bisa dibilang baru untuk para konsumen awam. Untungnya, saat ini kita sebagai konsumen awam, sudah dapat menikmati multiprocessor dan multigraphics di komputer desktop yang kita miliki. Terima kasih patut kita ucapkan kepada para produsen besar (Intel, AMD, NVIDIA, dan ATI) yang berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Karena semakin keras mereka bekerja menjadi yang terbaik, semakin tinggi pula teknologi yang dihadirkan kepada kita.
Beberapa teknologi baru yang masuk ke dalam domain multiprocessor dan multigraphics untuk Personal Computer (PC) adalah prosesor dual core, SLI, dan CrossFire. Untuk prosesor dual core, Intel menghadirkan Intel Pentium D dan Intel Pentium XE sedangkan AMD menghadirkan AMD Athlon 64 X2. Sedangkan SLI dan CrossFire adalah teknologi dari NVIDIA (SLI) dan ATI (CrossFire) untuk menjalankan dua graphics card secara bersama dalam mengolah aplikasi 3D. CHIP sekarang tidak akan membahas secara mendetail mengenai teknologi-teknologi baru tersebut. Akan tetapi, artikel ini akan membahas mengenai chipset terbaru untuk platform prosesor Intel yang sudah mendukung beberapa teknologi baru tersebut.