02 September 2016 | 3158 view(s)
Bangun Infrastruktur, Sebelum Mimpi Bangun Smartcity

Penulis : Eka Santhika

CHIP.co.id - Meski isu smart city tengah menjadi isu hangat di kalangan pemerintah kota/kabupaten. Namun, hambatan infrastruktur dan dana membuat terwujudnya layanan ini masih jauh panggang dari api.

Membangun smartcity tidak seperti membalik telapak tangan. Menurut Mei Zhonghua, President Director PT ZTE Indonesia perlu waktu untuk membangun smart city. Dua tantangan utama bagi kota/kabupaten di Indonesia adalah kurangnya dukungan infrastruktur dan dana. Sebab, menurutnya definisi  smart dalam smart city idealnya merujuk pada kota yang bisa merespon secara realtime keadaan kota dan penduduknya.

Untuk menciptakan kota yang demikian, menurut Zhonghua maka tingkat kepadatan jaringan internet sangat vi-tal. "Ketersediaan backbone dan akses internet memegang peranan penting. Kepadatan fiber optik juga harus bagus. Nah, (masalahnya) pembangunan infrastruktur ini memakan waktu lama," tuturnya. Ia lantas membandingkan kepadatan fiber optik Tokyo yang jauh lebih padat ketimbang Jakarta sekalipun. Berdasarkan observasinya pada beberapa kota di Indonesia, ada tiga masalah utama yang  bisa digarap dengan proyek smartcity, yaitu transportasi, pendidikan, dan keamanan publik.

Mengapa ketersediaan jaringan penting? Sebab, diatas jaringan inilah sensor-sensor untuk memantau kota akan dipasang. Sensor inilah yang akan jadi pengganti petugas manusia dilapangan. Ia akan mata, kulit, dan telinga, pemerintah kota. CCTV menggantikan mata petugas pengawas, baik kondisi lalu lintas maupun keamanan lingkungan warga.  Sensor suhu, kelembaban, tingkat polusi, atau pengukur intensitas cahaya matahari, menjadi "kulit" untuk bisa memahami kondisi udara dan lingkungan kota. Sementara ketersediaan aplikasi pengaduan masalah kota misalnya, menjadi pengganti "telinga" pemerintah kota.

 

Trunking

Ketersediaan jaringan bisa diibaratkan jaringan sistem syaraf pada tubuh kita. Ketika ada satu bagian kulit yang tidak terjangkau sistem syaraf, maka ancaman pada bagian itu tentu tak bisa terdeteksi dan kita tak bisa segera merespon untuk mengenyahkan atau mencegah ancaman itu. Misalnya, ketika CCTV mendeteksi ada kecelakaan di suatu ruas jalan misalnya, pusat data bisa segera berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan ambulans untuk segera mengamankan lokasi. Ini serupa halnya dengan kita segera memukul ketika kulit digigit nyamuk misalnya.

Untuk menciptakan sistem responsif seperti ini, ZTE memperkenalkan solusi Trunking dalam gelaran Bandung ICT Expo 2015 di Convention Hall Universitas Telkom. Dengan solusi ini, ZTE memberikan alat khusus bagi petugas kepolisian. Sepintas, alat yang serupa handy talkie ini fungsinya memang tak beda dari radio komunikasi yang biasa ada di mobil petugas. Hanya saja kemajuan teknologi informasi membuat perangkat ini bisa mendukung jaringan LTE. Kecepatan transmisinya mencapai 100Mbps downlink dan 50Mbps uplink. Sehingga, komunikasi bisa dilakukan lebih intensif dengan mengirimkan foto, video, atau peta untuk detil lokasi misalnya.

Muncul pertanyaan mengapa tidak membekali para petugas dengan smartphone ketimbang membeli perangkat ini? Menurut ZTE perangkat ini dibangun diatas jaringan radio tersendiri, tidak menggunakan jaringan radio komersil milik operator. Sehingga, penggunaannya tentu bebas biaya data. Hanya saja, diperlukan izin jaringan dari Kemenkominfo untuk penyelenggaraannya, seperti dituturkan Rendy Diodianto Hendrawan, Technical Sales Smartcity, PT ZTE Indonesia. Jika menggunakan smartphone, tentu perlu membayar biaya data. Keuntungannya, hemat biaya operasional, tapi tentu perlu dana untuk membangun sistem diawal.

Dalam rilisnya, dijelaskan bahwa trunking ZTE ini mampu mendukung panggilan telepon, pesan pendek, dan interkom. Karena dapat berjalan di atas jaringan kecepatan tinggi, maka layanan ini juga bisa mendukung pengiriman multimedia dispatch, seperti transmisi video HD, konferensi video, mobile office, mengirimkan keterangan posisi kendaraan dan personal.

Untuk keamanan dalam jaringan komunikasi, ZTE juga diantaranya menyediakan enkripsi over-the-air (OTA), virtual private networking (VPN), dan otentifikasi dua arah, access authentication, end-to-end encryption.


Editor : Nur Hasanah

page 1 of 4
View as A Single Page
Data Center
You may also like:

Tiga Hal Penting Kala Bangun Smart City

Google I/O 2016: Google Home, Speaker Sekaligus Asisten Rumah Tangga

Kompetisi "IBM Linux Challenge 2016" Wujudkan Jakarta Smart City

Smartfren Generasi 4G, dari Roadshow Hingga Dijemput Giring
comments powered by Disqus
BBM Widget

PIN : C001D0134

Most Popular
Hot Reviews
Publication
© 2012-2017 CHIP ONLINE. PT Prima Info Sarana. All Rights Reserved. | About CHIP | Privacy Policy