21 April 2016 | 20883 view(s)
The Spirit of Kartini: Enam Srikandi TI di Indonesia

Penulis : Nur Hasanah

Kiri ke kanan :  Diajeng Lestari, CEO Hijup; Geraldine Oetama. Direktur Skystar Venture; Marcella Einsteins, CEO Indonesia Flight; Nuniek Tirta Sari, founder #StartupLokal; Yessi D. Yosetya, Director Chief Service Management XL Axiata; Juliana Chen, Country Product Leader Asus Indonesia,

CHIP.co.id - Perempuan dan teknologi adalah dua kuadran yang rasanya punya irisan yang tipis. Sebab, dunia teknik dan teknologi informasi (TI)ini rata-rata di dominasi kaum adam. Namun, enam perempuan yang CHIP ulas kali ini bisa jadi segelintir contoh wanita sukses atau punya kiprah tersendiri di dunia TI. Mereka berkiprah di dunia telekomunikasi, vendor TI, startup e-commerce dan travel, juga penggerak komunitas.

Keenamnya adalah Yessi D. Yosetya, Director Chief Service Management XL Axiata, Juliana Chen, Country Product Leader Asus Indonesia, Diajeng Lestari, CEO Hijup, Marcella Einsteins, CEO Indonesia Flight, Geraldine Oetama, Direktur Skystar Venture, dan Nuniek Tirta Sari, salah satu founder komunitas #StartupLokal di Jakarta.

Yessi punya kemampuan teknikal mendalam dan kini dipercaya menduduki jabatan di jajaran direktur kepala di XL. Baginya, apa yang dilakukan Kartini di zamannya itu luar biasa. “Perempuan menuntut mau sekolah bukan hal yang lumrah saat itu,” tuturnya. Untuk itu ia berpesan, “Jangan sia-siakan apa yang sudah dimulai Kartini. Kalau ada kesempatan maju, jalanin aja. There’s no such thing pekerjaan yang bedain laki-laki dan perempuan. Yang penting punya passion untuk terus maju dan berkarya,” paparnya.

Geraldine juga mengingatkan agar perempuan Indonesia harus punya pikiran terbuka, fokus, dan jangan takut untuk gagal. “Dari kegagalan kamu bisa belajar banyak dan tumbuh dari sana,” jelasnya.

Sementara menurut Juliana, “Banyak yang give-up jadi carrier woman setelah punya anak, kita bilang jangan. Saya sendiri baru punya anak kembar,” jelasnya. Perempuan Indonesia menurut Nuniek juga sebaiknya mengoptimalkan potensi diri yang ada. Sementara Marcella, ingin mendedikasikan karyanya di dunia TI untuk bisa memudahkan hidup masyarakat. Ia juga mengajak perempuan Indonesia untuk tidak sekedar jadi pengguna teknologi, Tapi juga aktif jadi pelaku di dalamnya.

Serupa dengan Marcella, Diajeng juga mengajak perempuan Indonesia untuk turut mejadi entrepreneur. “Jika lebih banyak perempuan menjadi entrepreneur, mungkin akan terjadi lebih banyak perubahan sosial lainnya,” ujarnya.

Nah, berikut profil keenam srikandi TI ini.
 


Editor : Kama Adritya


Yessy D. Yosetya, Director Chief Service Management Officer XL: Teladani Ki Hajar Dewantara

Yessi D. Yosetya, Director Chief Service Management XL Axiata memiliki kemampuan teknikal mendalam dan kini dipercaya menduduki jabatan di jajaran direktur kepala di XL. Baginya, apa yang dilakukan Kartini di zamannya itu luar biasa. “Perempuan menuntut mau sekolah bukan hal yang lumrah saat itu,” tuturnya. Untuk itu ia berpesan, “Jangan sia-siakan apa yang sudah dimulai Kartini. Kalau ada kesempatan maju, jalanin aja. There’s no such thing pekerjaan yang bedain laki-laki dan perempuan. Yang penting punya passion untuk terus maju dan berkarya,” paparnya.

Sebelas tahun setia meniti karir di operator telekomunikasi XL Axiata, karir Yessy D. Yosetya terus menanjak. Perlahan tapi pasti, jabatannya terus naik hingga sekarang menduduki Director Service Management. Jabatan ini satu tingkat di bawah jabatan CEO yang juga dipegang oleh seorang wanita di XL, Dian Siswarini.

Yessi D. Yosetya, Director Chief Service Management XL Axiata : “Jangan sia-siakan apa yang sudah dimulai Kartini. Kalau ada kesempatan maju, jalanin aja. There’s no such thing pekerjaan yang bedain laki-laki dan perempuan. Yang penting punya passion untuk terus maju dan berkarya”


Sebagai sarjana teknik elektro, Universitas Satya Wacana, Salatiga, Yessie memang mengaku punya passion di dunia teknis dan matematika. “Dari 260 mahasiswa, hanya 10 yang perempuan,” jelasnya. Lulus kuliah, ia setia pada profesi terkait elektro, dan memilih karir di dunia telekomunikasi. Mulai dari Lucent, hingga Huawei, hingga masuk ke divisi teknikal di XL, semua pekerjaannya itu sangat kental dengan unsur teknis. “Sebelumnya di vendor equipment telco, yang jualan perangkatnya. Sekarang di operator yang pakai equipment-nya,” jelasnya.


Tantangan terbesarnya justru ketika ia diminta untuk  menangani bisnis pada 2011. Yessy yang sangat dalam pengetahuan teknikalnya, harus masuk ke dunia baru yang sama sekali asing. “Saat itu saya dikasih challenge untuk membangun bisnis baru, digital money (XL Tunai). Dari teknikal saya tiba-tiba harus membangun produk, harus bisa memasarkan, membangun ekosistem, dst. Jadi itu pengalaman yang paling berharga untuk saya,” jelasnya.


Perubahan memang tak pernah mudah. “Setelah delapan tahun di IT, pasti kita sudah punya comfort zone sendiri. Kalau ada masalah apa, kita langsung tau solusinya.”

Terus Belajar
Yessi mengakui bahwa sebagai pemimpin, belajar tak pernah berhenti. “Masuk dunia baru, tentu harus bener-bener punya keterbukaan. Dalam arti kita ngga boleh berhenti belajar, ngga boleh malu bertanya. Ya, mungkin ada pertanyaan-pertanyaan bodoh. Kok ginian aja ditanyain? Tapi namanya ngga tahu, ya tanyain aja.”

Keterbukaan hati dan pikiran menurutnya sangat diperlukan di masa-masa ini untuk bisa menerima masukan. Selama kepemimpinannya, Yessi bangga layanan XL Tunai berhasil menambah hingga satu juta subscriber. Dari situ, ia kemudian dipercaya juga untuk mengembangkan portfolio lain. Seperti digital advertising, digital entertainment, IoT, dan layanan cloud business. “Baru 2015 kemarin saya diminta kembali untuk memimpin dunia teknis, untuk pimpin network dan TI di XL,” ujarnya. Nah, pada Maret 2016 lalu, Yessi kembali dipromosikan di divisi yang sama. Hanya saja jabatannya menjadi Direktur Independen atau Chief Director untuk Service Management XL Axiata.

Tanggung jawab pada jabatan baru ini, untuk membawa tim jaringan dan IT di XL sebagai service enabler bagi strategi perusahaan. Artinya, Yessi mesti memimpin tim yang menyediakan jaringan dan layanan TI yang tepat untuk penuhi strategi perusahaan. Salah satu misi Yessi adalah untuk membawa efisiensi pada jaringan dan TI perusahaan, berbekal pengalamannya di divisi digital.
“Jadi seringkali yang saya tanya ke tim apakah yang kita lakukan sekarang sudah cukup efisien? Akankah kita punya proses baru? .manual proses yang harus diotomatisasi? Pola pikir kita harus keep on challenging our self,” tuturnya.

Prioritas
Sebagai wanita karir dan ibu rumah tangga, Yessi mengakui bahwa terjadi konflik kepentingan. “Saya ambilnya pragmatis aja. Adalah bohong kalau bilang saya balance antara kerjaan dan rumah tangga. Pasti ada sacrifice. Sebab, saya kerja lebih dari 8 jam sehari.”

Untuk menyiasati tanggung jawab yang berat di kantor, dan tanggung jawab di rumah, resep jitu Yessi adalah don’t sweat the small stuff. Jangan permasalahkan hal-hal kecil. “Jangan nambah stress yang ngga perlu,” tuturnya. Tips lain adalah prioritas. Yessi biasanya menetapkan dulu tujuan di setiap harinya. Pilah yang penting dan darurat. Kerja sebagai tim, ketika ada anggota yang melakukan kesalahan jangan berlama-lama menyalahkan, segera bangkit dan perbaiki.

Soal tips kepemimpinan, Yessi menilai hal itu sudah disarikan dengan baik oleh Ki Hajar Dewantara. Ing ngarso sung tulodo (didepan memberi teladan), ing madya mangunkarso (ditengah memberi semanagat), dan Tut wuri handayani (di belakang memberi dukungan). “Jadi pemimpin memang harus hands-on, turun lapangan, ngga bisa cuma di balik meja.”

 




Juliana Chen, Country Product Leades Asus Indonesia: Menjawab Tantangan

Pekerja keras, penuh strategi, dan pantang menyerah. Inilah kesan yang tampak dari Juliana Chen, Country Product Leades Asus Indonesia. Kegigihan wanita ini berhasil mengangkat lini produk notebook Asus from zero to hero.

Saat Juliana masuk menjadi webadmin di Asus, notebook Asus hanya menguasai 1,5% pangsa pasar. Dengan pangsa pasar ini, Asus hanya masuk sepuluh besar pemain notebook di Indonesia. “Waktu saya diangkat jadi Business Development Manager, targetnya Asus harus jadi nomor satu dalam tiga tahun. Tentu saya mesti pegang omongan saya. Kita harus enerjik untuk mengejar target itu. Disitu kita bisa pengaruhi teman-teman kita,” tuturnya.

Suasana kekeluargaan di Asus, dipercaya Juliana menjadi salah satu faktor yang mengantarnya ke posisi ini. Sebab, berkat itulah Juliana bisa mengeksplorasi banyak hal selama ia bekerja di Asus. Suasana ini juga mendukung tiap inisiatif yang mampir ke benaknya. “Di Asus ngga peduli jabatan kamu apa, kalau punya masukan dan memang baik untuk kemajuan perusahaan, ya disampaikan saja. Kita terbuka untuk itu,” jelasnya lagi. Meski awalnya menjadi webmaster, namun ia terbuka untuk memberi pendapat dan menjalankan fungsi kerja lainnya.

Gigih
Sebagai karyawan kelima di Asus Indonesia, diakui Juliana saat itu Asus memang hanyalah tim kecil. Ia pun sudah mengecap berbagai pekerjaan di Asus, mulai menjadi humas, hingga membantu jualan ke toko-toko.

Melihat pasar notebook Asus yang sangat kecil, diterapkanlah strategi untuk mulai menggempur pasar Indonesia dari kota-kota di pinggiran. “Waktu itu, untuk gempur Jakarta dan kota besar lain susah. Makanya kita mulai dari kota-kota yang lebih kecil, luar Jawa. Makanya dulu Asus kuat di daerah. Baru setelah kuat dipinggir, kita mulai masuk ke tengah,” ujar wanita kelahiran Medan ini, memamparkan strateginya dulu untuk produk notebook Asus.

Untuk bisa menguasai kota-kota pinggiran ini, Juliana dan Rex Lee, ASUS South East Asia Regional Director, harus sering bepergian keluar kota dan menemui pemilik toko komputer satu persatu. “Saya bawa sendiri 20 laptop. Berat banget kan itu, saya masukin koper tersendiri,” kenang Juliana. “Kita ketokin satu-satu tokonya agar mau jualan Asus. Saya inget banget waktu itu di Yogyakarta. Kita nawarin ke lima toko. Ada yang bilang kamu bisa kasih saya apa? Produk sebelah kasih saya Rolex,” ceritanya lagi. “Waduh, padahal kita waktu itu ngga punya budget sama sekali. Akhirnya dari lima orang itu ada satu toko yang mau. Itu juga karena kasihan ama saya,” tambahnya lagi.

 

Sebagai pemimpin, Juliana juga mengaku tak segan turun tangan untuk ikut jualan ketika anak buahnya kesulitan.
Tapi keberhasilan Asus diyakini Juliana bukan semata karena mereka getol jualan. Tapi juga didukung tim penelitian dan pengembangan yang mau menerima masukan. Sebab, sembari bergerilya, Juliana selalu menggali masukan dari partner-partner-nya. Masukan itu yang lantas ia kirimkan ke Asus pusat di Taiwan. “Kita kan awalnya perusahaan motherboard. Jadi setiap masukan yang kita kasih bisa langsung dieksekusi ke produk.” jelasnya lagi.  

Kegigihannya berbuah keberhasilan. Kini ia dipercaya menjadi Country Product Group Leader Asus Indonesia. Dengan jabatan ini, ia memegang tak hanya produk notebook, tapi juga produk mobile (tablet, smartphone), PC desktop, PC All-in-One (AIO), dan aksesoris.

Nah, setelah berhasil menjawarai posisi puncak produk notebook di Indonesia. Kini pe-er lainnya adalah menjaga untuk tetap di posisi puncak. Strategi yang diterapkan menurut Juliana adalah dengan menjaga kepuasan pelanggan. “Jadi kita punya forum pengguna Asus. Diharapkan dari situ bisa kasi solusi sebelum produk yang bermasalah dikirim ke sevice center.
Untuk produk smartphone, Juliana juga punya ambisius besar untuk mengalahkan posisi Samsung. Saat ini, Zenfone telah menempati posisi kedua di Indonesia.

Tiga hal yang  digaris bawahi Juliana, hingga ia bisa meniti karir hingga posisinya saat ini adalah positif thinking, proaktif, dan “harus bisa hands on semua,” jelasnya. Sebagai pemimpin, menurutnya juga penting untuk membuat anak buah tidak sekadar bekerja. “Tapi membuat mereka juga berinisiatif. Salah itu tidak apa.”




Diajeng Lestari, CEO HijUp: Be The Best Version Of Our Self

Sebagai sarjana sosial politik dan seorang muslim, Diajeng Lestari sepakat dengan ajaran Nabi Muhammad dan cita-cita para pendiri bangsa.  Cita-cita untuk mewujudkan keadilan dan makmur menurut Diajeng kini dilakukannya lewat bidang ekonomi, khususnya e-commerce.

“Kalau politik kan memang bisa memengaruhi kemakmuran masyarakat dengan kebijakan. Tapi saya pikir itu juga bisa dilakukan dengan membangun ekonomi dengan berbisnis,” terang perempuan lulusan Universitas Indonesia itu. “Saat ini tantangannya adalah bagaimana  caranya untuk bisa mencapai kemerdekaan ekonomi,” tambahnya lagi. Salah satu sektor yang menurutnya bisa jadi potensi adalah ekonomi kreatif. Sebab, sektor ini terbukti tahan banting ketika terjadi krisis. Ekonomi kreatif pula yang dipercaya Diajeng menjadi bisnis yang bisa memberi nilai tambah. Nilai tambah bagi bahan mentah yang banyak dimiliki Indonesia. Sehingga, negara-negara Amerika dan Eropa menurutnya sekarang berlomba mengembangkan industri kreatif mereka.  “Berbisnis beda dengan berdagang. Dagang cuma menjual yang ada. Bisnis menambah nilai. Misal dari kayu, dibuat apa untuk menambah nilai jualnya.”

HijUp adalah salah satu portal e-commerce busana muslim pertama di Indonesia. HijUp menghubungkan para perancang busana muslim dengan konsumen. Diajeng berharap dengan berdirinya HijUp bisa membantu pelaku UKM di Indonesia. Terutama untuk mempercepat terciptanya nilai ekonomi tersebut. “Kita sudah punya semua, designer banyak, raw material ada, pasar besar. Jadi, dari hulu ke hilir kita harusnya kuat di industri fashion, terutama fashion muslim,” ujarnya beralasan.


Lewat HijUp Diajeng mengaku kini berhasil merangkul dua ratus perancang busana muslim. Dibanding ketika awal HijUp berdiri yang hanya memayungi 14 perancang saja. Jika dihitung nilai bisnisnya, pertambahannya diklaim tumbuh lima kali lipat dalam setahun. Dengan demikian Diajeng yakin HijUp sedikitnya sudah mampu berkontribusi.

Diajeng Lestari, CEO HijUp

Tangan Tuhan

Inspirasi membuat HijUp diaku Diajeng berawal ketika ia mulai berhijab, dan menyadari kalau pilihan berbusana muslim yang tepat saat itu terbatas. Banyak berinteraksi dengan Ahmad Zaki (yang kini menjadi suaminya) yang telah menjalankan Bukalapak, menguatkan keinginan Diajeng untuk keluar dari pekerjaannya dan memulai startupnya sendiri.
Berhasil membesarkan HijUp sejak 2011 hingga saat ini, bagi Diajeng tak lepas dari doa dan usaha. Diakuinya, salah satu faktor pendukung keberhasilan HijUp didukung dengan talenta karyawan yang ada di dalamnya.

Namun, menemukan talenta yang tepat seringkali bukan perkara  mudah. “Mencari karyawan sama kayak cari jodoh,” ujar Diajeng sambil tertawa kecil. “Cari jodoh kan kita berdoa juga minta ditunjukkan kepada Allah, apakah dia orang yang tepat buat kita. Mencari karyawan juga seperti itu,” tambahnya lagi. “Alhamdullilah kita selalu dapat yang terbaik.”

Dari Kecil
Berbisnis sedikit banyak ternyata sudah dilakoni sejak kecil. Saat masih duduk di bangku SD, ia sudah berjualan cincin mainan yang dibuat dari kabel telepon. Kabel telepon ini banyak yang tergeletak tak terpakai di rumahnya. Sebab, bisnis sang ayah yang saat itu berjualan telepon rumah tengah lesu. “Saya jual seribu. Untuk warna ungu yang lebih jarang saya jual lebih mahal,” paparnya.
Selain itu, sang ibu juga mendukung ketika ia mengutarakan niatnya untuk keluar pekerjaan, dan mendirikan usaha sendiri. “Ibu saya ternyata mendukung. Beliau bilang karena saya anaknya susah diatur, memang mendingan jadi bos saja,” ujarnya sembari terkekeh.

Menjadi entrepreneur atau pekerja, menurut Diajeng itu tergantung dari orangnya. “Semua balik ke hati, pilih yang nyaman, yang happy. Kita harus menjadi the best version of our self. Masing-masing orang kan punya tipikal berbeda,”
tuturnya lagi.

Dalam berbisnis, Diajeng termasuk hati-hati. “Burning rate kita ga setinggi e-commerce lain,” jelasnya. Meski awal mendirikan HijUp dilakukan secara bootstrap, namun menuerut Diajeng HijUp punya pemasukan sampingan dari iklan majalah yang ia buat.c
 




Nuniek Tirta Sari, Inisiator #StartupLokal: Dari Blogger Hingga Startup

Berdiri sejak 2010, #Startup Lokal masih konsisten menggelar meetup hingga saat ini. Komunitas Startuplokal sendiri adalah salah satu komunitas penggiat startup yang berbasis di Jakarta. Adalah Nuniek Tirtasari salah satu yang ada di balik terus berdetaknya denyut nadi komunitas ini.

Mengumpulkan dan connecting people, memang diaku Nuniek menjadi passion-nya sejak lama. Kiprah Nuniek dalam komunitas teknologi dimulai pada 2002. Saat itu blogging tengah jadi tren. Maka Nuniek membuat komunitas BlogBugs untuk kumpul-kumpul para blogger yang sudah saling kenal lewat tulisan masing-masing. Komunitas ini menjadi salah satu komunitas blogger pertama dan terbesar di Indonesia.

Tahun 2010, tak banyak perusahaan teknologi pemula yang muncul di Indonesia. “Natali dan kawan-kawan waktu itu sudah bikin Urbanesia. Tapi kita ngga tahu kalau itu namanya startup,” ujarnya seraya tersenyum. Istilah ini didapat setelah mereka banyak mendapat referensi dari Amerika Serikat.

Nuniek Tirtasari, Natali Ardianto, Sanny Gadaffi, dan Rama Mamuaya pun lantas berinisiatif untuk mengumpulkan para penggiat startup teknologi. Disebarkanlah niatan kumpul-kumpul ini lewat Twitter. “Waktu itu nyebarin beritanya kita pakai hashtag (#) StartupLokal. Makanya sampai sekarang ada lambang hashtag di depan nama StartupLokal,” terangnya. “Ternyata yang ikutan cukup banyak, terkumpul sekitar 30 orang waktu itu,” kenangnya.

Pembentukan komunitas ini tentu saja sebagai jejaring untuk menimba ilmu, dan berbagi pengalaman para penggiat startup teknologi. Mereka biasanya mengadakan meetup yang diisi dengan materi tertentu. Meetup ini mengundang mentor yang akan berbagi materi dan pengalaman mereka.

Selama enam tahun berjalan, StartupLokal tetap setia menggelar talkshow dan mengembangkan jejaring anggotanya. Sebab, tak jarang juga para penggiat startup meminta saran dan jejaring agar terhubung dengan mentor dan investor yang sekiranya tepat.

 

Nuniek Tirta Sari, Inisiator #StartupLokal

Apprentise
“Membuat komunitas baru lebih mudah, dari mempertahankan kegiatan komunitas yang sudah ada,” aku Nuniek. Belajar dari BlogBugs, Nuniek menyadari bahwa perlu ada regenerasi dalam komunitas. “Sehingga ada yang bisa menjalankan fungsi yang kita lakukan ketika kita tidak ada,” jelasnya. Untuk itu, di #StartupLokal, Nuniek menyiapkan tiga orang apprentise untuk turut menggerakkan komunitas ini.
Saat ini #StartupLokal digawangi oleh Nuniek, Natali, dan Aulia “Ollie” Halimatussadiah. Setelah Sanny dan Rama tidak lagi turut aktif  di komunitas ini. Tiga orang apprentise inilah yang membantu menjaga fungsi dari tiga orang seniornya, seperti dijelaskan Nuniek.

Buka Kesempatan
Mengurus komunitas ini selama enam tahun terakhir, ternyata membuka kesempatan bagi Nuniek. Tahun awal #StartupLokal berdiri, para founder-nya diundang ke Irlandia. Di sana mereka diperkenalkan dengan inkubator startup. Tidak seperti sekarang, saat itu di Indonesia belum ada inisiatif inkubator. Namun di Irlandia, perusahaan teknologi yang dikembangkan bukan sekadar teknologi TI saja, tapi teknologi terapan lainnya.
Perjalanan lainnya ke Amerika Serikat. Menurut Nuniek, satu hal yang dipelajari dari kunjungannya adalah konsep Pentahelix. Konsep ini butuh kolaborasi lintas sektor. Pemerintah sebagai regulator, akademik sebagai konseptor, bisnis sebagai enabler, media sebagai katalisator, komunitas sebagai akselerator, dan publik sebagai consumer.
Menurutnya yang paling berkesan adalah kunjungannya ke Las Vegas. Di negara bagian yang bebas pajak ini, cukup banyak gedung yang disediakan untuk coworking space. “Kebanyakan disewakan gratis atau dengan harga sewa yang murah sekali bagi startup,” jelasnya.

Pemerintah di sana juga memudahkan proses pembuatan perusahaan. Proses perizinannya hanya dalam hitungan hari. Sebab, pertimbangan pemerintah AS, ketika perusahaan tersebut berkembang juga  akan menyumbang GDP negara.
Baru-baru ini, Nuniek kembali mendapat undangan untuk mengenal industri startup teknologi Korea Selatan. Pemerintah Korea Selatan juga antusias dengan perusahaan teknologi di negaranya. Untuk mengembangkan industri ini, pemerintah Korsel menyiapkan tim kehumasan tersendiri. Di mana hal serupa juga dilakukan untuk memajukan industri film, dan hiburan yang sudah lebih dulu meledak.
 




Marcella Einstein, CEO Indonesia Flight: Dari Gamer Jadi Entrepreneur

“Main game setiap hari tidak dilarang oleh orang tua. Asalkan di sekolah tetap rangking 1,” demikian celoteh perempuan kelahiran Belitung ini. “Rekor main DOTA (Warcraft) tiga hari ngga lihat matahari,” ujarnya sambil tergelak. Selain DOTA, wanita yang akrab disapa Cella ini juga memainkan Ragnarok Online, Seal Online, AyoDance, Point Blank, Counter Strike, Yulgang, Perfect World, hingga Heroes of Newerth (HON).

Kegemarannya bermain game, mulai rutin dilakukan sejak duduk di bangku SMA di Surabaya. “Kegiatan rutin biasanya, sekolah-ngajar les- ngegame,” tuturnya. Rutinitas ini biasa dilakukan hingga kuliah. Rajin nge-game tapi tetap berprestasi, dirasa mudah saja bagi Cella. “Cukup memerhatikan waktu guru menerangkan aja sih,” ucapnya enteng.

Marcella Einstein, CEO Indonesia Flight


Memilih Startup
Pilihan Cella untuk masuk Tiket.com yang pada 2012 masih startup, menurutnya tak salah. Di sinilah ia banyak belajar. Mulai dari Quality Assurance (QA) hasil coding, mengurus social media, membuat rilus untuk media, mengurus komersial tiket.com, semua pernah dilakoninya.

Kerja di startup juga membuatnya bisa berkontribusi banyak. “Saya bisa bikin divisi baru yang sebelumnya tidak ada. Misalnya divisi fraud, sekarang sudah bagus banget fraud-nya tiket.com. jadi bukan hanya programer. “Mentor saya di commercial kasih banyak kerjaan. Ngga cuma commercial-nya aja tapi finance-nya juga. Jadi ada system fraud, kartu kredit yang fraud. Saya belajar juga disitu,” ujarnya.

Cella juga membuat divisi baru, yakni developer support. Divisi ini, yang menjembatani antara Customer Service dan developer. “Kenapa perlu jembatan? Kalau CS bingung ditanya ama customer ada error, CS ngga tau error-nya kenapa. CS akan bertanya ke dev support. Dev support analisa dulu, kalau ngga bisa baru ke developer. Tapi kalau bisa selesai di dev support, ngga usah sampai ke developer,” tambah Cella.

Indonesia Flight
Menurut Cella, bekal yang didapatnya selama bekerja tiga tahun di Tiket.com itu yang digunakan untuk membangun Indonesia Flight. “Jadi kalau dibilang programer doang bisa jalanin bisnis, kurang banget ilmunya,” jelasnya. Meski demikian, ia tetap merasa butuh mentor untuk menjalankan bisnisnya. Beruntung  angel investor yang menaunginya banyak memberi dasar bisnis yang baik. “Saya diajari banyak hal dalam berbisnis. Katanya kalau mau berbisnis, otak ibu-ibu rumah tangganya dibuang dulu,” ujarnya seraya terkekeh. “Soalnya saya kan mikirnya kita punya uangnya berapa harus dihemat-hemat. Padahal di bisnis ngga bisa gitu.”

Indonesia Flight sendiri awalnya adalah proyek uji coba yang dibuat Cella saat masih bekerja di Tiket.com. Aplikasi pemesanam tiket pesawat ini, dikembangkan Cella dan rekannya pada 2012. “Itu apps lokal pertama yang bisa booking dan bayar. Dulu sudah ada app pencarian tiket pesawat juga tapi mereka cuma metasearch,” terangnya. Aplikasi ini berhasil dibuat dalam dua minggu saja.

Tanpa marketing, respon pengguna apliaksi ini ternyata cukup bagus. “Seminggu ada yang beli seneng banget meski app seadanya. Setahun berjalan naiknya bisa 100-200 kali lipat, kita kaget. Feedback customer juga banyak,” paparnya. Seringkali mereka coding hingga jam 3 pagi demi memperbaiki aplikasinya dan memuaskan pengguna.

Sebelumnya Cella juga sempat bertemu dengan  investor asing. “Mereka lihatnya beda ama startup lain. Karena sudah ada user dan revenue, tapi tim kecil banget. Kini Cella mengklaim Indonesia Flight sudah memperoleh omset hingga 30 miliar dalam sebulan.

Sebagai Online Travel Agency (OTA) Indonesia Flight berafiliasi dengan Tiket.com, serta beberapa maskapai penerbangan. Satu yang menarik, aplikasi ini tak jarang memberikan flash sale. “Selama dua jam diskonnya langsung 50ribu. Semua harga minus 50ribu,” katanya. Strategi ini menurutnya cukup berhasil menggaet pengguna Indonesia yang sangat memerhatikan harga.




Geraldine Oetama, Direktur Skystar Venture: Bangun Enterpreneur Lokal

Pemodal ventura alias Venture Capital (VC) mulai berkembang di tanah air. Jika dulu lebih banyak pemain asing di ranah ini, sekarang pemain lokal pun mulai ikut meramaikan. Sebagai Direktur salah satu VC perempuan, Geraldine mengaku memang tak banyak juga perempuan yang terlibat di industri ini. “Kalau lagi conference atau apa, memang hanya sedikit perempuan,” jelasnya.

Tiga tahun sudah Geraldine berkecimpung di bisnis pemodal ventura lewat Skystar Capital. VC ini milik grup Kompas Gramedia (KG). Menurutnya, meski pemodal ventura lokal sudah mulai bermunculan, tapi kantongnya tak sedalam para pemodal ventura asing. “Investor lokal biasanya fokus ditahap awal. Stage berikutnya kerjasama dengan VC asing. Sebab bagi VC asing, terlalu berisiko untuk investasi di tahap seed funding,” tuturnya.

Berdirinya Skystar Capital tak lepas dari keinginan KG untuk melakukan keragaman bisnis didalam perusahaan. Entrepreneur dinilai sebagai salah satu lahan yang menjanjikan. Lantaran jumlah enterpreneur di Indonesia terbilang masih sedikit.

 

Geraldine Oetama, Direktur Skystar Venture



Angel Investor
Skystar Capital mengelola dana pribadi. Sehingga, tekanan untuk segera mengembalikan modal rendah. “Kalau yang lain ada yang fundraise dari eksternal. Mereka ada timeline, kalau fund-nya tidak dipakai dalam tiga tahun dananya mesti dibalikin,” ujarnya mencontohkan. Sehingga dalam mempertimbangkan investasi, Skystar lebih konservatif. “Targetnya invest di startup berkualitas, untuk long term juga.“

Geraldine juga melihat, bahwa ekosistem startup, angel investor punya peran penting. “Untuk bantu startup di tahap awal. Bantu lifecycle,” tuturnya. Ia juga menyarankan kepada startup agar tidak langsung mencari pendanaan dari VC di tahap awal. Melainkan lewat inkubator atau akselerator terlebih dulu.

Untuk kriteria startup yang akan diinvestasi, menurut Geraldine terdapat beberapa kriteria. “Harus sudah jalan 1-2 tahun, tim harus sudah full time, background co-foundeer sudah pengalaman bikin startup sebelumnya atau punya industrial expertice.”

Selain itu, Skystar juga mempertimbangkan model bisnis yang dikembangkan. Jika produk punya bisnis serupa di luar, maka akan di-benchmark terlebih dulu. “Apakah ada barrier to entry juga. Tapi barrier to entry startup biasanya rendah. Jadi ujungnya soal speed dan eksekusi.”

Waktu yang tepat untuk meluncurkan produk juga jadi pertimbangan penting. Apakah teknologi yang ditawarkan terlalu dini untuk pasar yang disasar? Sebab, ia mencontohkan investasi KG lewat Scoop. “Scoop produknya bagus. Tapi market Indonesia belum siap untuk baca dari tablet, smartphone, kebanyakan masih suka baca buku. Tapi bukan berarti pasarnya tidak ada. Hanya kita harus menunggu.”

Sayangnya, aturan berbisnis di negara kita masih kurang ramah. Sehingga, ketika startup mulai besar, banyak yang memilih untuk memindahkan perusahaannya ke negara lain, Singapura misalnya. Mereka keberatan dari segi pajak serta VC asing yang juga tak nyaman untuk investasi langsung ke PT di Indonesia. Untuk itu, ia mengusulkan agar pemerintah bisa memperlunak aturannya.

Industri Teknologi
Berinvestasi di industri teknologi, menurutnya tidak seperti bisnis konvensional. Profit bukan yang dilihat diawal, tapi bagaimana pertumbuhan dan penetrasinya. Untuk menilai valuasi atau nilai perusahaan startup, menurut Geraldine ada beberapa cara. “Banyak metode, bisa price per slaes, price per value, kita benchmarking juga dengan startup luar.”

Fenomena yang banyak terjadi di kalangan industri VC adalah over valuation dan perlambatan investasi. Valuasi berlebihan karena buruknya penilaian VC terhadap “harga” startup. Sementara perlambatan investasi terjadi karena beberapa perusahaan teknologi yang IPO tahun lalu, seperti Uber dan Foursquare yang ternyata mengalami downvalue.

Masalahnya menurut Geraldine, ketika perusahaan sudah IPO maka masyarakat kembali melihat fundamentalnya, apakah perusahaan ini sudah profit atau tidak. Silicon Valley di Indonesia, menurut Geraldine harus tumbuh organik, bukan dirancang.



You may also like:

EPSON EB-25000U Proyektor Seharga Rp 1,3 Miliar

OPPO F1 Termasuk Dalam 3 Besar Paling Laris, OPPO Yakin F1s Jadi No.1

Hey Developer Android, Ini yang Bisa Kamu Dapat Dari Google

Pokemon Go Resmi Tersedia di Play Store Indonesia
comments powered by Disqus
BBM Widget

PIN : C001D0134

Most Popular
Hot Reviews
Publication
© 2012-2017 CHIP ONLINE. PT Prima Info Sarana. All Rights Reserved. | About CHIP | Privacy Policy