02 September 2016 | 2196 view(s)
ISCF 2016: Kurangi Kompetisi, Perbanyak Kolaborasi!

Penulis : Kama Adritya

CHIP.co.id - Pada acara Indonesia Smart City Forum 2016 (ISCF) di Bandung, dibuka oleh walikota Bandung Ridwan Kamil beserta Menteri PAN Asman Abnur, dan Ketua APEKSI Airin Rachmi. Dengan gagasan besar bahwa teknologi bisa membawa Indonesia menjadi negara hebat dengan kata kuncinya kolaborasi.

Designing Smarter Bandung, Happier Citizen

Acara ISCF ini sendiri adalah acara yang digagas oleh Ridwan Kamil dengan tujuan ingin bersama-sama memperlihatkan kemajuan-kemajuan di daerah-daerah yang sudah banyak melakukan kegiatan berbentuk Smart City untuk memperbaiki layanan ke masyarakat. Dengan cara memperbaiki reformasi birokrasi dengan melakukan penghematan-penghematan.

Harapannya pulang dari acara ini akan membawa oleh-oleh dalam bentuk ilmu, maupun kerjasama, dan aksi langsung.”, ujar Ridwan Kamil pada pembukaan acara ISCF ini.

Karena ada banyak masalah, seperti polusi, populasi, banjir, kemacetan, dan lain sebagainya. Untuk menjawab permasalahan tersebut maka dibutuhkan solusi nasional. Seperti Smart City yang memberikan solusi masalah terhadap sumber daya dan layanan yang tepat , serta bisa memberikan layanan masyarakat.

Kenapa Smart City? Karena pada masa teknologi ini semua memang bertumpu pada teknologi. Yang lekat dengan masyarakat, sehingga mempermudah masyarakat. Serta dapat mengintegrasikan kecerdasan kolektif. Dan menempatkan masyarakat secara efektif dengan memberikan pembangunan yang terus berkembang dan lugas.

Di acara ini juga ada penandatanganan MOU antara pemerintah berbagai kota dan kabupaten dengan pemerintahan kota Bandung untuk dapat saling berbagi teknologi yang dimiliki. Di mana terdapat belasan kota maupun kabupaten yang akan mengadopsi program sukses dari Bandung tanpa keluar biaya. Sebut saja kota dari Tangerang sampai Sabang akan segera mengadopsi program Smart City yang sudah dijalankan oleh kota Bandung.

Melihat kembali kota Bandung sebagai Smart City, menurut Ridwan Kamil atau yang lebih akrab dipanggil Kang Emil, bukan untuk gaya-gayaan melainkan memang untuk kebutuhan dari masyarakat itu sendiri. Tanpa program Smart City, pemerintah tidak akan dapat mendeteksi anggaran yang boros, maupun yang tersembunyi di balik tumpukan birokrasi yang tidak efisien.

Tanpa Smart City, maka tidak akan tahu masalah di lalu lintas, tidak akan tahu problem di proyek-proyek. Karena sistemnya dari manusia ke manusia sehingga rentan terjadi kesalahan. Oleh karena itu dibutuhkan sistem Smart City untuk membantu untuk mengatasi masalah-masalah skala kecil, agar pemerintah bisa fokus perhatiannya untuk menyelesaikan masalah yang lebih besar.

Salah satu prestasi kota Bandung dalam mengembangkan Smart City adalah:

1.      Smart City bisa mengajak warga untuk berinteraksi, misalnya program di mana warga bisa evaluasi kecamatan dan kelurahan Bandung (SIP BDG JUARA). Di mana warga bisa memberikan rating pada lurah camat yang ada di Bandung. Sehingga terjadi peningkatan kualitas dalam layanan masyarakat. Di mana ada beberapa lurah maupun camat yang dicopot jabatannya berdasarkan dari laporan masyarakat ini.

2.      Smart City juga bisa untuk melakukan digitalisasi data. Sehingga untuk mengolah data yang terkumpul bisa lebih mudah karena proses pencarian datanya bisa lebih singkat. Sebagai contoh, untuk mengecek data tanah yang kita miliki bisa dilakukan dimanapun.

3.      Ada e-budgetting. Seperti dokter mesin audit yang meneliti ribuan kegiatan. Di mana dengan mesin ini bisa memetakan prioritas program di Bandung. Bisa menghemat sampai 1 Trilyun rupiah. Harapannya jika semua daerah mengadopsi program ini maka bisa menghemat trilyunan rupiah.

4.      Kerjasama dengan polisi dengan membuat Panic button. Di mana layar hp jika dipijit 3x maka otomatis alarm akan berbunyi di kantor polisi dan komando pusat. Sekaligus otomatis memberikan sms ke orang terdekat agar dapat menolong. Caranya cukup dengan mendaftarkan nomor hp. Mobil patroli polisipun sudah dipasang GPS dan alat monitor keamanan untuk bereaksi terhadap laporan warga.

“Intinya kita ingin berbagi achievement ini untuk dapat diadopsi ke masing-masing daerah sehingga bisa mengoptimalkan daerah dan melakukan penghematan anggaran. Ingin menuju Indonesia hebat dengan kekompakan daerah. Semangatnya adalah kurangi kata kompetisi dan perbanyak kolaborasi karena kita Negara Kesatuan Republik Indonesia.”, tandas Kang Emil di penutup sambutannya.

Meski berbeda-beda kualitas dan kapasitas teknologi daerah, tidak akan menjadi masalah. Karena sistem yang dibangun di Bandung juga masih menggunakan teknologi sederhana seperti SMS. Bandung memiliki 300-an apps karena Bandung baru memetakan 300 masalah. Sebagai perbandingan Singapura memiliki 1600 apps. Karena jumlah masalah di Singapura ada 1600 macam. Intinya, jumlah apps sebagai solusi harus setara dengan jumlah masalah.

Dari 0 – 100%, dari 300 apps yang dimiliki Bandung bisa menghemat 1 trilyun. Hampir 70% yang dulu tidak punya akses dan kontrol, sekarang bisa diatur. Biaya untuk anggaran Smart City di Bandung sudah keluar biaya 40 Milyar, untuk pembuatan platform awalnya. Namun, sebenarnya masalah yang dihadapi oleh daerah ada beberapa yang sama. Sehingga biaya tersebut tidak perlu dikeluarkan oleh daerah tersebut lagi. Sehingga sudah bisa menghemat banyak. Terlebih lagi kalau tinggal meniru saja.

Harapannya dengan adanya arahan dari level menteri maka mimpi kebersamaan ini bisa membawa Indonesia menjadi negara tercanggih dalam hal layanan masyarakat. Harapannya acara inisiatif ini bisa dibawa ke tingkat nasional oleh pak menteri agar bisa mengakselerasi pelayanan publik ini.” ujarnya.

ISCF Menjadi Acara Wajib Bagi Pimpinan Daerah

Harapan dari Kang Emil tersebut disambut baik oleh Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI Asman Abnur yang datang bersama tim yang bertugas untuk membuat reformasi birokrasi di Indonesia. Beliau sangat menyambut baik inisiatif dari Bandung ini karena dirinya mengakui bahwa banyak hal yang harus diupgrade ke depan dan dieksekusi. Menurutnya, semua harapan dari walikota Bandung sejalan dengan instruksi Presiden.

Di mana instruksi dari Presiden untuknya adalah:

1.      Fokus perbaiki layanan publik. Karena ini adalah amanat rakyat. Birokrasi harus mengurus rakyatnya. Bukan sebaliknya. Dalam hal ini, inisiatif Bandung menjadi ajang nasional yang wajib dijalani oleh pemerintah-pemerintah daerah di seluruh Indonesia.

Event ini tiap tahunnya harus ada, dan diwajibkan kepada seluruh kota dan kabupaten untuk mengikutinya. Karena ini adalah forum yang paling praktis tanpa harus banyak berpikir dan studi banding lagi. Serta hemat biaya karena tidak perlu studi ke luar negeri. Semua konsep yang berhasil tinggal ditiru dan diterapkan ke masing-masing daerah.” ujar Asman.

Bahkan sudah ada 30 kota di Indonesia yang bekerjasama dengan Bandung secara gratis tanpa biaya. Tinggal contoh, implementasi, dan laksanakan. Dengan adanya inisiatif ini bisa memotong perjalanan panjang untuk menjadi negara maju menjadi separuhnya. Aparatur sipil negara tidak boleh kalah lagi oleh swasta. Sehingga dirinya akan mengeluarkan SK Menteri di mana mewajibkan semua pimpinan daerah untuk mengikuti program ISCF ini. Tugas menteri menjadi lebih ringan karena tinggal menularkan konsep ini ke semua.

2.      Penerapan e-government dan e-budgeting. Karena sudah tidak zaman lagi anggaran negara habis sia-sia. Tidak terukur hasilnya. Ada satu daerah betapa gampangnya seorang kepala daerah mengontrol tenaga aparatur di bawah echelon 4, seperti program pertanian bisa dikontrol progresnya. Apakah anggaran tersebut efektir atau tidak. Ternyata selama ini anggaran negara itu tidak terkontrol, sehingga masih banyak kebocoran-kebocoran. Bisa jadi daerah lebih maju daripada pusat.

3.      Meningkatkan kualitas pegawai negara kita. Ternyata hampir 60% pegawai kemampuannya hanya administratif. Dan baru 40%-nya saja yang memiliki keahlian. Untuk itu lembaga kementerian akan membuat lembaga pendidikan yang memfokuskan diri pada keahlian.

Khusus untuk mahasiswa IP yang paling tinggi jika ingin menjadi pegawai negeri tidak perlu lagi ikut tes dan bisa langsung masuk. Karena Indonesia butuh bibit-bibit muda yang berprestasi. Untuk itu dibutuhkan SDM yang ingin maju dan kreatif.

“Dengan adanya Smart City ini, level menteri tinggal mengawasi level walikotanya saja. Pemerintahan yang berbasis elektronik itu sudah tidak bisa dihindari lagi. Mari kita ubah tata cara kerja kita mengarah ke teknologi. Karena di negara maju, bukan hanya pemerintahnya saja yang dilatih IT, melainkan juga masyarakatnya juga agar tidak asing dengan IT.” tutupnya.

Smart Living, Smart Government, Smart Citizen

Ketua Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI), Airin Rachmi juga menyuarakan harapan yang sama. “Harapannya agar kota-kota yang sudah berprestasi dalam hal Smart City bisa berbagi dengan daerah-daerah lain. Smart City memiliki konsep yang besar, dan harapannya agar dapat memberikan layanan masyarakat yang lebih baik, luas, dan hemat biaya lewat inovasi. Karena dari semua aspek kehidupan kita karena masih banyak aspek kehidupan yang belum tersentuh teknologi.

Siapa yang menguasai inovasi teknologi maka ialah yang mampu memberikan layanan masyarakat yang lebih baik. Smart City lebih dilihat sebagai tools atau instrumen yang bersinggungan dalam segala aspek masyarakat yang efisien, ekonomis, dan accountable.” ujarnya.

Jangan terjebak dengan teknologi yang tidak tepat sasaran sehingga menjadi mubazir. Karena sebenarnya tidak semuanya membutuhkan teknologi yang canggih untuk melayani beberapa aspek kehidupan dalam masyarakat.

APEKSI selalu mendukung program-program pemerintahan. Dan Bandung dianggap sudah berhasil dalam konsep Smart City dan harapannya bisa membagi ilmu ke daerah-daerah lain agar bisa mengikuti kesuksesan Bandung.


You may also like:

ISCF 2016 @ Bandung

Makassar, Potret Smart City Indonesia Timur

Bagaimana Cara Menilai Sebuah Kota Sudah Menjadi Smart City?

NYC 311, Cara Pemerintah New York Gerakkan Smart City
comments powered by Disqus
BBM Widget

PIN : C001D0134

Most Popular
Hot Reviews
Publication
© 2012-2017 CHIP ONLINE. PT Prima Info Sarana. All Rights Reserved. | About CHIP | Privacy Policy