You are Here : Home > Review > Games
19 July 2016 | 5378 view(s)
Star Trek Beyond, Dari Trekkie Untuk Semua Penggemar Film

Penulis : Kama Adritya

CHIP.co.id - Space.. The Final Frontier.. Kata-kata pembuka yang begitu ikonik dari semua cerita film Star Trek, baik serial televisinya maupun film bioskopnya. Setelah JJ. Abrams memperkenalkan kembali dunia yang diciptakan oleh Gene Roddenbery ini kepada generasi Millenials, dunia Star Trek menjadi lebih dikenal oleh khalayak ramai. Jika sebelumnya dikatakan bahwa penggemar Star Trek adalah geek atau nerds karena sangat sains fiksi sekali, sekarang Star Trek menjadi lebih mainstream.

Meski demikian, dua film yang disutradarai oleh JJ Abrams tersebut (Star Trek dan Star Trek Into The Darkness) tidak luput dari kelemahan seperti jalan cerita yang tidak konsisten dan plot hole yang mengganggu. Selain itu, bagi para penggemar Star Trek lama, kedua film itu seakan kehilangan jati diri Star Trek yang dimimpikan oleh Gene Roddenberry pada awalnya. Bahkan ada yang berani bilang bahwa Star Trek kini menjadi semakin mirip dengan Star Wars!

Hal tersebut diperkuat dengan hengkangnya JJ Abrams untuk pergi membuat film Star Wars, sehingga kedua film Star Trek darinya seolah seperti port folio agar dapat menyutradarai film Star Wars. Sebagai gantinya, sempat disebut nama Roberto Orci selaku penulis film Star Trek buatan JJ. Namun, akhirnya kursi sutradara jatuh pada Justin Lin yang terkenal lewat serial Fast and Furious-nya.

Bukan hanya di posisi sutradara saja yang mengalami perubahan secara internal, tapi posisi sebagai penulis ceritanya juga sempat berubah-ubah. Sampai akhirnya Simon Pegg yang turut bermain sebagai Scotty mengambil alih penulisan cerita. Simon yang mengaku sebagai fans berat dari Star Trek DAN Star Wars ini bisa dibilang cocok untuk menulis cerita untuk film Star Trek yang bertepatan dengan anniversary ke-50 tahun dari serial ini. Karena cerita di film Star Trek Beyond ini bisa dibilang kembali ke akar dari Star Trek yang merupakan visi Roddenberry.

Cerita pada Star Trek Beyond ini mengambil waktu dua setengah tahun setelah kejadian di film Star Trek Into The Darkness. Alkisah tugas 5 tahun USS Enterprise dalam menjelajahi galaksi sudah mendekati akhir. Sehingga timbul masalah konflik batin di dalam hati para petinggi Enterprise ini seperti sang kapten Kirk yang ditawari untuk menjadi Wakil Admiral di Starfleet, dan Spock yang ingin meneruskan kelangsungan hidup spesies Vulcan yang hampir punah. Namun, di masa-masa akhir ini Enterprise mendapatkan tugas untuk menjawab panggilan SOS yang berasal dari dalam sebuah nebula. Namun, di saat menjalankan misi ini, kru Enterprise harus berhadapan dengan musuh yang memiliki teknologi yang belum pernah dilihat oleh manusia dan berbalik dari si penolong menjadi si korban.

Cerita yang dibuat oleh Simon Pegg ini bisa dibilang mengambil unsur-unsur cerita dari berbagai macam cerita petualangan Star Trek yang pernah ada. Hasilnya membuat film ini seperti homage atau persembahan dari seorang Trekkie (fans Star Trek) untuk semua orang termasuk para Trekkies. Star Trek Beyond bisa memuaskan fans lama dan penonton mainstream sekaligus. Unsur petualangan dan kerjasama tim yang membuat Star Trek begitu terkenal di mata para penggemar film sains sangat terasa di film ini. Namun, unsur aksi yang disukai oleh generasi sekarang pun juga kental sehingga bisa memuaskan para penonton film mainstream pada umumnya.

Justin Lin yang dikenal lewat film aksi cepat tersebut sangat cocok untuk mengarahkan adegan-adegan aksi pada film ini. Suasana perang dan pertarungan satu lawan satu pun bisa ditampilkan dengan cukup baik pada film ini. Alur ceritanya juga terasa cukup nyaman tanpa dirasa terlalu diburu-buru atau terlalu lambat. Porsi adegan cerita kekuatan karakter dan adegan aksinya juga sangat seimbang.

Saat pembuatan film Star Trek Beyond ini, aktor Leonard Nimoy yang memerankan tokoh Spock di seri original dan Spock Prime di dua film buatan JJ sebelumnya ini meninggal dunia. Tokoh legendaris ini pun dihormati dan diintegrasikan ke dalam film ini. Penghormatan beliau pada film ini sangat menyentuh hati dan terasa sangat indah. Terutama bagi para Trekkie yang akan disuguhkan adegan cameo singkat pada film ini. Acungan jempol untuk para kru pembuat film ini yang memasukkan penghormatan indah ini. Sayangnya, saat film ini akan dirilis, kembali terjadi musibah yang mengakibatkan Anton Yelchin yang berperan sebagai Chekov meninggal dunia. Meninggalnya kedua aktor ini pun diberikan penghormatan di akhir film dengan kata-kata “For Leonard.. For Anton”.

Namun, film ini juga tidak lepas dari kekurangan. Terutama pada efek 3D-nya. Disarankan untuk tidak menontonnya pada versi 3D. Karena banyak adegan luar angkasa yang memiliki adegan gelap, maka dengan berkurangnya polaritas cahaya akibat kacamata 3D, adegan-adegan tersebut menjadi susah untuk diikuti. Framerate yang berkurang juga dapat mengurangi kenyamanan menonton. Bahkan, saat adegan penutup di tengah credit di mana ada adegan perjalanan antar bintang dapat sedikit membuat mual akibat framerate-nya.

Cerita tentang isu LGBT di mana Sulu dikatakan sebagai gay juga dirasa tidak perlu dan dipaksakan. Di film ini digambarkan bahwa Sulu memiliki anak yang diadopsi dan memiliki pasangan gay. Menurut Simon Pegg hal ini dimaksudkan sebagai penghormatan kepada George Takei si pemeran Sulu di seri original yang juga telah mengaku sebagai seoran gay. Namun, hal tersebut dirasa terlalu dipaksakan dan membuat kita sebagai penonton harus bijak jika ingin mengajak anak-anak yang belum cukup dewasa untuk memahami isu LGBT ini.

Satu catatan khusus untuk film ini adalah seorang karakter pada film ini yang bernama Manas. Manas diperankan oleh orang Indonesia bernama Joe Taslim. Setelah dirinya berhasil menembus Hollywood di film Fast 6 (Fast and Furious 6), Joe kembali diajak bermain film oleh Justin Lin yang menyutradarai film Fast 6 dan kini Star Trek Beyond. Hanya saja, mungkin Anda akan sulit mengenali Joe Taslim pada film ini. Karena dirinya bermain sebagai alien baru dan menggunakan efek make up yang sangat tebal, sehingga mukanya sukar untuk dikenali. Terlebih lagi, dirinya hanya berdialog dengan bahasa alien. Namun, hal ini sangat membanggakan karena ini artinya Indonesia kembali dilirik oleh Hollywood.

Akhir kata, film Star Trek Beyond sangat layak untuk ditonton. Baik oleh para penggemar film Star Trek maupun penggemar film pada umumnya.

 


Kelebihan
+ Cerita homage pada cerita Gene Roddenberry
+ Adegan aksi dan non aksi mengalir lancar
+ Penghormatan pada Leonard Nimoy yang menyentuh
Kekurangan
- Efek 3D yang mengganggu
- Isu LGBT yang dipaksakan
Spesifikasi

PEMAIN:

Chris Pine – James T. Kirk

Zachary Quinto – Spock

Karl Urban – Bones

Simon Pegg – Scotty

Anton Yelchin – Chekov

Zoe Saldana – Uhura

John Cho - Sulu

Idris Elba – Krall

Joe Taslim – Manas

Sofia Boutella - Jaylah

 

SUTRADARA:

Justin Lin

KOMPOSER MUSIK:

Michael Giacchino

PENULIS CERITA:

Simon Pegg dan Doug Jung

 

SPEC:

Durasi - 120 menit

Rating - Remaja (Ada adegan pertempuran, kematian, isu LGBT, dan perkelahian)

Suara: Dolby Atmos

Visual: 3D, non 3D

After Credit: Tidak Ada (Tapi ada adegan antar bintang saat credit)

You may also like:

The LEGO Batman Movie: Kandidat Film Superhero Terbaik

xXx: Return of Xander Cage, Kembalinya Franchise Seru

The Great Wall: Hasil Kolaborasi Dunia Barat dengan Timur

Rogue One: A Star Wars Story
comments powered by Disqus
BBM Widget

PIN : C001D0134

Publication
© 2012-2017 CHIP ONLINE. PT Prima Info Sarana. All Rights Reserved. | About CHIP | Privacy Policy