10 July 2016 | 5769 view(s)
Lebih Hemat dengan Lampu LED

Penulis : Nur Hasanah

CHIP.co.id - Kesan lama mengatakan, bahwa Light - Emitting Diode (LED) terlalu gelap. Selain itu, hanya bisa berkelip dengan warna hijau, tidak cocok dengan soket standar, dan yang terpenting, harganya terlalu mahal. Bila Anda termasuk salah satu orang yang berpendapat demikian, maka Anda perlu membaca artikel ini.

Era lampu LED berkualitas rendah yang berwarna putih layaknya mayat pucat, dan menyala di bawah lampu strobo, sudah jauh tertinggal. Kini, kualitas lampu LED semakin meningkat. Seiring berjalannya waktu, harganya semakin murah. Saat ini, Anda dapat membeli lampu LED berkualitas tinggi dengan murah, dan di saat bersamaan memiliki umur yang panjang. Namun, untuk menentukan lampu mana yang lebih baik, bukan hal yang mudah.

Semikonduktor, bukan panas
Lampu LED secara mendasar memiliki perbedaan struktur dengan lampu biasa.  jenis LED tidak membuat filamen bercahaya menggunakan listrik, sebaliknya lampu LED menggunakan saklar ballast elektrik pada LED yang berjajar. Berkat itu, LED sangat cocok untuk dijadikan sebagai lampu sorot, walau kini tersedia juga pada omni-antenna. Benda ini juga termasuk ke dalam pengujian CHIP, yaitu lampu “retrofit” E14 dan E27 untuk soket standar. Bila plat LED phosphor kuning berukuran kecil menganggu Anda ketika mereka dimatikan, Anda dapat menggunakan lampu dengan gelas buram. Lampu ini tidak terlihat berbeda dengan lampu biasa, hanya saja tidak mengeluarkan banyak panas.

Kesalahpahaman yang meluas di kalangan pengguna, yakni lampu LED tidak mengeluarkan panas. Hal ini tidak benar, LED juga mengubah sebesar 70 persen dari listrik yang diterimanya menjadi panas. Namun, LED menggunakan lebih sedikit listrik dibandingkan bohlam, atau lampu hemat listrik lainnya. Jadi, Anda dapat menyentuh lampu LED ketika menyala, tanpa perlu khawatir akan tersa panas dan menyakiti diri sendiri. Sebagian besar panas dari semikonduktor, sensitif bila ballast elektrik disebar ke sekitarnya. Bila LED Anda life cycle-nya (umurnya) habis sebelum waktunya, hal ini bisa terjadi akibat soket yang tidak menyerap panas. Lampu yang "bernafas" tersebut, dapat hidup selama beberapa tahun dan tidak mendadak mati, tetapi cahayanya akan meredup seiring umurnya yang semakin menua.

Sebelumnya, Anda hanya perlu memerhatikan soket dan besar Watt ketika memilih lampu. Sekarang, bentuknya juga penting untuk diperhatikan. Bentuk lampu LED akan memberikan bias cahaya yang terpancar darinya. Spesifikasi lumen tanpa adanya sudut radiasi, sama tidak bergunanya seperti lampu putih tanpa adanya identifikasi CRI. Untuk itu, CHIP telah mengompilasi beberapa uraian yang cukup penting bagi Anda, pada rangkuman di sudut kanan atas halaman sebelumnya. Sementara itu, Pembuat lampu harus memberikan nilai tersebut, meskipun melalui online. Bila nilainya tidak tertera, kami menyarankan Anda untuk memberitahu operator website me­ngenai pelabelan untuk flux, temperatur warna, dan lainnya.



Bagaimana CHIP menguji lampu LED
Pada pengujian ini, CHIP memfokuskan terhadap lampu terbaru yang diharapkan akan menggantikan bohlam, yaitu E14 dan E27. Keduanya berwarna putih dalam bentuk bola kaca buram, supaya dioda-nya tidak terlihat ketika lampu dimatikan. Sebelum tes dimulai, CHIP menyalakan tiga sampel dari tiap model lampu selama tiga minggu (sekitar 504 jam). Kemudian, kami mendapatkan nilai tes menggunakan photogoniometer, sebelumnya telah kami modifikasi dengan sistem mekanik untuk mengukur radiasi dinamis, dikembangkan oleh CHIP sendiri.  

Pada tabel di halaman berikutnya, Anda dapat melihat semua hasil pengukuran, dan spesifikasi pabrikan yang juga penting. Pada kategori “lighting character­istics”, kami mengevaluasi sudut maksimum radiasi dan homogeneity, misalnya kurva brightness konsisten ketika lampu diputar. Pada kategori “Colour characteristics," indeks render warna dan juga perbedaan antara temperatur warna diukur, dan dibandingkan dengan spesifikasi pabrikan. Sementara itu, kategori “Power efficien­cy” berisi hasil pembagian dari luminous flux dan power consumption.

Tidak semua nilai memengaruhi hasil keseluruhan. Hal ini masuk akal: pencahayaan seringkali bergantung pada selera. Misalnya, tidak ada yang namanya temperatur warna terbaik. Banyak orang yang memilih warna hangat untuk ruang­an bersantai, tetapi ada pula yang memilih warna dingin. Selain itu, "lebih terang, lebih baik" tidak berlaku di sini. Anda tentunya tidak ingin menggunakan lampu sorot sebuah konser musik untuk digunakan sebagai lampu membaca. Namun, ada pula nilai yang harus Anda ingat ketika membeli lampu.

Lampu LED IKEA, secara mengejutkan menjadi pemenang
Lampu LED besutan IKEA, secara mengejutkan menjadi pemenang. Lampus LED tersebut, memberikan distribusi cahaya yang sangat bagus pada sudut radiasi besar, dengan fidelitas cahaya yang tinggi. Selain itu, harganya cukup terjangkau.
Namun, pengukuran lain juga penting, jadi ini bukanlah rekomendasi mutlak. Bila Anda perhatikan dimensinya, Anda akan menyadari bahwa lampu yang menang, lebih panjang dan lebar dari biasa­nya. Model Ledare tampaknya juga memiliki indikasi masalah dengan pendinginan, karena soketnya yang terlalu menonjol.

Semua lampu tersebut mungkin telah melalui tes ketahanan CHIP, tetapi untuk menikmatinya dalam waktu lama, Anda harus waspada untuk tidak memaksakannya di soket sempit. Bahkan untuk lampu LED sekalipun, masih banyak yang perlu diperhatikan, seperti halnya dengan lampu bohlam.       

 


You may also like:

Browser Baru Opera Mampu Hemat Baterai Laptop Hingga 50%

Menumpas Vampir Energi di Rumah

Tips dan Trik: Memahami Flash Eksternal

Armaggeddon MKA-11R RGB Raptor Tampilan Agresif Berbalut Jutaan Warna
comments powered by Disqus
BBM Widget

PIN : C001D0134

Publication
© 2012-2017 CHIP ONLINE. PT Prima Info Sarana. All Rights Reserved. | About CHIP | Privacy Policy