21 April 2016 | 20884 view(s)
The Spirit of Kartini: Enam Srikandi TI di Indonesia

Penulis : Nur Hasanah

Yessy D. Yosetya, Director Chief Service Management Officer XL: Teladani Ki Hajar Dewantara

Yessi D. Yosetya, Director Chief Service Management XL Axiata memiliki kemampuan teknikal mendalam dan kini dipercaya menduduki jabatan di jajaran direktur kepala di XL. Baginya, apa yang dilakukan Kartini di zamannya itu luar biasa. “Perempuan menuntut mau sekolah bukan hal yang lumrah saat itu,” tuturnya. Untuk itu ia berpesan, “Jangan sia-siakan apa yang sudah dimulai Kartini. Kalau ada kesempatan maju, jalanin aja. There’s no such thing pekerjaan yang bedain laki-laki dan perempuan. Yang penting punya passion untuk terus maju dan berkarya,” paparnya.

Sebelas tahun setia meniti karir di operator telekomunikasi XL Axiata, karir Yessy D. Yosetya terus menanjak. Perlahan tapi pasti, jabatannya terus naik hingga sekarang menduduki Director Service Management. Jabatan ini satu tingkat di bawah jabatan CEO yang juga dipegang oleh seorang wanita di XL, Dian Siswarini.

Yessi D. Yosetya, Director Chief Service Management XL Axiata : “Jangan sia-siakan apa yang sudah dimulai Kartini. Kalau ada kesempatan maju, jalanin aja. There’s no such thing pekerjaan yang bedain laki-laki dan perempuan. Yang penting punya passion untuk terus maju dan berkarya”


Sebagai sarjana teknik elektro, Universitas Satya Wacana, Salatiga, Yessie memang mengaku punya passion di dunia teknis dan matematika. “Dari 260 mahasiswa, hanya 10 yang perempuan,” jelasnya. Lulus kuliah, ia setia pada profesi terkait elektro, dan memilih karir di dunia telekomunikasi. Mulai dari Lucent, hingga Huawei, hingga masuk ke divisi teknikal di XL, semua pekerjaannya itu sangat kental dengan unsur teknis. “Sebelumnya di vendor equipment telco, yang jualan perangkatnya. Sekarang di operator yang pakai equipment-nya,” jelasnya.


Tantangan terbesarnya justru ketika ia diminta untuk  menangani bisnis pada 2011. Yessy yang sangat dalam pengetahuan teknikalnya, harus masuk ke dunia baru yang sama sekali asing. “Saat itu saya dikasih challenge untuk membangun bisnis baru, digital money (XL Tunai). Dari teknikal saya tiba-tiba harus membangun produk, harus bisa memasarkan, membangun ekosistem, dst. Jadi itu pengalaman yang paling berharga untuk saya,” jelasnya.


Perubahan memang tak pernah mudah. “Setelah delapan tahun di IT, pasti kita sudah punya comfort zone sendiri. Kalau ada masalah apa, kita langsung tau solusinya.”

Terus Belajar
Yessi mengakui bahwa sebagai pemimpin, belajar tak pernah berhenti. “Masuk dunia baru, tentu harus bener-bener punya keterbukaan. Dalam arti kita ngga boleh berhenti belajar, ngga boleh malu bertanya. Ya, mungkin ada pertanyaan-pertanyaan bodoh. Kok ginian aja ditanyain? Tapi namanya ngga tahu, ya tanyain aja.”

Keterbukaan hati dan pikiran menurutnya sangat diperlukan di masa-masa ini untuk bisa menerima masukan. Selama kepemimpinannya, Yessi bangga layanan XL Tunai berhasil menambah hingga satu juta subscriber. Dari situ, ia kemudian dipercaya juga untuk mengembangkan portfolio lain. Seperti digital advertising, digital entertainment, IoT, dan layanan cloud business. “Baru 2015 kemarin saya diminta kembali untuk memimpin dunia teknis, untuk pimpin network dan TI di XL,” ujarnya. Nah, pada Maret 2016 lalu, Yessi kembali dipromosikan di divisi yang sama. Hanya saja jabatannya menjadi Direktur Independen atau Chief Director untuk Service Management XL Axiata.

Tanggung jawab pada jabatan baru ini, untuk membawa tim jaringan dan IT di XL sebagai service enabler bagi strategi perusahaan. Artinya, Yessi mesti memimpin tim yang menyediakan jaringan dan layanan TI yang tepat untuk penuhi strategi perusahaan. Salah satu misi Yessi adalah untuk membawa efisiensi pada jaringan dan TI perusahaan, berbekal pengalamannya di divisi digital.
“Jadi seringkali yang saya tanya ke tim apakah yang kita lakukan sekarang sudah cukup efisien? Akankah kita punya proses baru? .manual proses yang harus diotomatisasi? Pola pikir kita harus keep on challenging our self,” tuturnya.

Prioritas
Sebagai wanita karir dan ibu rumah tangga, Yessi mengakui bahwa terjadi konflik kepentingan. “Saya ambilnya pragmatis aja. Adalah bohong kalau bilang saya balance antara kerjaan dan rumah tangga. Pasti ada sacrifice. Sebab, saya kerja lebih dari 8 jam sehari.”

Untuk menyiasati tanggung jawab yang berat di kantor, dan tanggung jawab di rumah, resep jitu Yessi adalah don’t sweat the small stuff. Jangan permasalahkan hal-hal kecil. “Jangan nambah stress yang ngga perlu,” tuturnya. Tips lain adalah prioritas. Yessi biasanya menetapkan dulu tujuan di setiap harinya. Pilah yang penting dan darurat. Kerja sebagai tim, ketika ada anggota yang melakukan kesalahan jangan berlama-lama menyalahkan, segera bangkit dan perbaiki.

Soal tips kepemimpinan, Yessi menilai hal itu sudah disarikan dengan baik oleh Ki Hajar Dewantara. Ing ngarso sung tulodo (didepan memberi teladan), ing madya mangunkarso (ditengah memberi semanagat), dan Tut wuri handayani (di belakang memberi dukungan). “Jadi pemimpin memang harus hands-on, turun lapangan, ngga bisa cuma di balik meja.”

 


Editor : Kama Adritya

The Spirit of Kartini: Enam Srikandi TI di Indonesia
page 2 of 7
View as A Single Page
Juliana Chen, Country Product Leades Asus Indonesia: Menjawab Tantangan
You may also like:

EPSON EB-25000U Proyektor Seharga Rp 1,3 Miliar

OPPO F1 Termasuk Dalam 3 Besar Paling Laris, OPPO Yakin F1s Jadi No.1

Hey Developer Android, Ini yang Bisa Kamu Dapat Dari Google

Pokemon Go Resmi Tersedia di Play Store Indonesia
comments powered by Disqus
BBM Widget

PIN : C001D0134

Most Popular
Hot Reviews
Publication
© 2012-2017 CHIP ONLINE. PT Prima Info Sarana. All Rights Reserved. | About CHIP | Privacy Policy