Press ESC to close

Workshop: Dua Hari di Ujung Genteng

Originated By : Chip Team

Ujung-Genteng

Oleh: Sandiasmo

CHIP.co.id - Apakah Anda sudah merencanakan tempat berlibur? Ujung Genteng menawarkan beberapa spot bagi para photography enthusiast. Baik bersama rombongan atau traveling solo, bergaya turis atau berhemat ala backpacker, semuanya bisa dipilih di Ujung Genteng.

Alarm handphone membangunkan saya dari tidur dan mengingatkan untuk pergi hunting ke pelelangan ikan. Dari kelima perjalanan yang sudah saya jalani ke Ujung Genteng, baru kali ini saya menyewa sebuah kamar di rumah seorang nelayan. Tanpa mandi terlebih dahulu, saya segera pergi dari rumah panggung berdinding anyaman bambu. Pemiliknya, yaitu Pak Ucup sudah pergi melaut sejak subuh tadi.

Ujung Genteng adalah sebuah daerah wisata di Kabupaten Sukabumi bagian selatan yang biasa menjadi lokasi hunting para fotografer. Jaraknya sekitar 120 kilometer dari Kota Sukabumi. Untuk mencapainya, dibutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam dari Sukabumi. Sebelum ramai oleh turis domestik, ombak di tempat ini sudah menjadi magnet bagi peselancar mancanegara. Ditemani oleh pemandu lokal, mereka membuka jalur menuju lokasi-lokasi yang sulit ditempuh untuk sekedar menemukan pantai dengan ombak yang bagus untuk berselancar.

Bagi kalangan fotografer, tempat ini menawarkan beberapa spot foto lansekap yang indah.  Pantai berpasir putih disini menghadap ke barat sehingga sesuai untuk foto-foto sunset. Salah seorang fotografer yang pertama memperkenalkan Ujung Genteng adalah Bapak Petrus Suryadi.

Pertama kali mengunjungi Ujung Genteng di tahun 1992, photography enthusiast yang berdomisili di Kota Bogor ini lalu membagikan informasi ke milis-milis perjalanan. Berikutnya ia banyak meng-upload foto-foto Ujung Genteng di situs fotografi dan menemani rombongan fotografer ke beberapa spot. Saat ia pertama kali berkunjung, daerah ini belum memiliki penginapan sehingga kala itu ia menginap di konservasi penyu di Pantai Pangumbahan.

Tempat Pelelangan Ikan

Spot foto yang saya sambangi pertama kali adalah tempat pelelangan ikan yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah Pak Ucup. Lokasi ini adalah sebuah tanjung sehingga Anda bisa mengabadikan sunrise dan sunset dari spot ini. Saat langit cerah tidak berawan, kita bisa melihat Gunung Salak dan Gunung Gede berdiri, rasanya dekat sekali.

Lelang-ikan-ujung-genteng

Di tempat ini kita juga bisa merekam aktifitas jual beli ikan. Selain masih segar, ikan di tempat ini dijual dengan harga yang tentu saja murah. Sebagai gambaran, satu kilogram daging Ikan Cucut (Marlin) dijual dengan harga Rp 35.000/kg sementara satu kilogram lobster dapat Anda bawa pulang dengan harga Rp 100.000/kg. Tidak heran, banyak wisatawan yang mengunjungi tempat ini untuk mencari lauk untuk kemudian diolah di penginapan.

Di sekitar tempat pelelangan ikan terdapat pantai yang dipenuhi puluhan kapal nelayan yang tengah ditambatkan. Tempat ini juga menyediakan aktifitas nelayan untuk foto-foto human interest. Pada pagi hari biasanya para nelayan tengah mempersiapkan diri untuk melaut. Saat saya sambangi, beberapa dari mereka tampak sedang memperbaiki jala, memasang lampu pada tiang kapal dan memasukkan bekal serta peralatan untuk mencari ikan.

Lelang-ikan-ujung-genteng

Dibandingkan dengan tujuh tahun yang lalu, para nelayan sudah tidak menggunakan kapal kayu lagi. Kapal-kapal berbahan fibre sudah mendominasi pantai. Menurut mereka, kapal kayu memiliki biaya perawatan yang tidak sedikit. Selain itu kayu untuk membuat kapal sudah semakin berkurang jumlahnya sehingga harus menunggu agak lama setelah dipesan. Kalaupun cepat, biasanya mereka harus menggunakan kayu ilegal dan hal ini sangat dihindari.

Setelah puas memotret aktifitas nelayan dan deretan perahu, saya berjalan kembali menuju penginapan. Kini banyak warga setempat yang menyediakan rumah atau kamar bagi pengunjung. Bahkan suatu desa di daerah Cibuaya kini menyediakan penginapan. Hal ini terjadi karena penginapan-penginapan yang sudah lama berdiri tidak mampu lagi menampung pengunjung saat peak season tiba.

Ombak Tujuh

Saat saya tiba, kebetulan Pak Ucup juga baru datang dari laut. Ikan hasil tangkapannya segera ludes dibeli oleh tamu dari penginapan di seberang rumah. Dengan ramah beliau mengajak saya makan siang dengan menu sederhana; nasi ditemani ikan goreng dan sambal.

Setelah makan siang selesai, saya mencari tukang ojek yang bersedia mengantarkan saya ke Ombak Tujuh. Lokasi ini menjadi tempat surfing ideal para peselancar karena ombaknya besar dan saat bergulung menuju pantai, kadang beruntun hingga tujuh buah. Tempat ini hanya dapat dicapai dengan kendaraan beroda dua.

Rute yang kami lalui cukup menantang, berupa jalan setapak dengan semak belukar di kiri kanannya yang kadang menggores kulit. “Menggunakan celana pendek tampaknya menjadi pilihan yang kurang tepat,” kata saya dalam hati. Jalannya bercabang-cabang sehingga bisa dipastikan saya akan tersesat bila tertinggal di tengah jalan. Selain itu kami harus menyeberangi tiga buah sungai yang tengah surut. Saat musim hujan, perjalanan ke Ombak Tujuh akan terasa lebih sulit karena jalan menjadi becek dan sungai terakhir dipenuhi air sehingga perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Dalam satu jam kami berhasil mencapai Ombak Tujuh. Saya menikmati sebuah pantai yang tampak masih asri. Kelihatan sekali kalau jarang dikunjungi wisatawan. Saya tidak menemukan satupun peselancar, ombak kebetulan tidak terlalu besar. Ada beberapa nelayan bersenjatakan tombak yang sengaja menyelam secara tradisional. Saya berpapasan dengan seorang nelayan yang tengah mengangkut sebuah karung besar. Belakangan saya tahu bahwa karung tersebut berisi seekor gurita dengan berat 40 kilogram!

Ombak-Tujuh-ujung-genteng

Di sebelah utara pantai ini terdapat batu belah, yaitu sebuah karang yang ditengahnya terdapat aliran sungai. Setelah itu terdapat Pantai Pasir Putih, yaitu sebuah pantai terpencil lainnya dengan panjang sekitar dua kilometer. Pantai ini merupakan satu dari sekian tempat pendaratan penyu di kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh ini.

Kami tidak berlama-lama berkeliaran di Ombak Tujuh, sekitar satu jam saja berkeliling. Tempat selanjutnya yang kami kunjungi adalah konservasi penyu di Pantai Pangumbahan yang kebetulan berada pada satu jalur.

1 2
Sources :
comments powered by Disqus

Quote

“ Ujung Genteng adalah sebuah daerah wisata di Kabupaten Sukabumi bagian selatan yang biasa menjadi lokasi hunting para fotografer. Jaraknya sekitar 120 kilometer dari Kota Sukabumi. ”
Sandiasmo