29 September 2016 | 7471 view(s)
Kalau Ingin Buat Apps, Pilih iOS atau Android?

Penulis : Kama Adritya

 

CHIP.co.id - Jadi Anda ingin menjadi seorang pembuat aplikasi mobile? Setelah Anda memiliki ide dan keahlian untuk membuatnya, tentunya Anda juga harus menentukan aplikasi Anda tersebut dibuat untuk sistem operasi apa? Dua raksasa dunia hadir memberikan pilihan sistem, yaitu Apple dengan iOS dan Google lewat Android. Mana yang harus kita pilih?

Idealnya, jika Anda ingin membuat apps (aplikasi) mobile tentunya akan lebih baik jika Anda membuat di semua sistem operasi yang ada. Namun karena tingkat kesulitan dan terkait budget biaya, ada kalanya kita harus memilih. Agar dapat membantu Anda memilih sistem operasi, berikut ini adalah faktor-faktor yang musti Anda pertimbangkan sebelum memilih.

1.      Bahasa pemograman yang berbeda.
Hal yang utama untuk diperhatikan saat ingin membuat apps untuk iOS ataupun Android adalah penggunaan bahasa pemrogramannya yang berbeda antara satu dengan lainnya. Jika Anda ingin membuat apps untuk iOS, maka Anda harus membiasakan diri dengan Xcode IDE yang merupakan basis utama development untuk iOS. Bahasa pemrograman yang paling banyak digunakan untuk Xcode adalah Swift yang kebetulan memang dibuat Apple khusus untuk iOS. Meski demikian, Anda juga dapat menggunakan Objective-C, Java, maupun Python dengan Xcode.

Sedangkan Android menggunakan pemrograman yang berbeda, di mana Anda harus menggunakan Android Studio yang notabene menggunakan Java sebagai bahasa pemrograman utamanya. Meskipun antara Objective-C dan Java tidak terlalu jauh berbeda, namun ruang lingkup antara Xcode dan Android Studio sangat jauh berbeda. Namun, sebagai catatan tambahan: iOS Simulator untuk Xcode berjalan lebih mulus dan lebih ringan ketimbang Android Studio untuk debugger.

2.      Peralatan untuk membuat apps.
Salah satu kelemahan pada iOS atau Xcode adalah bahwa Xcode itu hanya bisa jalan pada perangkat Mac. Jadi jika Anda ingin membuat aplikasi untuk iOS maka Anda harus memiliki seperangkat Mac, serta iPhone ataupun iPad untuk menguji aplikasi tersebut. Dan sebagaimana kita ketahui, peralatan dari Apple itu tidak ada yang murah.

Kalau Android, Anda bisa menggunakan perangkat apa saja. Baik itu PC, Mac, ataupun perangkat open source lainnya. Hal ini dimungkinkan karena memang semangat Android itu adalah semangat open source. Sehingga jika Anda ingin membuat aplikasi tidak akan terbatasi oleh alat.

3.      Referensi design.
Berhubung Android itu memiliki beragam jenis pabrikan serta beragam jenis ukuran dan bentuk, maka design aplikasi Anda juga harus memikirkan banyak ragam bentuk. Untungnya, Google memberikan fasilitas Material Design yang menyeragamkan semua bentuk design tersebut. Anda tinggal memilih fungsi-fungsi ingin digunakan pada design Anda.

Di iOS, meskipun pilihan ragam perangkatnya tidak terlalu jauh berbeda, masih ada kelemahan terkait design di mana pada perangkat Apple tidak ada tombol lain selain tombol home. Sehingga dari segi design akan lebih sulit untuk navigasi di dalam aplikasi iOS. Meski demikian, di iOS hampir sebagian besar penggunanya akan selalu menggunakan sistem operasi iOS yang terbaru. Berbeda dengan Android di mana masih hampir 60% penggunanya masih berkutat di sistem operasi 3 tahun yang lalu.

4.      Target market yang ingin disasar.
Secara statistik, jumlah pengguna Android ada jauh lebih banyak daripada pengguna iOS. Menurut data, pengguna Android itu 3x lipatnya pengguna iOS. Sehingga jika Anda ingin menyasar jumlah pasar yang lebih besar, tentunya Android terlihat lebih seksi. Namun jika dilihat dari angka monetizingnya, pengguna iOS jauh lebih boros saat membeli apps di App Stores. Monetizing dari iOS bisa mencapai dua kali lipatnya Android lewat Google Playstore.

Namun yang perlu diingat adalah: proses seleksi aplikasi di iOS juga jauh lebih ketat dibandingkan dengan di Android. Karena di iOS ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi agar dapat lolos seleksi. Dan berhubung proses seleksi aplikasi di iOS dilakukan oleh manusia secara manual, maka proses tersebut akan memakan waktu bisa berminggu-minggu.

5.      Monetizing.
Tentunya ujung-ujungnya duit. Salah satu perbandingan yang peling ketara adalah perbandingan harga yang harus dikeluarkan pada masing-masing sistem operasi. Karena cara menghitung biaya di App Store milik iOS dengan bagi hasil Playstore milik Android sedikit berbeda. Pada iOS, Anda harus berlangganan setiap tahunnya sebesar $99 atau sekitar 1,3 juta rupiah per tahun. Sedangkan pada Android, Anda cukup bayar $25 atau sekitar 325.000 rupiah sekali saja. Dan Anda pun bisa langsung mengupload aplikasi Anda ke Playstore.

Untuk urusan bagi hasil, baik iOS maupun Android akan memotong ‘jasa’ sebesar 30% dari segala macam keuntungan yang Anda peroleh dari aplikasi tersebut. Baik itu dari sistem aplikasi berbayar ataupun penghasilan dari in apps purchase (pembelian di dalam apps).

Indosat Ooredoo mengajak pemuda Indonesia dan pemuda di belahan dunia lain untuk menciptakan ide dan aplikasi agar Indonesia bahkan dunia yang lebih baik. Melalui ajang IWIC ke-10 ini, diharapkan talenta digital Indonesia bisa sejajar dengan pemain Internasional dan menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya sebagai negara pengguna namun juga pembuat aplikasi mobile yang siap bersaing di kancah Internasional.

Untuk info lebih lanjut, kunjungi https://iwic.indosatooredoo.com/en/


You may also like:

Microsoft Perkenalkan Windows 10 Anniversary Edition di Indonesia

Total 66% Perangkat iOS Sudah Menjalankan iOS 9

Hati-hati, Trojan Svpeng Incar Pengguna Android!

Smartphone Motorola akan Hadir di Indonesia Penuhi Aturan TKDN
comments powered by Disqus
BBM Widget

PIN : C001D0134

Most Popular
Hot Reviews
Publication
© 2012-2017 CHIP ONLINE. PT Prima Info Sarana. All Rights Reserved. | About CHIP | Privacy Policy