
CHIP.co.id - Berkat perkembangan teknologi informasi, televisi (TV) kini bukan sekedar pesawat penerima siaran saja, namun memungkinkan kita berinteraksi lebih dengannya. Fungsi dan feature yang ditambahkan menjadikan televisi semakin cerdas.
Darryl Francis Zanuck mungkin akan menelan perkataannya dalam-dalam, sebab produser dari studio kenamaan 20th Century Fox ini di tahun 1946 sempat melontarkan kalimat, "Televisi tidak akan bertahan lama, sebab orang tidak mau duduk berlama-lama menonton tabung gelas dalam kotak kayu setiap malam.”
Lebih dari 80 tahun semenjak pertama kali pesawat televisi dijual secara komersil (tahun 1930-an), teknologi di dunia televisi berkembang sangat pesat, baik dari materi maupun cara penyiarannya. Berawal dari tabung Cathode Ray Tube (CRT), yang kemudian dilanjutkan dengan materi kristal cair atau yang kita kenal dengan istilah LCD (Liquid Crystal Display), lalu terus berkembang dengan materi-materi selanjutnya termasuk plasma dan LED (Light Emiting Diode).
Ketiga materi baru ini (LCD, LED, dan plasma), memang baru marak satu dekade belakangan ini, namun terobosan yang dilakukan produsen-produsen TV besar di dunia dengannya sangat pesat. Jika semula produsen-produsen TV saling berlomba membuat panel high definition dengan rasio kontras tinggi dan sudut pandang yang lebar, kini pertarungan itu dibawa ke tingkat yang lebih tinggi lagi.
Seolah jenuh dengan adu sakti di ranah high definition, produsen TV kini menawarkan fungsi lebih dari sebuah televisi. Konektivitas Internet ditanamkan ke dalamnya, sehingga membuat perangkat televisi lebih dari sekadar pesawat penerima siaran. Dengan fungsi Internet ini, pesawat televisi seolah semakin pintar dengan fungsi dan feature tambahan lainnya, inilah yang disebut Smart TV.
Mengapa Smart TV?
Apa yang ditawarkan Smart TV dibanding pesawat televisi umumnya? Seperti yang disebut tadi, dengan adanya konektivitas Internet, Smart TV memungkinkan produsen menambahkan feature aplikasi apa pun yang diinginkan, seperti hiburan, informasi/berita, game, cuaca, dan lain-lain.
Aplikasi-aplikasi tersebut ada yang diberikan oleh pihak pabrikan secara default atau bisa ditambahkan sendiri oleh pengguna. Pengguna bisa men-download aplikasi yang diinginkan melalui toko aplikasi yang dimiliki masing-masing produsen baik secara gratis maupun berbayar.
Bukan Internet TV
Walau sama-sama terhubung dengan Internet, namun Smart TV (disebut juga dengan Connected TV atau Hybrid TV) berbeda dengan Internet TV. Perbedaan itu terletak pada interaksinya. Smart TV memiliki ekosistem sendiri yang terdiri atas hardware yang terkoneksi dengan Internet -bisa terintegrasi dalam televisi atau terpisah- software yang menjalankan antarmuka (interface) pengguna, serta aplikasi-aplikasi yang berada di dalamnya. Mirip dengan ponsel pintar (smartphone), yang juga memiliki software dan aplikasi-aplikasinya sendiri. Konten yang dimiliki Smart TV fokus pada media yang interaktif, konten over-the-air (OTA), serta streaming media yang bisa dilakukan secara on-demand.
Sementara itu, Intel memiliki definisinya sendiri tentang Smart TV, yaitu TV dengan kemampuan mencari konten online dan personal serta program siaran dari antarmuka TV, bisa mengakses aplikasi yang bisa di-download, terhubung dengan jejaring sosial sembari menonton program di TV, mengontrol TV dengan remote control baru yang unik atau voice commands, dan bisa mengakses hiburan yang tak berbatas.
Smart TV oleh beberapa vendor
Beberapa pabrikan telah mulai memasarkan Smart TV di Indonesia, seperti LG, Panasonic, Samsung, dan Sony. Masing-masing memiliki feature andalan yang diharapkan bisa merebut hati konsumen di Indonesia.
LG Smart TV misalnya, yang mengembangkan Smart TV dari dasar teknologi NetCast yang dimiliki sebelumnya. Netcast adalah feature yang memungkinkan pengguna bisa menikmati Internet dari TV tanpa membutuhkan PC. Pengguna bisa menikmati video YouTube, mendapatkan informasi cuaca langsung dari Accuweather, serta berbagi foto secara online melalui Picasa di rumah.

Panasonic memiliki lini Smart Viera. Berbeda dengan platform Smart TV lainnya, Panasonic Smart Viera - yang menjadi official supllier televisi di ajang Olimpiade London 2012 ini kompatibel dengan sistem operasi Microsoft Windows 7 sehingga pengguna bisa menikmati video, musik, dan foto yang tersimpan dalam PC melalui televisi.
Sony dengan produk Bravia-nya, fokus ke konten high definition, terbukti dengan dukungan feature aplikasi YouTube HD yang diintegrasikan. Selain itu, integrasi jejaring sosial dengan TV Bravia oleh Sony dibawa ke tingkat lebih lanjut dengan feature ID Track. Feature ini bisa menampilkan update status Twitter dalam bentuk ticker yang berjalan di bagian bawah layar TV.
Sementara Samsung, pabrikan yang terkenal akan perangkat Smartphonenya, tak mau kalah dalam mendesain Smart TV-nya. Samsung telah memiliki ekosistem Samsung Bada yang dikembangkan dalam platform smartphone. Rumor yang beredar saat ini sistem operasi Bada akan dibawa Samsung ke lini produk Smart TV perusahaan. Samsung sendiri saat ini memiliki lebih dari 1000 aplikasi dalam Samsung Apps dan pada September 2011 mereka mengklaim telah terdapat 10 juta download dari sekitar 1000 aplikasi yang ada di App Store Smart TV Samsung. Lima aplikasi teratas yang sering di-download adalah Youtube, Google Maps, Accuweather.com, Vimeo, dan vTuner Internet Radio.
Notebook Ivy Bridge ASUS N46VM Telah Beredar di Indonesia
May 01, 2012