You are Here : Home > News > Hardware From The Magazine
12 July 2016 | 3177 view(s)
Di Balik Gerakan Lengan Bionic

Penulis : Nur Hasanah

CHIP.co.id - Untuk mengatasi kekurangan yang dimilikinya, I Wayan Sumardana patut men­dapatkan apresiasi. Bagaimana tidak? Kreativitasnya dalam membuat alat bantu bagi dirinya sendiri memang sempat menghebohkan dunia maya. Sayangnya, terdapat informasi dan juga pemahaman yang kurang tepat dari masyarakat terkait lengan bionic milik I Wayan Sumardana ini.
Andrew Joewono, S.T., M.T., dosen Teknik Elektro, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, memaparkan beberapa hal terkait le­ngan bionic. Pemaparan ini terkait perbedaan antara sistem kerja mekanik dan elektrik, sampai dengan cara kerja lengan bionik elektrik.

Alat bantu bernama elektrode, berfungsi untuk mengambil nilai gelombang dari otak untuk pergerakan tertentu.


Antara mekanik dan elektrik
Jika berbicara tentang lengan bionic, ada baiknya jika Anda me­ngetahui perbedaan antara alat bantu mekanik dan juga elektrik. "Dalam kasus I Wayan Sumardana, le­ngan bionic yang dibuat sebenarnya lebih mengarah ke mekanik ketimbang elektrik," jelas Andrew. Menurutnya, sistem lengan yang mekanik, bekerja dengan cara memanfaatkan pergerakan engsel di bagian tertentu. Sebagai contoh, jika bahu dinaikkan, maka lengan akan naik ke atas. “Sistem seperti ini sangat mungkin dibuat oleh I Wayan dikarenakan keahliannya dalam mengelas.” ujarnya.

Sementara untuk elektrik, pembuatannya tidaklah mudah untuk orang awam. Selain membutuhkan peralatan dan teknologi yang khusus, prosesnya pun memerlukan beberapa tahap seperti menerjemahkan gelombang otak seseorang dengan alat khusus yang hasilnya diolah dahulu dengan program. Secara kasat mata pun, teknologi yang menggunakan elektrik mudah dibedakan dibanding yang mekanik. Karena secara umum, penggunaan mekanik yang murni akan menghasilkan alat bantu yang berukuran besar dan berat.

Cara kerja bionik elektrik
Pertama-tama, untuk menggerakkan alat bantu tersebut, lengan bionic harus mengenali perintah-pe­rintah dari otak manusia yang muncul dari besarnya gelombang yang dihasilkan. Untuk mendapatkan nilai tersebut, pengguna harus menggunakan alat yang dipasangkan ke kepala bernama elektrode.

Elektrode bertugas untuk menangkap sinyal elektrik di tubuh untuk diteruskan ke rangkaian pengolah data sinyal yang berfungsi menggerakkan peralatan yang akan dikendalikan. Pengambilan data dilakukan dengan melakukan beberapa gerakan seperti menaikkan lengan, menggenggam, dan lain sebagainya. Alat yang terhubung dari kepala ke komputer ini akan mencatat besaran nilai tertentu untuk diolah. “Besaran nilai tersebut ada nilai minimum dan maksimumnya,” ujar Andrew.

Pengambilan sinyal elektrik juga bisa bisa diambil dengan clip yang dipasangkan di lengan.

Setelah mendapatkan berbagai macam gelombang dari berbagaivariasi gerakan, kumpulan pe­rin­tah tersebut nantinya akan di­sim­pan ke dalam sebuah ROM yang di­tanam ke lengan buatan. Setelah me­miliki rekaman perintah sendiri dan sudah mampu mengenali menerjemahkan nilai gelombang tertentu untuk menjalankan pe­rintah yang spesifik, alat yang terhubung ke kepala tersebut akan dihubungkan secara langsung ke lengan bionic.

Processor signal ini akan memproses data untuk diteruskan ke PC.

Ada fakta yang menarik yang didapat dari elektrode ini, salah satunya adalah setiap orang memiliki kekuatan gelombang yang berbeda. Ada yang kuat, namun ada juga yang melemah karena beberapa faktor seperti bawaan sejak lahir atau karena kecelakaan tertentu yang mengakibatkan signal elektrik dari otak ke lengan dan bagian lainnya tergganggu. “Bahkan, untuk orang yang sama pun juga memiliki dinamika. Orang yang sama di waktu yang berbeda, kekuatan gelombang juga bisa berubah-ubah nilainya.” jelas Andrew.

Tentu saja, studi pembuatan lengan bionic membutuhkan banyak disiplin ilmu, tidak hanya Teknik Elektro saja yang berperan, melainkan melibatkan ilmu kedokteran dan lain sebagainya. Lagipula, tujuan dibuatnya lengan bionic lebih banyak sebagai alat bantu terapi, misalnya bagi pasien yang baru mengalami operasi penyambungan di bagian lengan. Harapannya, pasien bisa kembali menggerakkan tangannya seperti sedia kala.
 

Oleh Vincentius Handoyo Alim


comments powered by Disqus
BBM Widget

PIN : C001D0134

Publication
© 2012-2017 CHIP ONLINE. PT Prima Info Sarana. All Rights Reserved. | About CHIP | Privacy Policy