Logo CHIP.co.id

Posts Tagged ‘Linux’

Bekerja Cepat dan Efisien di Shell Linux

by Mulyadi | September 5th, 2009 | Categories: Linux

Mengetik perintah di shell bagi sebagian orang adalah cara efektif bekerja di Linux.  Beberapa metode dan tips berikut ini bahkan bisa lebih mempercepat perkerjaan Anda.

linux1

Untuk orang yang baru belajar Linux, biasanya dia akan mulai dengan memahami mekanisme penggunaan sistem X Window. Untungnya, berkat interface grafis, seperti KDE atau GNOME, pengguna (user) bisa lang­sung mengklik shortcut di desktop untuk membuka suatu dokumen atau menjalankan suatu program. Ini menguntungkan bagi mereka yang sebelumnya sudah terbiasa menggunakan sistem operasi Windows.

Seiring dengan semakin meningkatnya ke­terampilan pengguna menggunakan sistem operasi Linux, biasanya pengguna tersebut akan mulai merasakan keunggulan menggunakan command line sebagai fasilitas untuk berinteraksi dengan Linux. Melalui terminal emulator (misalnya Gnome terminal atau Konsole) atau text interface, pengguna Linux bisa mengetikkan satu atau lebih perintah dan mendapatkan respons yang sama dibanding dengan melakukannya lewat interface grafis. Sering kali bahkan lebih cepat. Ini semua tergantung sejauh mana Anda menguasai perintah-perintah di shell dan menerapkannya. Secara default, mayoritas distribusi Linux menggunakan shell bernama Bash (Bourne Again Shell). Read the rest of this entry »


Comments Off | Permalink

Memaksimalkan Linux dengan Utility yang Kurang Populer

by CHIP Team | August 18th, 2009 | Categories: guides
Image

Segala sesuatu yang populer atau banyak dibicarakan biasanya mudah diingat. Hal yang sama juga terjadi pada sistem Linux. Padahal, pekerjaan kita bisa saja lebih cepat diselesaikan dengan beberapa utility kurang dikenal berikut ini.
Linux memiliki ratusan utility  yang siap digunakan. Semua utility ini termuat pada setiap CD/DVD distribusi Linux. Sayangnya, tidak semua dipakai secara rutin oleh pengguna Linux. Hal ini bisa dipahami karena otak manusia tidak mungkin mengingat semua nama perintah tersebut. Pengguna cenderung fokus pada beberapa perintah yang diingat atau sering dipakainya sehari-hari.

Meskipun demikian, tidak ada salahnya kita mempelajari hal-hal baru, termasuk di antaranya mengenal perintah-perintah yang mungkin jarang digunakan di Linux. Dalam mempelajari beragam pe­rin­tah Linux tersebut, Anda disarankan untuk mencobanya pada distribusi Linux baru, seperti Fedora 9 atau OpenSuSE 11 untuk memastikan agar Anda memakai versi terbaru perintah tersebut. Seperti biasa, prompt # berarti perintah dilakukan sebagai root, sementara prompt $ berarti sebagai user non-root. TAC
Apabila perintah ini dibaca dari kanan ke kiri, akan terbaca “cat”, yaitu salah satu perintah populer Linux. Fungsinya cukup unik, yaitu membalik urutan isi file teks atau lainnya yang dikirimkan ke input standarnya. Misalnya, file teks berisi:

$ cat test.txt
satu
dua
tiga

Perintah tac akan membuat output-nya menjadi:

$ tac test.txt
tiga
dua
satu

Perintah ini bisa dipakai untuk mencari suatu kata dengan urutan kronologis mulai dari kejadian paling terkini lalu diurut mundur. Perintah tac bisa mempercepat Anda melihat hasil pencarian, misalnya pada file log. Contohnya, untuk mengetahui kapan saja perintah sudo digunakan untuk me-mount suatu partisi:

$ sudo tac /var/log/secure* | grep mount
Apr  3 10:01:56 mulyadi sudo:  muly
adi : TTY=pts/1 ; PWD=/home/mulyadi ;
USER=root ; COMMAND=/bin/umount /
media/disk/



Tags: ,
Comments Off | Permalink

Linux Sebagai Asisten Pribadi

by CHIP Team | August 14th, 2009 | Categories: guides
Image

Tenggat penyelesaian tugas yang mepet dan seabrek pekerjaan menuntut kita bekerja secara efisien dan teliti. Apabila Anda merasa tidak mampu menanganinya sendiri, jadikan Linux sebagai mitra kerja Anda!
Seiring dengan semakin diterimanya Linux sebagai sistem operasi desktop, secara tidak langsung Linux ikut dituntut memberikan solusi-solusi bagi pengguna desktop. Sebagi fondasi awal, Linux menyediakan interface grafis yang mumpuni, seperti KDE atau GNOME. Kemudian, diteruskan dengan office suite populer, misalnya Open Office. Tidak ketinggalan, browser Firefox, pengolah gambar Gimp, e-mail client Thunderbird, dan masih banyak lagi. Selain software berukuran besar yang disebutkan di atas, kadang diperlukan juga software-software sederhana tetapi sangat berguna dalam membantu berbagai tugas kita. Tidak ketinggalan juga trik-trik yang perlu diketahui agar pekerjaan bisa diselesaikan lebih cepat. Singkatnya, mari jadikan Linux sebagai asisten sekaligus sekretaris pribadi kita!

Distribusi yang digunakan dalam artikel adalah Fedora 9 dan GNOME versi 2.22 sebagai rujukan. Sayangnya, pembahasan dengan Window Manager lainnya tidak dapat dilakukan karena keterbatasan tempat.  Konvensi yang dipakai, prompt # berarti perintah diketik sebagai root, sementara prompt $ berarti perintah dilakukan sebagai user biasa.

Sticky note: menempel kertas memo di desktop
Berapa banyak kertas Post-it menempel di monitor? Dua, tiga, atau sudah tidak terhitung? Penulis pernah merasa heran bercampur geli melihat monitor ditempeli lebih dari 20 Post-it. Bisa dibayangkan pemborosan yang terjadi akibat hal ini? Belum lagi ketidaknyamanan melihat monitor yang bertaburan dengan “ornamen”.

Saatnya menggunakan Post-it ala GNOME. Klik kanan pada panel yang terletak pada bagian teratas atau terbawah GNOME. Pilih “Add to panel”, cari “Sticky Notes”, lalu klik “Add”. Anda akan segera melihat sebuah icon setumpuk kertas Post-it berwarna kuning. Bergantung pada panel mana Anda melakukan klik, icon Sticky Notes akan berada pada panel yang sama. Sekadar informasi, program yang iconnya muncul di panel seperti halnya Sticky Notes dinamakan panel applet.

Untuk membuat sebuah catatan, klik ganda pada icon Sticky Notes. Anda akan melihat sebuah window kecil muncul di layar. Ketik informasi yang Anda inginkan, misalnya nomer telepon klien atau ide proposal suatu project. Semua informasi ini otomatis akan tersimpan, jadi jangan heran jika tidak ada menu untuk menyimpan data. Apabila suatu saat catatan ingin disembunyikan, klik kanan pada icon Sticky Notes dan klik menu Hide Notes. Untuk memunculkannya kembali, cukup klik icon Sticky Notes.


Comments Off | Permalink

Instalasi Tanpa Risiko

by CHIP Team | April 3rd, 2009 | Categories: guides

Image

Apakah Anda ingin bereksperimen dengan software baru? Menguji software Beta dan mengubah semua setting Windows? Apabila Anda sering menggunakan PC untuk tujuan semacam itu, sistem operasi pasti akan cepat mengalami error dan masalah sistem.

Padahal, solusinya sangat sederhana. Bekerjalah dengan Windows XP seperti biasa. Apabila Anda tertarik dengan satu software, ujilah software baru tersebut di dalam sebuah lingkungan virtual, terisolasi dari data, setting, dan seluruh aplikasi pribadi. Apabila software tersebut tidak mengganggu, Anda dapat menggunakannya pada sistem sebenarnya. Dengan demikian, sistem operasi Anda tetap aman.

CHIP menunjukkan bagaimana me­nguji setiap software tanpa risiko sehingga bergerak bebas dalam jaringan. Anda dapat menemukan semua program yang dibutuhkan pada CD/DVD edisi kali ini.

LANGKAH 1: ”Rumah” untuk Windows

Seperti yang telah diulas sebelumnya, yang kita butuhkan adalah sebuah software yang mampu menyajikan lingkungan virtual. Salah satunya adalah VirtualBox (www.virtualbox.org). Program ini mudah dioperasikan, bekerja lebih cepat ketimbang produk sejenis, dan menawarkan performa grafik yang baik. Setting yang disarankan program dapat Anda gunakan dan biarkan VirtualBox mengkonfigurasi dukungan USB dan sejumlah jaringan, khususnya ketika Anda perlu mentransfer data antar sistem.

Image

PANDANGAN PERTAMA – Interface utama VirtualBox. Berikut contoh sajian file ISO berisi CD instalasi Windows Vista.

SETTING DASAR: Apabila dasar untuk PC virtual sudah dibuat, Anda perlu memba­ngun kerangka yang tepat agar proses ins­talasi dapat berjalan dengan bersih. Di sini yang penting adalah konfigurasi yang seimbang antara setiap komponen. Apabila PC virtual mendapat resource hardware terlalu sedikit atau yang satu sama lain tidak di­atur dengan tepat, XP akan menolak instalasi atau berfungsi dengan sangat lambat.

Untuk konfigurasi, klik pada entri “New” dalam menu. Pada sebuah window yang terbuka, masukkan nama untuk sis­tem baru Anda. Di bawah kolom input tersedia menu drop-down dengan berbagai pilihan sistem operasi. Input “OS-Type” yang tepat sangat penting agar Virtual­Box dapat menyesuaikan dengan arsitektur sistem operasi yang bersangkutan.

Langkah berikutnya, masukkan ukuran memory RAM. Sediakan setengah dari resource hardware bagi PC virtual. Jangan di bawah 256 MB karena XP tidak dapat diinstalasi dengan benar. Apabila kurang, Anda membutuhkan RAM yang lebih besar. Harga sebuah keping memory 512 MB kini sudah terjangkau.

Setelah Anda mengoptimalkan ukuran RAM, konfigurasilah hard disk virtual. Di bawah ”Boot Hard disk”, klik entri “New” dan aktifkan boks “Dynamic Growth”. Pilihan ini memiliki kelebihan, sistem virtual hanya menggunakan sejumlah kapasitas yang diperlukan dan tidak akan melampaui nilai maksimal yang Anda berikan.

Ukuran hard disk bergantung pada tujuan aplikasi. Kurang dari 4 GB tidak ada artinya karena hampir tidak tersisa tempat untuk program sendiri. Ukuran yang telah teruji dalam praktik ini adalah 10 GB. Cukup banyak ruang gerak untuk tes software dan pekerjaan lainnya.

OPTIMALISASI: Setelah menetapkan sejumlah setting dasar, kini kita masuk ke tahap akhir. Klik menu ”PC” lalu ”Change”. Sebuah jendela popup akan terbuka. Di bawah ”General” cantumkan ukuran memori grafik dan jangan kurang dari 64 MB. Kecepatan optimal dapat Anda peroleh sebesar 128 MB. Lebih dari ini tidak ada guna­nya karena aplikasi 3D tidak berfungsi atau berfungsi buruk dalam lingkungan virtual.

Agar dapat melakukan proses booting dari CD, di bagian ”CD/DVD-ROM”, aktif­kan boks di samping ”Integrate Drive”. Pilih sebuah drive pada ”Host-CD/DVD-drive”, dan klik ”Acti­vate Passthrough”. Mulai­lah image yang tersimpan di hard disk dengan memasukkan path file yang bersangkutan di ”ISO-image”. Agar sistem virtual dapat menghasilkan bunyi, hidupkan audio-output dalam ”Sound-Settings”.


Comments Off | Permalink

Praktik – Menggunakan Fasilitas Software RAID di Linux

by Mulyadi | August 2nd, 2008 | Categories: Linux

Implementasi Software RAID di Linux

Image
Mungkin Anda sering mendengar istilah RAID saat membeli motherboard atau saat melakukan setting PC server.  Apa sebenarnya RAID itu? Ini adalah singkatan dari Redundant Array of Inexpensive Disk atau kalau di-Indonesiakan kira-kira maknanya ‘kumpulan disk berharga terjangkau yang saling menunjang”. Terjemahan ini memang tidak benar-benar pas, tetapi sudah menggambarkan dua sifat utama RAID:
1. Terdiri atas kumpulan hard disk biasa, bukan dibentuk dari disk khusus atau berharga sangat mahal.
2. RAID dibuat untuk meningkatkan per­forma baca-tulis dan tingkat keamanan data.
Poin 2 inilah yang paling menarik untuk dibahas karena inilah alasan utama mengapa seseorang ingin menggunakan konfigurasi RAID. Untuk memahaminya, kita harus terlebih dahulu mempelajari macam-macam jenis RAID:
a) RAID 0, sering disebut striping without parity. Data akan ditulis merata pada semua partisi disk yang menjadi anggota RAID . Konfigurasi ini bisa diandaikan seperti seseorang yang memiliki bola biliar dengan nomor 1 sampai dengan 10. Nomor ganjil masuk ke keranjang berwarna biru dan nomor genap masuk ke keranjang warna merah.
Dengan susunan ini, jika dua orang di­tugaskan mengambil bola nomor 1 sampai dengan 6, masing-masingnya dapat segera mengambil tiga bola dari masing-masing keranjang. Tiap orang hanya boleh memakai tangan kanan (dikondisikan mirip seperti head hard disk yang cuma satu) yang bergerak secara acak membaca data. Bisa Anda bayangkan bahwa pekerjaan ini menjadi dua kali lebih cepat dibanding dikerjakan hanya oleh satu orang.
b) RAID 1, dikenal dengan nama mirroring. Data akan ditulis sama persis ke semua anggota RAID.   Keuntungan dari pola ini adalah jika terjadi kerusakan pada salah satu partisi anggota RAID, maka Anda bisa langsung menggunakan data cadangan di partisi lainnya. Hal ini berbeda dengan RAID 0 karena kerusakan salah satu partisi anggota akan menyebabkan kegagalan baca-tulis secara keseluruhan.
Kembali ke analogi sebelumnya, RAID 1 bertindak menduplikasi 10 bola yang ada sehingga ada 20 bola. Ada 10 bola yang masuk ke satu keranjang dan sisanya ke keranjang lainnya. Apabila 10 bola di keranjang biru rusak, maka 10 bola di keranjang merah bisa langsung digunakan untuk bermain biliar.
c) RAID 5, biasa disebut striping with parity. Pada dasarnya, konfigurasi ini  mirip seperti RAID 0, hanya saja sekarang ada tambahan suatu data pengaman yang disebut parity. Parity ini memungkinkan struktur RAID dipulihkan seperti semula jika salah satu partisi rusak.

Tags: ,
Comments Off | Permalink

Linux – Memantau Data di Jaringan

by Mulyadi | August 1st, 2007 | Categories: Linux

Memantau Kondisi Jaringan

Image

Jaringan komputer memba­wa ba­nyak hal positif bagi pengguna PC. Di an­ta­ra­nya adalah kemudahan menukar file, mengirim e-mail, membuka halaman web yang berisi informasi dan berita, chatting, dan masih banyak lagi. Dengan semakin pesatnya perkembangan Internet, maka semakin beragam pula ragam layanan yang tersedia. Mulai dari layanan yang dikelola oleh perseorangan, tim kecil nirlaba hingga yang ditangani oleh perusahaan raksasa multinasional. Sebagai end user, Anda semakin dimanjakan dan tanpa sadar, kadang menghabiskan banyak waktu menjelajahi dunia maya tersebut. Dalam artikel ini, digunakan kata “Internet” untuk mewakili beragam jenis jaringan.

Di sela-sela aktivitas mengarungi Internet, ada satu hal yang kadang terlupakan, yaitu mengawasi traffic (lalu lin­tas) data di jaringan (Internet). Walaupun ke­dengarannya sepele bagi pengguna PC, pengawasan jari­ngan perlu dilakukan. Beberapa keuntungannya adalah:

1. Mengetahui kondisi kecepatan koneksi
2. Melihat sesi koneksi aktif dan idle di PC
3. Mengantisipasi adanya koneksi ‘asing’ yang bisa berindikasi penyusupan

Sebelum melangkah lebih jauh, pada artikel ini CHIP menggunakan bebe­ra­pa asumsi. Anda dianggap telah mengerti dasar-da­sar jaringan, terutama konsep TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol). Selain itu, konfigurasi jaring­an dianggap telah berjalan dengan baik. Anda bisa menggunakan sembarang distribusi (distro) Linux sebagai sistem percobaan karena tidak ada spesifikasi tool tertentu yang dipakai dalam artikel ini. Dalam artikel ini, digunakan distro Fedora Core 2 sebagai basis percobaan. Seperti biasa, prompt # berarti perintah dilakukan sebagai root, sedangkan prompt $ berarti perintah dilakukan sebagai user non root. Sebagai catatan, sebagian angka IP address disamarkan de­ngan pertimbangan keamanan. Semua teknik yang di­jelaskan adalah semata-mata untuk tujuan pengujian jaringan dalam sistem Linux semata. CHIP tidak bertanggung jawab atas penyalah­gunaan teknik yang dijelaskan kali ini untuk hal-hal negatif atau maksud buruk.

Sebagian pengujian adalah hasil si­mu­lasi dalam sistem virtual (virtual ma­chine), sehingga angka-angka yang di­sajikan pun mung­kin tidak terlalu realistis. Namun, Anda diharapkan tetap dapat menjadikannya sebagai contoh praktek dan menerapkannya dalam kondisi sebenarnya dengan adaptasi sesuai kondisi yang dihadapi.


Comments Off | Permalink