Advertisement
01 September 2016 | 2218 view(s)
Bagaimana Cara Menilai Sebuah Kota Sudah Menjadi Smart City?

Penulis : Kama Adritya

CHIP.co.id - Smart City atau Kota Pintar ini adalah sesuatu yang beberapa tahun belakangan ini sering kita dengar. Terutama seiring dengan makin kencangnya gaung pemilihan pimpinan daerah. Di mana kebanyakan para pemimpin tersebut mempunyai visi dan misi untuk menjadikan daerah yang dipimpinnya mendapatkan predikat Smart City.

Namun, kebanyakan orang masih menganggap bahwa Smart City adalah hanya tentang teknologi. Bahwa kota pintar itu adalah kota yang serba canggih, dipenuhi dengan sistem komputer dan otomatisasi, seperti kota-kota modern di film-film Hollywood. Memang betul bahwa teknologi adalah salah satu kriteria dasar yang diperlukan untuk memenuhi predikat sebutan Smart City atau Kota Pintar. Namun teknologi saja tidaklah cukup.

Kriteria Smart City

Menurut salah satu pakar Smart City dari Juniper Research, kriteria yang diperhitungkan dari sebuah Smart City itu adalah teknologi, gedung-gedung yang berada di dalam kota tersebut, sarana-sarana penunjang, transportasi dan infrastruktur jalan, serta penduduk dari kota itu sendiri.

Jadi selain teknologi seperti Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai landasan dasar dari sebuah kota pintar, dibutuhkan juga gedung-gedung yang menunjang. Baik itu gedung yang menggunakan sumber energi yang ramah lingkungan, mempunyai tenaga listrik yang efisien, sampai dengan fungsi dari gedung itu sendiri. Desain dan tata letak gedung itu sendiri juga harus menjadi perhatian utama. Karena desain yang menghabiskan ruang tanah secara percuma akan menjadi mubazir dan tidak efektif. Begitu juga dengan tata letak gedung itu juga harus dapat mendukung operasional penghuninya dengan baik. Termasuk tata letak gedung itu di dalam kota itu, di mana posisi juga dapat memengaruhi arus pergerakan penduduk di sekitar gedung tersebut juga.

Dan tentu saja, salah satu yang paling penting itu adalah sarana-sarana penunjang di dalam kota. Sarana seperti layanan publik menjadi salah satu point penting untuk mencapai predikat Smart City. Jika sarana layanan publik masih menggunakan sistem birokrasi yang panjang, maka sudah dapat dipastikan bahwa kota tersebut tidak ‘pintar’. Dengan adanya teknologi dan efisiensi, seharusnya layanan sarana masyarakat tersebut bisa dimaksimalkan.

Kemudian salah satu barometer dari suksesnya sebuah kota dan bukan hanya untuk predikat kota pintar saja, yaitu transportasinya. Infrastruktur jalan raya di dalam kota itu juga harus efektif dan efisien dan disesuaikan dengan kondisi penduduk di dalamnya juga. Salah satu tanda bahwa sebuah kota itu maju adalah saat penduduk di dalamnya tidak perlu banyak mengeluarkan biaya untuk transportasi. Karena sarana transportasinya yang sudah efektif dan efisien sehingga tarifnya bisa dibuat ekonomis atau bahkan bisa ditalangi dari penghasilan dan pendapatan daerah saja.

Dan bukan itu saja. Untuk menyandang predikat kota pintar, tidak bisa hanya mengandalkan dari pemerintahan saja. Agar sistem dan mekanisme sebuah kota pintar itu bisa berjalan dengan baik, butuh kerjasama aktif dari para penduduk kota itu juga. Penduduk dari kota tersebut juga harus sadar terhadap peraturan dan norma-norma kehidupan. Juga harus bisa menjaga kebersihan, kenyamanan, dan keamanan dari kota tersebut. Dan harus bisa sadar terhadap pengeluaran omisi karbon sehari-harinya, sekaligus untuk menjaga lingkungan planet kita.

Jika kota tersebut sudah dapat menyandang predikat Smart City atau Kota Pintar, maka kota tersebut berarti akan tidak terlalu banyak menghasilkan limbah, memberikan kualitas hidup yang lebih baik, dan memastikan masa depan yang lebih cerah untuk generasi berikut.

Standar Internasional

Meski demikian, bagaimana menilai sebuah kota yang sudah masuk kategori Smart City masih menimbulkan perdebatan di antara para pakar. Karena seiring dengan makin majunya teknologi dan semakin sadar dan efisiennya penduduk kota tersebut maka dampak hasil yang memengaruhi kota tersebut juga akan berbeda-beda pula. Setiap kota akan memiliki kriteria dan kebutuhan yang berbeda-beda pula. Sehingga yang berhasil di satu kota, belum tentu akan berhasil di kota lain kala menggunakan sistem yang sama.

Untuk itu, dibuatlah sebuah standar internasional baru yang dijadikan patokan kala menilai sebuah kota pintar. Standar yang diberi nama ISO/TS 37151 ini mencakup 14 kebutuhan dasar yang dibagi dari 3 penilaian yang berbeda, yaitu Penduduk, Manajer Komunitas (dalam hal ini pimpinan daerah), dan Lingkungan.

Setelah standarnya dipenuhi, maka sebuah kota baru bisa dinilai sebagai Smart City atau Kota Pintar. Kemudian, baru kota tersebut dilihat kesuksesannya berdasarkan dari kebutuhan masing-masing kota. Setiap tahunnya, akan ada semakin banyak Smart City atau Kota Pintar yang muncul. Masing-masingnya juga memberikan solusi dan keunggulan yang berbeda-beda pula. Namun, semuanya memiliki kesamaan dalam hal bahwa kota-kota tersebut dikelola dengan baik dan para penduduknya saling berkolaborasi dengan pemerintahan setempat untuk mengembangkan tempat mereka dengan cara yang pintar.


You may also like:

Makassar Smart City

Ericsson Yakin Indonesia Akan Lewati Negara Maju di Bidang Smart City

ISCF 2016 @ Bandung

Tiga Hal Penting Kala Bangun Smart City
comments powered by Disqus
BBM Widget

PIN : C001D0134

Most Popular
Publication
© 2012-2017 CHIP ONLINE. PT Prima Info Sarana. All Rights Reserved. | About CHIP | Privacy Policy