17 October 2016 | 10257 view(s)
Google Selenggarakan Event Google Playtime di Singapura

Penulis : Kama Adritya

 

CHIP.co.id - Google sebagai pemimpin teknologi di dunia, baru saja menyelenggarakan event tahunan kedua di Singapura. Event yang digelar oleh Google Play ini bertajuk “Playtime”. Pada acara ini para developer game dan apps dari Asia Tenggara bergabung, di mana mereka akan saling berbagi pengalaman dan bekerjasama untuk membangun bisnis global lewat Android dan Google Play.

Acara ini dibuka oleh Purnima Kochikar, selaku Global Director of Business Development untuk Apps dan Games di Google Play. Dirinya menegaskan bahwa Google sangat berkomitmen untuk membantu para developer di Asia Tenggara untuk “Go Global” lewat Google Play.

“Asia Tenggara memiliki perkembangan inovasi digital yang sangat pesat. Ada semakin banyak para developer game dari Asia Tenggara yang dapat memasuki peringkat utama di Google Play. Hal tersebut memengaruhi ekonomi tidak hanya di lokal saja, melainkan juga di seluruh dunia!” ujar Purnima di pembukanya.

Menurut data yang dihimpun oleh App Annie dari tahun 2014-2016, di aspek waktu yang dihabisan untuk menggunakan apps di hampir seluruh pasar dari Asia Tenggara meningkat sampai lebih dari 2x lipat. Ini menunjukkan bahwa konsumen memiliki keinginan terhadap konten digital, sehingga masa depan di bidang ini sangat cerah.

Pada acara ini, Google Play mengundang 6 developer games dan apps dari Asia Tenggara. Yaitu Eldwin Viriya dari Own Games (Indonesia), Hung Dinh dari RubyCell (Vietnam), Gabby Dizon dari Altitude Games (Filipina), Andrius Baranauskas dari Carousell (Singapura), Desmond Lee dari AppXplore (Malaysia), dan Aun Taraseina dari Kiragames (Thailand).

Purnima Kochikar dari Google Play menjelaskan bahwa simplicity dan sophisticated harus ada pada apps ataupun game yang kita buat.

Umumnya, mereka sepakat bahwa pasar Asia Tenggara sedang melaju pesat terutama di Indonesia yang merupakan negara ‘mobile first’. Di mana banyak orang Indonesia yang berinternet melalui smartphone. Hal ini menyebabkan di Indonesia angka jumlah pengguna dan download baru di Google Play sangatlah tinggi.

Meski demikian, menurut data yang diberikan oleh App Annie yang dipresentasikan oleh Jaede Tan selaku Regional Director untuk App Annie, bahwa data revenue dari para pengguna di Indonesia masih belum besar. Namun, angka tersebut terus meningkat seiring dengan makin banyaknya orang Indonesia yang mau mencoba bertransaksi lewat online.

Sebagaimana dijelaskan oleh Purnima, perolehan revenue dari masing-masing negara sangat bergantung terhadap nilai budaya dari masing-masing negara. Dan uniknya, menurut data App Annie bahwa dari seluruh anggota negara di Asia Tenggara masing-masing memiliki cara dan latar belakang yang berbeda-beda pula. Seperti misalnya di Indonesia yang secara budaya masih banyak orang yang belum percaya dengan metode pembayaran lewat kartu kredit, di mana hal ini sangat bertolak belakang dengan Singapura yang sangat mengandalkan metode pembayaran itu.

Jaede Tan dari App Annie memaparkan data yang menunjukkan bahwa pasar di Asia Tenggara sangat menjanjikan.

Untuk itu, dari acara Google Play “Playtime” ini dapat disimpulkan bahwa bagi para developer apps maupun games yang ingin menembus pasar global harus mempertimbangkan beberapa hal. Salah satunya adalah buatlah aplikasi atau game kita dengan konsep sesimpel mungkin, namun faktor bisnisnya harus dibuat serumit-rumitnya. Karena menurut Purnikar, game atau apps yang memiliki konsep simpel akan lebih mudah diterima pasar secara global.

Meski demikian, aspek bisnisnya juga harus diperhatikan dan dibuat sedetail mungkin. Untuk itu, Google melalui Google Play melakukan inovasi secara terus menerus yang membantu para developer di aspek bisnisnya. Salah satunya adalah dengan program akselerator yang sudah berjalan, dan program Billing for Billons yang akan mengatur kerumitan aspek bisnis yang bisa disesuaikan oleh masing-masing developer.

Dan terakhir, Kunal Soni selaku Head of Business of Development Google Play di Asia Tenggara menyimpulkan bahwa jangan pula melupakan konten lokal dari masing-masing negara yang akan kita sasar jika ingin sukses di pasar global. Jadi jangan hanya sekadar menerjemahkan bahasa ke bahasa lokal, melainkan juga harus menyesuaikan dengan budaya dan konten lokal dari masing-masing negara yang kita sasar.

 


You may also like:

Jumlah Pengguna Spotify Kalahkan Apple Music

Apple Music Sudah Tersedia di Google Play Store

Hati-hati, Trojan Svpeng Incar Pengguna Android!

Smartphone Motorola akan Hadir di Indonesia Penuhi Aturan TKDN
comments powered by Disqus
BBM Widget

PIN : C001D0134

Publication
© 2012-2017 CHIP ONLINE. PT Prima Info Sarana. All Rights Reserved. | About CHIP | Privacy Policy