
Tidak standar Resolusi 1279 x 1024 memang tidak tersedia, tetapi perbedaannya dengan resolusi standar bisa diabaikan.
DIAGNOSIS:Dari beberapa saran yang diterima CHIP, belum ada yang baru. Meskipun demikian, CHIP pun sebenarnya tidak terlalu puas dengan solusi yang dipilih sebelumnya yaitu meng-install driver yang sebelumnya berfungsi. Jadi, CHIP pun kembali bereksperimen dengan monitor yang bermasalah dengan Vista tersebut. Semua kemungkinan solusi telah dicoba CHIP, seperti mengutak-atik driver, menggunakan card atau kabel lain, serta memasang berbagai versi Vista. Sayangnya, semuanya tidak membantu. Beberapa saran juga merekomendasikan untuk mencantumkan resolusi baru dalam menu nVidia. CHIP pun memasukkan resolusi asli (native) LCD yaitu 1280×1024 dengan semua opsi, tetapi selalu mendapat laporan kesalahan. Namun, saat memasukkan resolusi 1200×1000, “keajaiban terjadi” karena resolusinya diterima oleh driver.
SOLUSI: CHIP pun menaikkan resolusi hingga mendekati resolusi asli yaitu mencapai 1279 x 1024. Pada resolusi ini, bagian horizontal yang hilang tidak terlalu signifikan dan dapat diabaikan. Jadi, resolusi asli pun akhirnya bisa berfungsi dengan driver nVidia.

Mengapa tidak mengganti PC baru?
Anda bisa saja meng-upgrade PC jika memiliki dana untuk melakukannya. Akan tetapi, ada beberapa alasan mengapa seseorang masih mempertahankan PC lama dan hanya meng-upgrade graphics card. Tidak memiliki dana untuk melakukan upgrade
Biasanya, dana untuk mengganti hampir sema periferal yang ada memang cukup besar. Terutama jika Anda harus mengganti motherboard, prosesor, memori, dan juga graphics card. Meski sudah mempertahankan storage (hard disk, floppy disk, dan optical disk drive), keyboard, mouse, dan monitor, Anda tetap harus menyiapkan dana di atas 2 juta rupiah. Nilai ini terasa tinggi bagi sebagian konsumen, terutama dalam kondisi perekonomian yang sedang memburuk seperti sekarang ini.

Berbeda dengan acara undangan update teknologi biasanya, kali ini update teknologi yang disampaikan dilakukan secara one-on-one. Berikut adalah teknologi dan feature yang ditawarkan oleh NVIDIA untuk menyongsong tahun 2009.
Graphics Plus
Ini adalah kampanye NVIDIA yang cukup menggelitik. Bukan, graphics plus tidak berarti bahwa NVIDIA menggembar-gemborkan kemampuan grafis yang hebat. Akan tetapi, kampanye ini menampilkan kemampuan GPU NVIDIA untuk mengerjakan pekerjaan di luar grafik.
CUDA (Compute Unified Device Architecture) adalah kata kuncinya. Sebuah GPU NVIDIA yang dilengkapi CUDA akan membuat graphics card tersebut berubah menjadi lebih dari sekadar pemroses grafik saja. CUDA adalah arsitektur parallel computing yang dikembangkan NVIDIA. Tujuannya sederhana, agar GPU dapat diakses oleh software dan dimanfaatkan sebagai sarana pemrosesan data.
CUDA sudah ada pada driver terbaru. Hingga saat ini, CUDA dapat diaktifkan pada GPU NVIDIA seri 8, 9, dan Quadro. Jadi, CUDA bukan hardware atau aksesoris yang harus dibeli secara terpisah.
PhysX
Saat ini, Physics dalam game, sudah kian banyak digunakan. Efeknya, gerakan dan interaksi obyek dalam game menjadi kian nyata. Karena, physics menggunakan data perhitungan fisika untuk menganimasi gerakan dan interaksi.
AMD (termasuk ATI) dan Intel menggunakan Havoc untuk menjalankan physics pada prosesor. Sementara itu, NVIDIA menyediakan PhysX untuk menjalankan physics pada (jika memungkinkan) GPU dan prosesor. Jadi, jika sebuah game sudah mendukung GPU PhysX, GPU akan mengemban tugas menjalankan perhitungan physics. Dengan metode ini, NVIDIA menjanjikan kinerja game (yang menggunakan physics) lebih baik. Melihat dukungan beragam produsen game (termasuk EA), tampaknya PhysX akan kian berkembang di 2009.
Video
Badaboom adalah aplikasi video transcoding pertama yang diperkenalkan untuk menampilkan kinerja CUDA pada GPU NVIDIA. CHIP menemukan bahwa aplikasi ini memang dapat melakukan tugasnya (convert DVD ke MP4) lebih cepat dibandingkan prosesor biasa. Setidaknya, penggunaan CUDA pada Badaboom membuat kita masih dapat memanfaatkan prosesor untuk pekerjaan lain sembari melakukan proses konversi video.
Untuk video editing, Cyberlink Power Director juga sudah hadir dengan beberapa filternya yang dapat diakselerasi oleh CUDA. TMPGEnc juga sudah menggunakan CUDA untuk filter-filternya. Sayangnya, kedua aplikasi ini belum memanfaatkan CUDA untuk encoding dan decoding seperti yang dilakukan Badaboom.
Adobe
Hal yang cukup menarik adalah kerja sama Adobe dengan NVIDIA untuk mengakselerasi Photoshop CS4. Aplikasi wajib bagi para fotografer dan siapa pun yang berkecimpung di bidang desain ini sudah memanfaatkan CUDA untuk memudahkan proses zoom, panning, dan rotate. Aspek yang berubah adalah tampilan saat melakukan zoom, panning, dan rotate. Dengan memanfaatkan GPU, proses tersebut berjalan dengan mulus dan nyaman dilihat mata.
Aplikasi lain
Sebenarnya masih banyak aplikasi lain yang dapat memanfaatkan CUDA. Corel dan Nero sudah mempersiapkan aplikasi mereka yang dapat diakselerasi CUDA untuk hadir di Q1 tahun 2009. Pemanfaatan CUDA pada aplikasi pemecah password juga cukup sukses. Hal ini tampaknya akan berlanjut dengan pemanfaatan CUDA untuk software enkripis/dekripsi, antivirus, dan aplikasi lainnya yang membutuhkan perhitungan intensif.
Kacamata 3D
Oke, ini sudah pernah ditawarkan beberapa tahun silam dan bisa dibilang gagal. Berbeda dengan keluaran Asus dan Elsa beberapa tahun silam, kacamata 3D NVIDIA ini tidak membuat CHIP pusing. Kuncinya adalah penggunaan layar 120 Hz. CHIP mencoba teknologi ini pada LCD Viewsonic 22” dan proyektor (DLP) Viewsonic. Rencananya, pada tahun 2009 akan semakin banyak display yang mendukung refresh rate 120 Hz.
Kesimpulan
Pemanfaatan GPU untuk aplikasi non-grafis memang sangat menarik. Implementasinya sudah terlihat nyata. Banyak pengembang yang menyatakan akan membuat aplikasi/software yang diakselerasi CUDA (Adobe, Corel, Nero, dan banyak lagi lainnya). Akan tetapi, apakah pengembang software akan berpatokan pada CUDA saja? Atau mungkin AMD akan membuka jalan bagi mereka agar dapat memanfaatkan GPU-nya juga? Atau mungkin Intel yang akan hadir dengan solusi yang tak kalah menarik? Mari kita nantikan jawabannya di 2009. Untuk mengetahui CUDA lebih lanjut, simak pengujian CHIP terhadap CUDA di halaman berikutnya.
DIAGNOSIS: Diagnosis singkat menunjukkan, driver-nya telah aktual (terbaru). CHIP lalu meng-install sebuah monitor TFT standar dengan resolusi maksimal 1280×1.024. Oleh karena Windows telah memiliki drivernya, resolusi 1280×1.024 langsung tampil pada TFT. Asumsi CHIP, resolusinya akan menjadi normal (1280 x 1.024) setelah memasang kembali LCD.
Sayangnya, slider maksimum dalam “Settings” masih menunjukkan nilai 1024×768. Itu berarti masalahnya masih belum teratasi. Mengganti graphics card lain pun tidak mengatasinya.
SOLUSI: Monitor mengirimkan info resolusi yang salah ke graphics card. Kombinasi driver terbaru (NVIDIA atau AMD/ATI) dan Vista yang tidak menginkan campur tangan pengguna ini justru membawa masalah. Satu-satunya solusi adalah membatalkan update driver yang sebelumnya dilakukan. Ini berarti kembali ke driver graphic card lama dari Microsoft. Dengan trik sedikit “memaksa” ini masalahnya justru bisa diatasi.

Menghambat Driver Vista dari Microsoft mengebiri kemampuan graphics card untuk menampilkan resolusi aslinya (native)

Kebanyakan orang mengganggap “enteng” motherboard dengan integrated/onboard graphics karena rendahnya kinerja, tidak adanya kemungkinan upgrade, dan penggunaan memori utama (RAM). Namun, bila kita melihat solusi yang ada, hal tersebut sudah tidak berlaku lagi. Motherboard onboard tetap menyertakan slot PCI-E x16. Jadi Anda tetap bisa melakukan upgrade.
Graphics card onboard juga menawarkan kinerja menarik untuk harganya – harga motherboard dengan dan tanpa graphics card onboard tidak terpaut begitu jauh atau bahkan sama. Penggunaan RAM untuk graphics card juga bukan masalah besar. Harga RAM DDR2 begitu murah, Anda bisa membeli 4 GB DDR2 PC6400 dengan harga Rp 800 sampai 900 ribu. Windows hanya ‘melihat’ RAM 3,5 GB. Jadi kehilangan 256 MB atau 512 MB untuk graphics card onboard tidak akan terasa.
Feature graphics card onboard juga terus menerus berkembang. Feature yang dulunya hanya tersedia di graphics card addon, baik mainstream maupun high end, perlahan-lahan diterapkan pula di graphics card onboard. Sering kali, feature baru justru diperkenalkan di graphics card entry level dan onboard terlebih dahulu – proses fabrikasi lebih baik, teknologi hemat daya, akselerasi video decoding.

Pada dasarnya, semua chipset yang tersedia saat ini mempunyai graphics card onboard, baik dari Intel, NVIDIA, maupun AMD. Produsen hanya “mematikan” bagian graphics untuk membedakan chipset yang menyertakan dan tidak mempunyai graphics card onboard. Trik seperti dulu masih bisa diterima, namun sebenarnya ini adalah suatu “pemborosan” – bila sebenarnya telah tersedia di setiap chip, mengapa tidak digunakan? Pergeseran cara pandang atau paradigma ini yang mendasari teknologi baru seperti Hybrid SLI dan Hybrid Power.

Dua kata yang saat ini sering didengar oleh CHIP adalah multiprocessor dan multigraphics. Mungkin sudah banyak di antara Anda yang tahu arti dari kedua kata tersebut, tetapi tidak ada salahnya CHIP memberitahukan garis besar arti dari kedua kata tersebut. Dalam kamus bahasa Indonesia, multi dapat berarti banyak atau lebih dari satu. Multiprocessor dan multigraphics berarti jumlah prosesor dan graphics card yang digunakan lebih dari satu.
Sebenarnya “multiprocessor” dan “multigraphics” bukan istilah baru. Nama itu sudah lama ada (bahkan sudah lama digunakan) oleh para professional IT. Namun, istilah tersebut bisa dibilang baru untuk para konsumen awam. Untungnya, saat ini kita sebagai konsumen awam, sudah dapat menikmati multiprocessor dan multigraphics di komputer desktop yang kita miliki. Terima kasih patut kita ucapkan kepada para produsen besar (Intel, AMD, NVIDIA, dan ATI) yang berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Karena semakin keras mereka bekerja menjadi yang terbaik, semakin tinggi pula teknologi yang dihadirkan kepada kita.
Beberapa teknologi baru yang masuk ke dalam domain multiprocessor dan multigraphics untuk Personal Computer (PC) adalah prosesor dual core, SLI, dan CrossFire. Untuk prosesor dual core, Intel menghadirkan Intel Pentium D dan Intel Pentium XE sedangkan AMD menghadirkan AMD Athlon 64 X2. Sedangkan SLI dan CrossFire adalah teknologi dari NVIDIA (SLI) dan ATI (CrossFire) untuk menjalankan dua graphics card secara bersama dalam mengolah aplikasi 3D. CHIP sekarang tidak akan membahas secara mendetail mengenai teknologi-teknologi baru tersebut. Akan tetapi, artikel ini akan membahas mengenai chipset terbaru untuk platform prosesor Intel yang sudah mendukung beberapa teknologi baru tersebut.

Terlalu dingin: Akibat terlalu dingin, graphic card berkinerja tinggi dari Gainward malah tidak optimal kinerjanya.
DIAGNOSIS: Kami lalu menginstal graphic card ini pada komputer lain untuk memastikan masalah kompatibelitasnya. Tetap saja, graphic card ini bekerja terlalu lambat. Padahal, sistem pendingin sudah bekerja optimal. Anehnya, temperatur heatsink pada graphic chip sedingin es. Kami lalu menghubungi Nvidia. Ternyata, graphic card ini akan menurunkan clock-nya bila temperaturnya berlebihan, baik terlalu dingin atau terlalu panas. Jadi, akibat terlalu dingin, graphic card tidak bekerja dalam temperatur normal dan langsung menurunkan kinerjanya.
SOLUSI: Beberapa hari kemudian, Website Nvidia (www.nvidia.com) menyediakan Beta-Driver untuk mengatasi masalah temperatur ini. Setelah instalasi software baru ini, Gainward Graphic Card bekerja optimal.