Advertisement
You are Here : Home > News > Security
22 July 2016 | 2001 view(s)
ISTR Norton by Symantec: Ransomware dan Bisnis 2016

Penulis : Nur Hasanah

CHIP.co.id - Ransom telah berkembang menjadi salah satu ancaman cyber yang paling berbahaya bagi perusahaan maupun konsumen, dengan kerugian global hampir mencapai ratusan juta dolar. Untuk itu, Chee Choon Hong, Director Asia Consumer Business, Norton by Symantec membeberkan Laporan Khusus ISTR terbaru mengenai Ransomware.

Angka infeksi ransomware terus meningkat dengan ditemukannya sejumlah kelompok ransomware setiap tahun, dengan rekor mencapai 100 kelompok ransomware pada tahun 2015. Hari ini, rata-rata uang tebusan yang dituntut penyerang telah melonjak sampai US$679, meningkat dari angka US$294 pada tahun 2015.

Meskipun serangan acak berskala besar masih merupakan jenis serangan yang paling lazim, terdapat bukti peningkatan serangan tertarget terhadap pelaku bisnis. Sejumlah kelompok ransomware telah mulai menggunakan teknik serangan canggih yang menunjukkan tingkat keahlian yang mirip dengan serangan mata-mata cyber.

Menurut Chee Choon Hong, di lain pihak, kemunculan ransomware sebagai jasa (ransomware-as-a-service/RaaS) berarti terdapat semakin banyak penjahat cyber yang dapat memperoleh ransomware mereka sendiri, termasuk kelompok dengan level keahlian yang relatif rendah.

Sektor jasa merupakan sektor bisnis yang paling terpengaruh oleh serangan ransomware, dengan presentase sebesar 38% dari seluruh serangan global. Sektor bisnis lain yang paling terpengaruh, antara lain sektor manufaktur sebesar 17%; sektor keuangan, asuransi, properti sebesar 10%; serta administrasi publik sebesar 10%.

Meskipun lebih kompleks dan memakan waktu, serangan sukses terhadap suatu perusaaan berpotensi menginfeksi ribuan komputer, menyebabkan gangguan operasional besar dan kerugian pendapatan dan reputasi serius. Jika kelompok penyerang melihat sejumlah pelaku bisnis menyerah dan membayar tuntutan, semakin banyak penyerang akan mengikuti dan mendapatkan keuntungan dari serangan berikutnya.

Dalam presentasinya, Chee Choon Hong juga memaparkan antara Januari 2015 sampai April 2016, Amerika Serikat merupakan kawasan yang paling banyak diserang oleh ransomware, dengan presentase sebesar 31%  dari serangan global. Sementara 10 negara lain dengan serangan ransomware terbanyak antara lain, Italia, Jepang, Belanda, Jerman, Inggris, Kanada, Belgia, India, dan Australia. Sekitar 43% korban ransomware adalah karyawan dari suatu perusahaan.

Untuk mengurangi resiko infeksi, Symantec memiliki strategi yang dapat melindungi pengguna dari ransomware yakni dengan mencegah infeksi yang datang melalui email dan exploit kit dengan menggunakan perlindungan seperti Symantec Email Security.cloud, Symantec Messaging Getaway, dan Symantec’s Browser Protection. Selain itu, Symantec juga mampu mencegah penyebaran infeksi dengan teknologi berbasis file dari Symantec yang memastikan bahwa file apapun yang diunduh dari komputer tidak akan bekerja.


You may also like:

KLCSW 2016: Negara APAC Jadi Target Ransomware dan Serangan Cryptoware

Pengguna Internet Lansia Rentan Alami Penipuan Cyber

Gawat! Video Porno Tayang di Videotron

Sophos Luncurkan Intercept X Sebagai Solusi Keamanan Perusahaan
comments powered by Disqus
BBM Widget

PIN : C001D0134

Most Popular
Publication
© 2012-2017 CHIP ONLINE. PT Prima Info Sarana. All Rights Reserved. | About CHIP | Privacy Policy